
Akhirnya setelah berlelah-lelah ria di dalam mobil, sampailah mereka di sebuah mansion megah. Wardah masih terlelap dalam tidurnya setelah tadi menghabiskan makanannya disambi dengan menyuapi Eza.
"Den Eza? Ya Allah, sudah lama ndak pulang ke Jogja lho!" ujar Pak Muklas salah satu petugas keamanan di mansion.
"Iya Pak, mampir, sekalian jemput Mama mau ikut ke Jakarta," jawab Eza.
"Wadah! Sepertinya Ibuk bakalan ngunduh mantu bentar lagi ini. Jago bener cari gandengan Den, hahaha," ujar Pak Muklas lagi, sembari melirik ke arah Wardah.
"Aammiiin, doakan nggeh Pak! Lagi diusahakan ini, hahaha," jawab Eza blak-blakan.
"Semoga berhasil Den! Aammiiin," seru Pak Muklas.
Wardah malu. Tentu saja ia tahu yang dimaksud bapak tadi adalah dirinya. Tapi Wardah tak berani menyinggung hal itu. Sudah pasti nanti diledekin. Percayalah! Pipinya saat ini sudah memerah. Ia sudah bangun saat mobil Eza berhenti di depan pagar besi besar. Tapi ia pura-pura tidur, hanya sedikit mengintip. Ia ingin menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Tapi ketika bapak penjaga itu menghampiri mobilnya, Wardah kembali pura-pura menutup matanya.
Eh! Ia malah mendengar ledekan dari bapak itu. Ntah itu ledekan atau pujian. Wardah pun tak tahu. Tapi, jawaban aammiiin tadi.... Sungguh berhasil membuat hatinya menghangat. Walaupun ia tak tahu itu serius atau hanya bercanda.
"Wardah?" panggil Eza dengan sedikit menepuk lembut pundaknya.
"Emmmh, udah sampai Mas?" Wardah sedikit berakting bangun tidur.
"He'em, yuk kita masuk!" ajak Eza.
Eza bergegas keluar dan membukakan pintu di samping Wardah. Ouuhh! Manis sekali.
__ADS_1
"Kamu nggak mau gandeng lengan saya Dah?" tanya Eza menyodorkan lengannya.
"Apaan sih! Bercanda ajah," jawab Wardah sembari memukul lengan Eza. Semburat rasa malu kembali hadir lagi.
Eza tersenyum simpul melihat senyum malu wanita di sampingnya. Digenggamnya pergelangan tangan Wardah yang tertutup kain bajunya. Anehnya tak ada tergerak dari hati Wardah untuk menolak perlakuan Eza. Ia hanya mengikuti Eza.
Tepat saat mereka berada di depan pintu utama.
"Mas, tolong dilepas," lirih Wardah. Eza meringis dan segera melepaskan genggamannya.
"Maaf, biar nggak ketinggalan langkah," jawab Eza dengan cengirannya.
Eza langsung saja membuka pintu itu dan disambut dengan Mama yang meregangkan tangannya. Eza berhambur di pelukan Mama tapi ditepis mentah-mentah olehnya. Hahaha. Mama menghampiri Wardah dan memeluknya erat.
"Mama nungguin pelukan dari Wardah, bukan dari kamu Za," ujar Mama yang masih memeluk Wardah.
"Kita makan siang dulu ya, pasti capek perjalanan dari Jombang ke Jogja. Nanti kita jalan-jalan ke pantai, mau kan?" tanya Mama setelah melepaskan pelukannya.
"Kitakan langsung ke Jakarta Ma," ujar Eza.
"Nggak! Mama mau ngajak Wardah jalan-jalan dulu," tegas Mama.
"Wardah harus kembali ke kantor Ma," lirih Wardah dengan senyumnya.
__ADS_1
"Bosnya Eza, kamu tenang aja ya sayang," jawab Mama masih kekeh dengan keputusannya.
"Terserah Mama ajalah," ujar Eza yang kini pergi ke lantai atas. Sepertinya ke kamarnya.
Pandangan Mama tertuju pada jaket yang dipakai Wardah. Jaket laki-laki, pasti milik Eza. Mama tersenyum lembut dan,
"Udah pacaran sama Eza? Woaah! Eza gerak cepat ternyata. Bagus ini mah," pertanyaan konyol mama muncul.
Wardah melebarkan matanya kaget dengan pertanyaan Mama dari Bosnya itu.
"Pacaran? Wardah ndak pacaran Ma," lirih Wardah.
"Haiissh! Anak itu selalu saja tak dapat diandalkan," gumam Mama.
Mama menuntun Wardah ke ruang keluarga. Di sana ada seorang laki-laki remaja. Sepertinya anak SMA.
"Alif! Sholat zuhur dulu! Izin pulang kalau malas-malasan Mama lempar ke pondok besok lho!" ujar Mama pada anak bungsunya.
"Iyaa," jawab Alif beranjak dari sofa.
"Siapa Ma?" bisik Alif pada Mamanya.
"Calon kakak ipar kamu," jawab Mama dengan berbisik pula. Tenang, Wardah tak mendengar bisikan mereka.
__ADS_1
Alif manggut-manggut dan tersenyum menyapa Wardah. Iapun bergegas naik ke lantai atas.
...Bersambung... ...