
Maafkan Lhu-Lhu yang baru up! Kemarin Lhu-Lhu lagi nyiapin modul pembelajaran untuk anak bangsa. Eaakkk!
......
"Wardah?" panggil Aditya di sela-sela perjalanan mereka.
"Dalem," jawab Wardah yang kini menatap Aditya.
"Maaf ya sebelumnya, saya mau tanya. Ayah kamu baru saja meninggal?" tanya Aditya pelan-pelan. Takut mempengaruhi keadaan hati Wardah.
Hembusan napas berat terdengar jelas dari Wardah.
"Maaf ya Mas, aku kemarin tiba-tiba nangis waktu Mas lagi masak." senyuman Wardah terukir dengan indah nan manisnya. Tapi tetap saja tergurat kesedihan di sana. Aditya tahu itu.
"Ayah meninggal sudah lama sebenarnya, sejak Wardah kelas tiga MTS. Tepat seminggu sebelum ujian kelulusan," sambung Wardah dengan menatap lurus ke depan.
"Sabar ya, kita berkunjung ke makam Ayah kamu dulu nggak papa kok besok. Semoga bisa mengobati rasa rindu kamu," ujar Aditya dengan senyuman lembutnya.
Wardah mengangguk dengan mantab-nya. Mimpi apa ia tempo lalu? Bisa-bisanya mempunyai bos yang super duper buuaaiiiikkkk. Ayah, tunggu dedek yaa, bisiknya dalam hati yang keruh plus bahagia.
Perpisahan mereka berakhir di tengah-tengah perbatasan apartemen mereka. Saling diam dan pandang. Tak tahu masing-masing akan mengucapkan apa.
"Ya sudah, sampai jumpa nanti malam habis maghrib." ujar Aditya. Dua-duanya tampak salah tingkah sepertinya.
"Iya Mas, Wardah masuk dulu," pamit Wardah yang sudah melincir masuk ke apartemennya.
Tak berselang lama, ketokan pintu menggema di apartemen Wardah. Siapa gerangan mengganggu saat-saat istirahatnya.
Cklek!
Tampaknya seorang kurir. Tapi ia tak merasa memesan sesuatu.
"Mbak Wardah ya? Ini ada pesanan untuk mbaknya dari Bapak Arzan Altezza Adytama Balindra. Silahkan tanda di sini," ujar kurir itu.
Jemari Wardah terulur mengambil bolpoint itu dan menandatanganinya. Benar-benar berulah Bos-nya kali ini.
"Terima kasih ya Mas," ujar Wardah.
Wardah langsung menuju tetangga sekaligus bosnya itu. Satu ketukan, dua ketukan, sama sekali tak ada jawaban. Sial! Wardah baru menyadari jika di sana ada tombol tamu. Harusnya ia tak perlu mencak-mencak, susah-susah mengetok pintunya.
Aditya yang menyadari tingkah Wardah hanya terkikik di balik pintu itu. Ya! Ia dari tadi memang memperhatikan Wardah. Hingga ketika Wardah memencet bel, barulah Aditya membuka pintunya tentu saja dengan ekspresi wajah yang dibuat tenang setenang mungkin seakan tak terjadi apapun tadi.
"Ini apa Mas?" tanya Wardah.
"Baju," jawab Aditya datar.
"Iya! Maksudnya untuk apa?" tanya Wardah lagi geram.
"Untuk acara kita nanti malam. Biar baju kamu ganti, nggak monoton itu-itu saja," alasan Aditya.
"Ngece banget sih! Dedek selalu ganti ya bajunya!" jawab Wardah tak terima.
"Iya, percaya kok sama dedek. Ya udah anggap ajah itu hadiah dari mamas," goda Aditya memanggil Wardah dengan sebutan dedek.
Sontak Wardah menyadari jika ia membahasakan dirinya dengan sebutan dedek.
"Au Ah! Males!" ujar Wardah yang nyelonong kembali ke apartemennya. Ia benar-benar malu keceplosan kesekian kalinya. Itu sebutan untuk orang terdekatnya.
