
Selama perjalanan pulang Wardah belum juga berselera untuk makan. Tentu saja itu membuat khawatir Eza. Ia bahkan berulang kali menelepon David. David juga sudah menenangkan temannya itu agar tak panik. Selama Wardah masih mau mengemil buah itu masih tergolong aman. Yang terpenting perutnya masih terisi. Buah yang ia konsumsi juga tak bahaya. Hanya apel, pir, dan pisang. Itu sudah cukup untuk kebutuhan energinya.
Sampai di rumah, Wardah disambut oleh para pekerja. Ntah dari mana mereka sudah mendapatkan kabar kehamilannya. Si Mbok sontak langsung memeluk Wardah. sampai ia sendiri tak sadar jika sudah terisak Bahagia. Karena memang sudah tahu benar bagaimana perjuangan majikannya itu. hingga kini membuahkan hasil.
“Terima kasih ya Mbok, Mbak, Mamang-Mamang, mohon doanya yang baik-baik,” ujar Wardah.
“Tenang Nduk, nanti Si Mbok dan yang lain bakalan siap melayani semua keperluan!” seru Si Mbok diangguki yang lain.
“Hahaha, jangan repot-repot, nanti malah pada kecapekan,”
***
Setelah beberapa hari beristirahat, hari ini Wardah sudah bersiap untuk berangkat ke penyiaran. Padahal Eza sudah memintanya untuk beristirahat di rumah. Tapi ditolak. Suntuk jika berdiam diri di rumah. Apalagi sekarang Sakha sudah mulai bersekolah. Tentu saja rumah kembali sepi. Hendak ikut menemani Sakha bersekolah pun tak diperbolehkan oleh Mama dan Bunda.
“Sakha napa sih minta sekolah tahun ini? Kan harusnya tahun depan baru masuk,” keluh Wardah saat perjalanan ke kantor.
“Ya dia kan pengen main sama temen yang banyak Ay, ya nggak papa-lah,” jawab Eza.
__ADS_1
“Nanti di kantor Cuma siaran aja lho Ay, jangan ngerjain skrip berita lagi. Biar yang lain aja! Habis itu langsung ke ruangan aku,” sambung Eza mengingatkan perjanjian mereka semalam.
“Iyaa sayangkuu,” jawab Wardah gemas. Sudah 7 kali suaminnya mengingatkan hal itu sedari tadi.
Semalam Wardah memang merengek ingin ikut ke kantor. Tapi Eza sudah mewanti-wanti istrinya agar tak bekerja terlalu berat. Ia juga sudah memberitahu rekan yang lain untuk menghandle pekerjaan Wardah yang lain.
“Pagi Pak Eza, Mbak Wardah,” sapa scuriti kantor.
“Selamat ya Kak, akhirnya Sakha mau punya adek!”
Ujaran sapaan dan selamat mewarnai hari-hari Wardah dan Eza. Ntahlah, kenapa cepat sekali berita ini tersebar. Padahal Wardah sendiri tak mengumumkan pada orang luar bahkan di medsosnya pun tidak. Sampai di ruangannya, Eza baru memberikan gawai milik istrinya. Beberapa hari istirahat di rumah, Wardah memang sama sekali tak membuka gawainya. Bukan tanpa alasan, ia hanya malas saja membuka gawai. Ia sendiri juga baru tahu jika ada masa, seseorang akan sangat malas dan bosan jika berhubungan dengan gawai.
Baru membuka sambungan internet, gawainya sudah terkontrol lagi. Deringan notifikasi bermunculan dengan tak sabarnya. Setelah ia cek ternyata mulai dari WhatsAp*, Inst*gram, dan yang lainnya. Notif yang menanyakan kabarnya hingga kebenaran tentang kabar adik Sakha. Tak ada habisnya jika membalas satu persatu. Bukan gaya Wardah juga jika memberikan informasi sendiri. Biarlah mereka tahu nanti saat syukuran. Melihat banyaknya notif membuat Wardah kembali malas memegang hp.
“Aku ke ruang typing dulu ya Mas,” pamit Wardah.
Baru keluar dari ruangan Eza, ia sudah dihadang oleh Kak Nuy. Kak Nuy mengajak Wardah menuju ruang istirahat staf yang ada di sebelah studio typing. Tak apalah, sekalian menunggu waktu typing. Karena memang sebenarnya belum waktunya.
__ADS_1
“Kamu kenal sama Fadhil nggak?” tanya Kak Nuy to the point.
“Bang Fadhil maksud kakak?” tanya balik Wardah.
Kak Nuy menunjukkan foto di gawainya pada Wardah. benar saja, itu foto Bang Fadhil yang sepertinya diambil diam-diam oleh Kak Nuy.
“Aku curiga sama laki-laki ini. Beberapa hari yang lalu dia sering ke kantor dan kayak cari informasi soal kamu lewat resepsionis. Aku pernah denger beberapa kali dari resepsionis kantor. Aku khawatir sama kamu makanya aku tanya ke resepsionis itu tujuan Fadhil itu.” jelas Kak Nuy.
“Kakak, mungkin dia memang ada perlu sama aku. Dia itu teman sekolah aku dulu, terus dia pacarnya temen aku juga. Nggak mungkin lah dia aneh-aneh,” jawab Wardah menenangkan.
“Beneran dia nggak bahaya? Ya sudah kalau kamu memang kenal, btw ganteng juga dia,” celetuknya.
Kini Wardah sudah berada di studio penyiaran berita. Niatan hati hendak menghubungi Bang Fadhil untuk menanyakan keperluannya menemui Wardah. Tapi ia lupa jika gawainya ada di meja ruangan Eza.
"Ya udah nanti aja kalau udah selesai typing," gumamnya.
...Bersambung ...
__ADS_1