
Awalnya hati Wardah begitu senang hendak refreshing religi bersama suami. Tapi nyatanya kini ia tak sebahagia awal tadi. Bagaimana mau bahagia? Jika sang suami malah memperhatikan istri orang?
"Mas, lihatin apa sih?" Tanyaku basa-basi.
"Itu lho! Mahasiswanya banyak banget ternyata yang ikut," Jawabnya.
Kami memang sedang berkumpul di titik temu sebelum berjalan ke arah makam pesantren Tebu Ireng. Tapi aku yakin jika mata liciknya itu tengah memandangi Anisa. Kutarik dagunya menghadap ke arahku. Ntah angin dari mana aku bisa berani melakukan hal itu.
"Gak usah lihatin Anisa Mas," Ujarku. Dilepasnya tanganku yang memegang dagunya.
"Apasih Wardah?" Jawabnya dan berpaling dariku.
Selama perjalanan aku selalu disuguhi pemandangan mesra Anisa dan Mas Farhan. Karena aku dan Mas Aibil memang berjalan di belakang mereka. Iri! Tentu saja! Mas Aibil sama sekali tak menggandeng tanganku. Najis sepertinya menurut dia.
Setelah ziarah ku beranikan merangkul lengannya. Dia tampak tersentak kaget awalnya. Tapi tak menolak. Mungkin malu pada orang-orang jika tiba-tiba melepas rangkulan istri sendiri.
"Mau beli apa?" Tanya Mas Aibil padaku.
"Emm, belum ada yang di pengenin Mas," Jawabku.
"Kalau mau beli sesuatu ngomong aja," Ujarnya lagi
Ketahuilah! Aku disini tersenyum dengan kebahagiaan yang HQQ. Mengangguk dengan semangat. Aku mengeratkan pelukan di lengan Mas Aibil dengan sesekali menyenderkan kepalanya.
Jangan percepat saat-saat seperti ini Ya Allah... Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk berdekatan dengan suami hamba sendiri ya Allah. Untaian doa dan syukur menyeruak di hati Wardah.
__ADS_1
.
.
.
Malam semakin larut membuat mata semakin berat pula untuk diajak menikmati pemandangan perjalanan. Mereka memang sudah selesai menyelesaikan makan malam. Kini rombongan bus itu tengah menyusuri jalan menuju Kota Kudus. Mereka memang tak menggunakan alternatif tol. Karena sedang dalam perbaikan menurut informasi yang di dapat.
Mungkin karena memang telah larut malam, jalanan tampak lancar terkendali. Farhan dan Cak Ibil kini duduk sambil berbincang-bincang dengan kedua pak supir. Sedangkan Anisa dan Wadah tengah duduk berdua di sebuah sofa santai yang ada di ruang kamar Anisa.
“Gimana? Udah ada kemajuan sama Cak Ibil?” Tanya Anisa.
“Semoga ya Nis.. Kalau lagi di luar, Mas Aibil seperti suami pada umumnya Nis. Tapi kalau Cuma berdua, yaa balik lagi,” Jawab Wardah dengan volume terendahnya.
“Aku juga gak tahu kenapa dia seperti itu. Setiap aku ingin membahas tentang seluk beluk pernikahan pasti selalu dihindari,” Sambungnya lagi.
“Iya Nis, aku berhasil move on dari Bang Fadhil juga karena kedatangan Mas Aibil,” Lirihnya. Anisa memang saksi percintaan seorang Wardah dari zaman di pesantren.
“Aku hanya bisa selalu berdoa atas kebahagiaanmu Wardah. Aku yakin, esok pasti akan ada saatnya kamu menikmati manisnya cinta,” Ujar Anisa dengan memeluk Wardah.
Butiran bening tak dapat dibendung lagi. tetesan demi tetesan mengalir dari pelupuk mata Wardah. Ia tak tahu sampai kapan bisa bertahan. Yang ia tahu hanya terus berusaha dan berikhtiyar. Ia sudah memiliki planing untuk berkonsultasi dengan Bunda. Hanya mengumpulkan nyali sisanya.
“Dek, tidur yuuk!” Panggil Cak Ibil.
Deg! Jangan-jangan Cak Ibil mendengar curhatan Wardah dan Anisa? Warda mencoba bersikap biasa saja. Toh jika mendengar lebih bagus. Siapa tahu nanti sikapnya bisa berubahh lebih baik.
__ADS_1
“Nis, aku ke kamar dulu ya..” Pamit Wardah.
“Iya, Mas Faridz bentar lagi juga ke sini,” Jawab Anisa.
Wardah mengikuti Cak Ibil ke bilik kamarnya. Oh iya, Wardah baru ngeh kalau suaminya memanggilnya dengan sebutan Dek... Ini pantas di angkat menjadi keajaiban dunia ke delapan. Ini pertama kalinya ia dipanggil dengan sebutan selain nama oleh suaminya. Sampai di kamar, Cak Ibil berbaring di ranjang dengan fokus pada gawainya. Sama seperti sebelumnya, di dalam kamar yang ada hanya kesunyian semata.
“Kamu cerita apa sama Anisa?” Setelah sekian lama saling diam, akhirnya Cak Ibil mebuka suara. Pertanyaan itu, sudah Wardah duga. Ia juga sudah menyiapkan jawaban dalam suasana diam tadi.
“Cerita tentang hubungan kita,” Jawab Wardah singkat. Posisi Wardah kini tengah berada di sebuah meja sembari menuliskan sesuatu di sebuah kertas.
“Kamu tahu-kan, sebuah rumah tangga tidak boleh diumbar-umbar?” Ujar Cak Ibil, mulai mode serius.
Wardah menghentikan acara menulisnya dan berbalik menghadap sang suami yang berada di sisi ujung sebrang tempat tidur. Posisi mereka begitu jauh! Sepertinya tengah sosial distanching.
“Saya tahu. Saya tahu sekali. Karena pembelajaran materi tersebut sudah diajarkan. Bahkan yang mengajarkan itu semua anda. Pada beberapa tahuun lalu,” Jawab Wardah. Ini adalah kesempatan untuk membicarakan jalan kedepan rumah tangganya.
“Jika anda ingin bertanya lantas kenapa saya melakukan itu. Saya akan bertanya juga: Kenapa anda menjadikan saya seperti ini. Seolah menjadi tawanan rumah tangga, seolah saya hanya sebuah pajangan yang tidak diakui keberadaannya oleh anda?”
Jeng-Jeng-Jeng....
Ceritanya Wardah dipending yaaa!
Di titik inikan rasa penasaran kalian?
**Maafkan Lhu-Lhu yang memotong rasa penasaran yang kedua kalinya....
__ADS_1
Kalau nanti habis tarawih Lhu-Lhu sanggup ngetik lagi, Lhu-Lhu bakalan lanjut kok... Okeeeyyyy**