
Bosan! Kata yang muncul pertama kali di benak Wardah. Kini ia tengah berada di butik Bunda. Bertugas mengawasi pegawai yang ada disini. Tentu saja dirinya tak paham apa saja yang perlu diawasi.
Selama matanya memandang, menelisik, tak ada kejanggalan apapun di sini. Ia rasa para pegawai Bunda sudah terlatih dan bertanggung jawab.
"Mbak, Wardah kasih kerjaan dong! Bosen tahu kalau cuma duduk lihatin para pegawai yang melayani pembeli. Wardah mau ikut bantuin," Ujar Wardah mendekati Mbak Naura yang kini menjadi tangan kanan Bunda dalam mengelola butik.
"Tapi sama Bunda kan disuruh awasin saja, udah nurut ajah," Jawab Mbak Naura yang kini menjaga kasir.
Tak menghiraukan Mbak Naura, Wardah berinisiatif melayani pengunjung. Wardah mendekati tiga orang remaja yang sedang asik memilih dress. Sekilas mereka melihat ke arah Wardah. Acuh tak acuh, kemudian tak menghiraukan Wardah. Senyuman ramah Wardah pun tak digubrisnya.
"Ada yang bisa dibantu kak?" Tanya Wardah ketika salah satu dari mereka tampak kesusahan mencari sesuatu.
"Ini kak, ada model seperti ini ukuran yang lebih besar ada ndak?" Jawabnya.
"Kamu pegawai disini?" Potong temannya kepada Wardah dengan melihat penampilan Wardah dari bawah ke atas.
__ADS_1
"Iyaa, saya pegawai disini," Jawab Wardah sopan. Mungkin ia heran melihat Wardah yang tak memakai seragam seperti pegawai yang lain.
"Warna yang lainnya ada kak, mari silahkan duduk di sofa itu dulu. Biar saya ambilkan di loker penyimpanan," Ujar Wardah mempersilahkan.
"Kami mau lihat-lihat dress lain dulu Kak," Jawab wanita yang ramah dibandingkan dengan dua temannya yang tampak acuh.
"Cepet dong Kak, kami nungguin ini!" Tegas temannya.
"Dini, jangan gitu ah. Sabar," Ujarnya pada remaja yang bernama Dini.
Segera Wardah ke ruang penyimpanan stok pakaian. Keburu disembur lagi oleh dua remaja itu. Kenapa dua? Ya iyalah, yang satu masih bisa ramah ternyata.
"Ini kak, maaf jika menunggu terlalu lama," Wardah memberikan kepada pelanggannya.
"Mendingan kamu pergi deh,aku gak nyaman kalau belanja diikutin terus. Gak bakal nyolong gua," Celetuk remaja yang tadi dipanggil dengan sebutan Dini.
__ADS_1
"Baik, mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Jika membutuhkan sesuatu, saya ada di meja kasir," Jawab Wardah kemudian berlalu.
Sabar Wardah, sabar... Sepertinya anak-anak remaja itu kurang pendidikan akhlak. Wajib digiring ke pesantren itu mah.
"Gimana? Udah puas?" Tanya Mbak Naura ketika Wardah duduk di sampingnya.
"Tatapan anak-anak itu ngeri. Gak tahu aja mereka kalau aku ini lebih tua dari mereka," Jawab Wardah.
"Kamu memang gak bakat kalau ngrayu pembeli yang jutek," Ujar Mbak Naura.
"Aku tuh gak suka kerja yang kek gini Mbak, bukan fashion ku." Jawab Wardah lirih.
"Iyaa, Mbak tahu... Nampak dari wajah kamu yang kucel waktu Bunda nyuruh di butik. Kamu yang jaga kasir ajah. Gak perlu komunikasi banyak sama konsumen." Jawab Mbak Naura. Wardah mesem-mesem dibuatnya.
Jadilah kini seharian Wardah menjaga kasir menggantikan Mbak Naura. Wardah tampaknya menikmati momen ini. Sudah lama ia tak berkutik dengan alat elektronik ini, berkecimpung dengan angka-angka yang terangkum dalam buku ekonomi bisnis di Kampusnya dulu.
__ADS_1
Ia dulu sangat senang jika mendapatkan tugas yang berhubungan dengan hitung-menghitung bayangan uang yang tak nyata. Kini ia menghitung uang yang nyata. Yaitu milik Bundanya tercinta.
...Bersambung.... ...