
Maafkan Lhu-Lhu yang kemarin hari tidak bisa... Lhu-Lhu sedang UTS, jadi tugasnya seabrek. Maaf yaaa..... Lhu-Lhu sayang kalian.....
...Selamat Membacaaaa ...
...๐๐๐๐๐๐...
.
.
Ziarah masih terus berlanjut. Kini kami hendak menuju Bali. Baru tadi aku berpisah dengan Anisa, kini semakin suntuk saja aku. Sepi! Tapi ada untungnya juga, aku bisa menggunakan kamar Anisa dan Mas Farhan. Tanpa harus melihat manusia beku itu.
__ADS_1
Tenang! Jika di luar goa aku masih bisa bersandiwara selayaknya suami istri pada umumnya kok. Tapi tidak jika sudah masuk gdengan Seperti saat ini. Rombongan kami sudah berada di makam salah satu Ulamaโ di Bali. Aku selalu berada di samping Cak Ibil. Rasanya lidahku sudah kelu jika memanggilnya Mas.
Ketika aku memiliki kesempatan untuk menjauh, aku akan menggunakan dengan sebaik mungkin. Aku bergabung dengan para mahasiswa. Dengan alasan ingin berbaur dengan teman satu rombongan. Tentu saja Cak Ibil ku tinggal.
Bergabung dengan para mahasiswa sangat menyenangkan. Tak jarang teman mereka yang sesama mahasiswa atau dosen mereka sekalipun mengira jika aku juga mahasiswa. Hahahha, apakah wajahku seperti bocah? Eiiitts! Tunggu, umurku baru 21 tahun. Tentu saja aku masih muda. Jangan salah. Anisa memang berumur di atasku. Tapi tak jauh, dia lebih hebat dariku! Dia sudah menyelesaikan S2 nya di umurnya yang masih terbilang sangat muda.
Sedangkan aku? Masih stay di lulusan S1 ku. Awalnya dulu aku ingin mengambil kesempatan kuliah di luar negeri. Berhubung Abah Kyai memintaku untuk membantu mengabdi dan Bunda yang tak memberikan izin, akhirnya pupus sudah harapanku.
Jika begini, aku jadi rindu akan sosok Ayah. Mungkin, jika Ayah masih ada, beliau akan sangat mendukung impian dan keberhasilan, bahkan peluang emas yang tengah kuhadapi.
Tapi, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum, terkadang juga menangis jika wajah Ayah melintas dibenakku. Wardah rindu Ayah...
__ADS_1
Setelah ziarah, aku memilih untuk duduk menghadap jendela yang ada di samping tempat tidur. Menikmati jalanan yang cukup indah. Sembari memikirkan, menelisik beberapa tahun lalu kebersamaanku dengan Ayah.
Ayah, anakmu sudah dewasa saat ini. Bahkan ia sudah menikah. Apakah Ayah bahagia melihat Wardah yang sekarang? Maafkan Wardah yang belum bisa mengajak suami Wardah menjenguk Ayah. Wardah akan menunjukkan suami Wardah setelah ia membuka hatinya pada anakmu ini.
Jadi, jika ia tak bisa membuka hatinya, Wardah tak akan menunjukkan sosok dia pada Ayah. Wardah malu. Wardah dulu sering kali bercerita dengan Percaya dirinya pada Ayah jika nantinya pasti akan mendapatkan pendamping seperti sosok Ayah. Tapi kenyataannya, Wardah tak mendapatkan hal itu sedikit pun....
Ayah.... Jika Wardah gagal dalam pernikahan ini, kira-kira bagaimana tanggapan Ayah? Ayah sedih tidak? Bunda? Bunda pasti sedih.... Tapi Wardah tidak tahu mau sampai kapan bisa bertahan......
Puas melamun dan menangis, memang cocok untuk tidur... Bahkan aku tak tahu dari kapan aku mulai ketiduran....
Bersambung...
__ADS_1