.
.
.
Perpisahan mereka tak membutuhkan waktu lama ternyata. Perasaan baru saja mereka bercek-cok beradu argumen tadi, eh! Sekarang mereka sudah dipertemukan kembali.
Wardah mengikuti Aditya menuju tempat yang tak tahu di mana itu. Wardah tak pernah jalan-jalan gaess. Jadi tak kenal dengan jalanan yang dilewati oleh mereka.
"Kok kita kayak lagi kencan sih Mas?" tanya Wardah dengan terkikik.
"Emangnya kita cuma berdua, kita berempat nanti," ujar Aditya.
"Sama siapa?" taya Wardah.
__ADS_1
Hilang sudah ekspetasinya berduaan dengan laki-laki tampan. Ternyata Mas Al mengajak orang lain. Aditya memberhentikan mobilnya di pinggir jalan raya. Wardah menatap Aditya bingung. Bukannya menjawab pertanyaannya, malah berhenti di pinggiran jalan.
"Wardah, boleh saya minta tolong?" ujar Aditya lirih.
Wardah memicingkan matanya menunggu ucapan Aditya selanjutnya. Hendak meminta tolong apa laki-laki di sebelahnya ini?
“Jadilah kekasih saya!” sambung Aditya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Wardah tersedak sendiri mendengar penuturan Aditya. Secepat inikah? Wardah memang memiiki secuil rasa kagum dengan laki-laki ini. Tapi tak secepat ini juga. Tapi ia juga berat untu menolaknya. Aditya mengambilkan botol air yang biasa ia bawa dalam mobil. Wardah segera meneguknya untuk mengurangi rasa gugup plus bingung plus senang plus plus deh pokoknya. Sungguh konyol Aditya ini.
“Jangan bercanda Mas,” Ujar Wrdah menetralkan detakan jantungnya.
“Maaf-maaf! Begini Wardah, Papa saya tempo hari memergoki kamu tidur di ruang makan kantor saya. nah! Beliau salah paham, mengira jika kamu itu pacar saya. malam ini Papa meminta saya untuk mengajak kamu makan malam. Begini saja wes! Saya tahu kamu bukan tipikal wanita yang ingin pacaran. Di sini saya akan memperkenalkan kamu sebagai wanita yang sedang dekat dengan saya. bukan sebagai pacar, tapi sebagai wanita dan laki-laki yang memegang komitmen untuk bersama nantinya,” jelas Aditya panjang lebar.
Wardah melongo sendiri dibuatnya. Aditya mengajaknya untuk berbohong perihal hubungan? What the hell! Ia tak tahu hendak menjawab apa. Tapi kasihan melihatnya dengan muka melas seperti itu.
“Mama saya sudah terlanjur diberitahu oleh Papa, saya tidak tega untuk menghancurkan kabar gembira bagi mereka itu,” lirih Aditya sok melemah.
“Kita harus berbohong?” tanya Wardah ragu.
“Kamu mau kalau saya ajak serius?” tanya balik Aditya dengan senyuman mengembang.
Sukses membuat Wardah gelagapan salah tingkah. Jangan sekarang, Wadah masih butuh menata hatinya. Memilah laki-laki yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Tak ingin terjerumus ke dalam lubang samma untuk kedua kalinya.
“Oke! Wardah bantu Mas Al untuk malam ini bertemu orang tuanya Mas Al,” ujar Wadah akhirnya. Ia tak ingin menanggapi pernyataan Aditya barusan.
***
Tempo lalu setelah kedatangan Papa ke kantorya, Aditya selalu diterori oleh pertanyaan Papa dan Mamanya mengenai Wardah. ditambah dengan Mama yang sangat menginginkan anaknya membawa wanita itu untuk menemuinya. Ia sungguh tak sabar menanti momen momen Aditya memiliki wanita spesial.
