Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
JJ


__ADS_3

Sore ini Wardah dan Eza sudah berada di pantai sadeng. Salah satu pantai yang juga terkenal di wilayah Yogyakarta. Sebuah pantai yang memiliki tebing hehijauan di sisi kiri dan kanannya menambah kesan keindahan dari pantai ini. Pasirnya yang bersih dan cantik membuat siapa saja ingin melepaskan alas kakinya. Menapakkan kaki di atas pasir bersih ini memberikan kesan tersendiri bagi pengunjung. Deburan ombak yang tak terlalu besar juga sekaligus dapat menjadi tempat berenang rekomendasi.



Alif sudah berenang menikmati kesegaran air laut itu. Wardah sudah beralih ke bibir pantai. Menunggu deburan lembut ombak mengenai kakinya yang telanjang. Ntah kenapa di pantai kali ini tak banyak pengunjung. Wardah rasa ini bukan pantai khusus. Atau mungkin karena ini bukan hari libur. Mama memilih untuk menikmati gudeg yang ia temui di salah satu penjual di sini.


"Suka nggak?" tanya Eza yang kini menyejajarkan di samping Wardah.


"Suka, bagus banget..." jawab Wardah dengan senyuman manisnya.


"Wardah," panggil Eza lirih.


"Emm?" jawab Wardah.


"Nikah yuk!"


Sontak Wardah tersedak udara yang ia hirup. Eza yang kebetulan memegang botol air mineral segera membukakannya dan memberikan pada Wardah.


"Gak lagi makan apa-apa kok bisa kesedak sih," ujar Eza.


"Mas Eza kalau bercanda nggak lucu dah! Kan kaget saya jadinya," gerutu Wardah yang kini masih mengelus-elus dadanya.


"Saya serius Wardah," ujar Eza meyakinkan.


"Hahaha, udah deh Mas, nggak usah mainan perasaan gitu." jawab Wardah yang kini berjalan menyusuri bibir pantai. Eza masih kekeh mengikutinya.

__ADS_1


"Bagaimana caranya agar kamu percaya? Saya sudah meminta izin kepada Bunda dan Bang Yusuf,"


Kata-kata itu sukses menghentikan langkah Wardah. Benarkan Mas Eza sudah berbicara sejauh itu dengan Bunda dan Kak Yusuf? Wardah melihat manik mata Eza mencoba mencari cela kebohongan di sana. Tapi hanya manik mata indah yang muncul di pikiran Wardah. Sungguh indah ciptaan sang kuasa.


"Izinkan saya mengikat hati Dedek selamanya," lirihnya.


Kata-kata yang sebenarnya mengandung makna mendalam tiba-tiba buyar dengan tawa tertahan Wardah. Ntah kenapa saat Eza memanggilnya dengan sebutan Dedek menjadi lucu.


"Saya lagi serius lho ini! Melawan rasa gugup dan malu," protes Eza tak terima dengan respon Wardah yang tertawa itu.


"Lucu dengerin Mas Eza manggil saya dengan sebutan Dedek," jawab Wardah.


"Mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan sebutan itu. Wong Bunda juga nyuruhnya gitu. Saya harus jadi orang terdekat kamu agar bisa memanggil kamu seperti itu," ujar Eza sembari mengedipkan matanya sebelah.


"Lalu bagaimana? Bolehkan?" tanya Eza lagi.


"Yang tadi, barusan,"


"Ngajak nikah kok kayak ngajak ngopi!" celetuk Wardah meninggalkan Eza sendiri.


Wardah memilih untuk menghampiri Mama Sarah yang masih menikmati gudegnya. Sepertinya banyak sekali porsinya, sampai mama lama sekali menikmatinya.


"Makan ya dek?" tawar Mama pada Wardah.


Wardah menggeleng dengan lembut. Tak lupa menyiratkan senyuman pada bibirnya.

__ADS_1


"Masih kenyang Ma," jawab Wardah.


Wardah memilih untuk memesan makanan ringan dan segelas jus kiwi pilihan Mama. Eza duduk di atas pasir terdiam. Bagaimana cara meyakinkan Wardah. Deburan air yang mengenainya tak mengganggu sama sekali bagi Eza. Wardah dan Mama hanya melihat dari tenda sembari menikmati makanannya.


"Kenapa itu anak" celetuk Mama mengarahkan pandangannya pada Eza.


"Wardah temani Mas Eza dulu ya Ma," ujar Wardah.


"Iya-iya, temani anak itu aja," jawab Mama.


Wardah membawa gelas jusnya dan piring somay. Berjalan menghampiri Eza dan duduk di sampingnya. Eza melihat ke arahnya sebentar dan kembali memandangi lautan lepas.


Malas melihat respon Eza seperti itu, Wardah memilih ikut diam saja memakan somaynya. Eza langsung mengambil gelas jus Wardah dan meminumnya. Seketika Wardah melotot terkaget-kaget.


"Mas! Itu bekasnya aku lhooo," seru Wardah.


"Haus!" jawab Eza yang kini masih memegang gelas itu, tanpa mengembalikannya pada Wardah.


Mending kalau menggunakan sisi gelas, ia malah menggunakan sedotan.


"Saya nggak punya penyakit menular Dedek," goda Eza.


Wardah memutar bola matanya jengah.Diambilnya gelas itu dan meminumnya. Tapi tak menggunakan sedotan, melainkan dari gelasnya langsung. Ia tak mau ciuman. Hahaha. Memang itu yang dipikirkan Wardah sedari tadi. Seperti novel-novel yang sering ia baca. Ciuman secara tidak langsung. Hahaha.


...Bersambung... ...

__ADS_1


Maaf gaess, Lhu-Lhu lagi sibuk tugas + cari kontrakan untuk berteduh. Jadi kehambat acaa tulis menulisnya....


__ADS_2