
Setelah ke pasar besar, tujuan mereka kali ini adalah Mall Plaza City. Menuruti kehendak bungsunya Mama. Sekalian Mama juga akan bertemu teman-teman arisannya. Perasaan Wardah mulai tak karuan. Pasti jika bertemu teman akan membutuhkan waktu lama. Akankah ia mampu menonton ibu-ibu itu bercakap ngalor-ngidul?
Alif sudah pergi ke sisi lain untuk menghindari gosip ibu-ibu itu. Wardah hendak menyusul Alif, malah ditahan Mama untuk duduk di sampingnya. Pasrah sudah diri ini.
"Ini anak kamu yang sulung Sar? Kok beda ya sama yang lalu?" tanya salah satu teman Mama.
"Calon mantu ini, hahaha," jawab Mama. Wajah Wardah merah seketika. Ia senang, tak dapat dipungkiri lagi. Tapi ia takut jika Mama tak suka lagi padanya saat tahu bahwa dirinya sebenarnya janda.
"Anakku yang sulung lagi ikut suaminya dinas di luar kota," Sambung Mama lagi.
"Calon mantu? Oalah, ini pacarnya Eza? Cantik banget yaa," tanya ibu itu.
"Suka yang mungil-mungil ya," sindir ibu-ibu yang satu lagi. Sukses membuat Mama geram.
"Eh! Kamu yang tadi pagi jadi presenter jurnal pagi di tv-kan?" seru salah satu yang lain.
Wardah tersenyum dan mengangguk sopan. Sontak ibu itu mengajak berfoto Wardah. Mending minta foto sekarang, dari pada nanti tambah banyak fans-nya susah mo minta foto.
"Kalau mau ikut Alif nggak papa Dek," ujar Mama.
Tentu saja Wardah menyetujuinya. Ia tak tahan melihat salah satu teman Mama yang menatapnya sinis. Wardah menghampiri Alif yang sedang menyeruput blanded coffe.
"Mau pesan apa Kak? Biar Alif pesankan," ujar Alif.
"Nggak usah, Kakak pesan sendiri aja," jawab Wardah yang lebih memilih untuk memesan coffe latte.
"Kak! Beneran ya kakak sama Kak Eza nggak pacaran?" tanya Alif saat Wardah sudah mendapatkan pesanannya.
"Ya beneran, Kakak nggak pacaran. Kenapa kok tanya begitu?" tanya Wardah balik.
"Jangan diaduin Kak Eza ya tapi,"
"Iya nggak! Kenapa?" tanya Wardah semakin penasaran.
"Kak Eza punya fotonya Kakak di ruangan kantornya! Di dompetnya juga ada," bisik Alif.
__ADS_1
"Hallah, nggak usah ngarang," jawab Wardah. Mana mungkin seorang Eza menyimpan fotonya. Dapat dari mana dia?
Alif mengajak Wardah untuk berkeliling sembari menunggu sang Mama reun. Dari satu stand ke stand yang lain. Dari satu toko ke toko yang lain. Hingga telah menyicipi beberapa makanan yang tersedia di food court.
.
.
.
Wardah kembali ke mansions ketika senja sore hendak menghilang sepenuhnya. Mama begitu betah mengobrol dengan teman-temannya. Bahkan Wardah sudah berkeliling di Mall bolak-balik bersama Alif.
"Assalamu'alaikum," sapa mereka memasuki mansions. Diikuti Mamang-mamang yang membantu membawakan bahan masakan ke dapur.
"Waalaikumsalam," jawab Papa dan Eza yang kebetulan tengah menunggu di ruang tamu.
"Eza sama Wardah langsung balik ke apartemen ya, udah sore juga," ujar Eza.
"Hey! Jangan buru-buru Za, Dedek masih capek baru datan. Pulang setelah makan malam saja," sanggah Mama.
"Eza bawa bahan masakan aja ya Ma, sebagai gantinya nggak makan di rumah," sambung Eza.
"Ya udah, bawa yang banyak Za! Ajak Dedek juga nanti," jawab Mama. Beliau bergegas ke dapur mengambil satu plastik besar berisi beberapa sayuran dan bahan masakan yang lainnya.
.
.
.
Pulang dari mansion, Wardah langsung bersih-bersih apartemen dan memasukkan sayuran ke kulkas. Eza juga sudah memintanya untuk memasak sayuran yang diberikan Mama.
Barulah Wardah berkecimpung dengan peralatan dapur. Tak berselang lama, bel apartemen berbunyi.
"Assalamu'alaikum," sapa Eza. Ia sudah rapi dengan kaos hitam simpelnya dipadukan dengan sarung berwarna coklat. Sepertinya habis sholat orang ini. Ia tak sendiri, ada Alif yang berdiri di belakangnya. Tadi ia bersikeras untuk ikut sang kakak.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, monggo silakan masuk," jawab Wardah.
"Kak Wardah belum mandi ya? Nggak sholat apa?" tanya Alif yang sudah nyelonong masuk. Wardah memang belum mandi, ia masih menggunakan baju tadi. Bedanya, kini ia menggunakan jilbab bergo simpel.
"Hehehe, lagi udzur," jawab Wardah dengan pipi bersemu merah.
"Sebentar ya, makan malamnya belum siap. Saya lanjutkan masak dulu," ujar Wardah kembali ke dapur.
Alif memilih untuk duduk di depan tv. Sedangkan Eza mengikuti Wardah ke dapur.
"Eh! Ngapain ke sini Mas?" tanya Wardah kaget dengan kehadiran Eza yang membantunya mengupas bawang-bawangan.
"Batuin kamu masak, biar cepet selesai," jawab Eza.
"Nggak usah Mas, kan tamunya Mas. Jadi biar saya saja yang masak," ujar Wardah.
"Syuuth, saya juga sudah lapar..." lirih Eza beralasan.
Wardah menghembuskan napas beratnya merasa jengah dengan alasan bosnya itu. Akhirnya ia biarkan sang atasan membantunya memasak.
"Hari jumat besok kita berangkat. Kita sudah dipesankan tiket sama Mas Farhan." ujar Eza to the point.
"Kemana?" tanya Wardah kaget. Hari sabtu ia ada siaran pagi.
"Babymoon-nya Mbak Anisa," jawab Eza.
"Nggak bisa Mas," rengek Wardah.
"Bisa, kerjaan kamu sudah saya minta kepada mbak Zizi untuk menghandle-nya." jawab Eza.
"Maasss, aku nggak enak sama anak kantor," rengeknya lagi.
"Tidak ada penolakan Dedek. Udah sana mandi, biar saya yang lanjutkan masaknya," jawab Eza. Kali ini ia harus berhasil mendapatkan hati Wardah.
Merasa tak ada celah untuk membantah, Wardah memilih untuk ke kamar. Bersih-bersih badan. Ia akan membujuk Eza nanti lagi.
__ADS_1
...Bersambung.... ...