Hingga setelah membopong Wardah ke amarnya, Aditya langsung di sidang di ruang kerjanya. Mama menyusul Papa ke kantor Aditya ternyata. Lengkap sudah acara sidangnya kali ini. Papa garcep sekali jika memberikan kabar untuk pasangannya itu. Aditya duduk di lantai menghadap pada Papa Mama di sofa. Tenang gaess, ruangan Aditya steril dari kuman dan debu kok hehehe.
“Itu hanya karyawannya Eza Ma, bukan pacarnya Eza,” ujar Aditya atau Eza. Sepertiny lebih enak jika memanggilnya Eza. Hahaha.
“Tapi kamu suka-kan dengan dia?” tanya Papa. Skak! Eza tak mau berbohong. Benar dugaan Papa.
“Senangnya Mama! Akhirnya bakalan punya mantu untuk kedua kalinya Pa,” celetuk Mama dengan merangkul lengan suaminya. Menyender mesra di hadapan anak laki-lakinya.
“Pokoknya nanti kamu harus bawa gadis itu ke hadapan Mama sama Papa!” tegas Mama.
“Ya udah yuk Pa kita pulang! buatin adek buat Eza sama Ega!” ujar Mama.
Eza melotot terkaget-kaget! Ya kali ia bakalan punya adek lagi yang sekarang sudah menyandang title sebagai CEO!
“Mama ngacok deh!” seru Eza.
Sontak Mama dan Papa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi anaknya itu. Eza segera membungkam mulut keduanya. Takut jika Wardah terbangun.
“Nggak sopan kamu ya sama orang tua,” canda Papa.
“Maklum Pa, nanti yayangnya kebangun lhoo,” sambung Mama. Akhirnya orang tua Eza keluar juga.
...***flashback end***...
.
.
.
Kini Eza dan Wardah sudah sampai di sebuah rumah yang dapat dikatakan megah. Ini sudah termasuk mansion sepertinya. Wardah pikir, ini 11 12 dengan rumah suami sahabatnya Anisa.
Wardah menarik lengan baju Eza, ia ragu. Ia takut, campur aduk rasanya. Ini kali pertama ia menghadiri undangan seperti ini. Dulu dengan Cak Ibil saja tak ada acara-acara perkenalan macam ini.
"Tenang, orang tua saya tidak memakan orang," celetuk Eza. Sontak Wardah memukul lengan Eza dengan kekuatannya.
"Aduuuh, sakit dedek," celetuk Eza kembali menggoda Wardah.
"Apaan sih! Nggak jadi mau lah!" ujar Wardah jengkel.
"Iya-iya, maaf. Pegangan ini aja biar nggak grogi," ujar Eza dengan menunjuk pergelangan bajunya.
__ADS_1
Wardah menurutinya. Tak apalah yang dipegang lengan bajunya dahulu, baru nanti jemarinya. Eaakkkk!
Cangtip banget dah Wardah nih! Masyaallah! Subhanallah!
"Assalamu'alaikum!" sapa Eza memasuki rumah gedongnya ini.
"Waalaikumussalam, lama banget sih Za! Mama udah nungguin dari tadi," gerutu sang Mama menghampiri anak tersayangnya. Wardah mengikuti Eza yang kini mencium tangan mama-nya.
"Masyaallah, sini cantik," ujar Mama memeluk Wardah. Wardah tampak gagu, tapi memang harus mengikuti alurnya.
"Sudah pacaran sama Eza, sayang?" tanya Mama pada Wardah.
"Maaa! Nggak usah gitu ah! Malu Wardahnya," potong Eza. Ia tahu benar jika Wardah bingung hendak menjawab apa.
"Oalah! Namanya Wardah?" tanya mama memastikan.
"Iya tante," jawab Wardah.
"Mama! Panggil Mama! Oke," ujar Mama. Wardah mengangguk sopan tanda mengiyakan.
Wardah dirangkul Mama menuju meja makan dengan Eza du belakangnya. Enak sekali Mama bisa memeluk Wardah seperti itu, sedangkan dirinya belum bisa.
Ternyata Tuan Adhitama atau Papa Eza sudah menanti di sana. Mama membimbing Wardah agar menyalami Papa.
"Gini dong Za, kalau cari itu yang anak pesantren! Bukan yang modelan kurang bahan!" ujar Papa mengejek Eza. Sepertinya aura kepesantrenan War
Eza yang diajak bicara syok sendiri. Pasalnya ia tak pernah berpacaran atau jalan dengan cewek modelan seperti itu. Bisa-bisanya sang Papa malah memperburuk citranya di hadapan calon istri. Eaakkk!
"Papa! Pasti dah! Bercandanya nggak lucu! Eza nggak pernah deket atau main sama cewek modelan gitu ya! Fitnah besar itu," protes Eza.
"Maklumin ya anak cantik, mereka berdua memang biasa begitu," ujar Mama. Wardah tertawa jaim melihat tingkah dua laki-laki itu.
Mereka makan dengan bumbuan candaan Papa dan Eza. Ternyata keluarga ini kocak juga. Hahaha. Eza juga sudah mengutarakan rencananya tadi yang ia susun bersama Wardah. Tentang hubungan komitmen tanpa pacaran. Eaakk!
Beberapa kali Wardah mencuri pandang sosok Ayah di samping Mama. Bukan Ayah, tapi kini menjadi Papa. Ia benar-benar seperti flashback di saat masih bersama Ayah. Bunda yang tengah melayani Ayah untuk makan. Kemudian Ayah yang bercanda ria dengan anaknya di meja makan. Oh! Ini sangat membahagiakan ditambah menyedihkan untuknya.
Kini Wardah tengah dirangkul Papa menuju ruang keluarga. Wardah tak berani menolak, takut.
Tapi kini terbesir aura kehangatan dalam hatinya. Seolah kini ia tengah flashback beberapa tahun lalu bersama sang Ayah tercinta.
"Papa," panggil Wardah lirih sebelum mereka benar-benar sampai di ruang keluarga.
"Iya sayang? Ada apa?" tanya Papa.
"Boleh tidak Wardah memeluk Papa?" tanya Wardah.
"Boleh dong, sini peluk Papa," jawab Papa dengan senang hati.
"Tapi, sebelumnya Wardah minta maaf kalau nantinya nangis," lirihnya lagi dengan menunduk.
Papa tahu betul perasaan anak di hadapannya ini. Sebelumnya Eza juga sudah mengatakan jika anak ini rindu dengan Ayahnya yang sudah meninggal. Papa langsung merengkuh Wardah dalam pelukannya. Erat, sangat erat. Seolah tak ingin melepaskannya.
Terasa benar getaran Wardah yang menandakan jika tangisannya telah lolos. Papa semakin memeluknya erat. Mengusap lembut kepala Wardah yang terbalut jilbab.
Mama beberapa kali mengusap air matanya melihat anak manis dan cantik itu menangis tersedu-sedu. Eza mengelus tangan Mama-nya untuk menenangkan.
"Ayah, Dedek kangen," lirih Wardah berkali-kali. Ia mengeratkan pelukannya pada Papa.
"Iya Nak, panggil Papa dengan Ayah,” ujar Papa yang kini tak sanggup juga menahan air matanya. Wardah semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Papa. Rasanya masih sama. Tenang, damai, hangat, kasih sayang yang selama ini dirindukan Wardah.
...Bersambung.......
Ih No! Ada bawang bertaburan di sini. Lhu-Lhu bener-bener nangis nulis part ini. Uhuhuhuhuuuuu, syeediiihhhh bangeeettt.....
Di part ini Lhu-Lhu juga ngasih cerita yang puuuaaanjaaaanggggg syekaleeee.
Gaess, bantuin Lhu-Lhu untuk promosikan novel ini doong. Bisa di like, komen, vote, Bintang limanya juga jangan lupa yaaaa....
Mmmuuaaahh😘😘😘😘
Salam sayang dari Lhu-Lhu.
__ADS_1
Kita doakan untuk keluarga yang sudah mendahului kita semoga ditempatkan di surganya Allah yang sungguh mulia. Lahumul Faatihah.