Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Jealous


__ADS_3

Hari semakin malam dan Sakha juga sudah tertidur. Mungkin Lelah sudah berjalan mengitari sekitar sungai. Sungai yang mereka tempati singgah tergolong terang, meski sedikit remang dengan beberapa penjaga. Sehingga mereka yang berada di sekitar itu tak merasa takut. Eza meminta izin pamit pada Gita dan Fadhil. Ternyata keduanya juga ikut untuk pulang juga. Eza menggendong Sakha dan membenarkan posisi anak itu agar tetap nyaman digendongannya. Tangan sisinya seperti biasa menggandeng jemari istrinya.


Gita dan Fadhil mengikuti Eza dan Wardah di belakangnya. Menonton keluarga kecil itu berbincang santai selama berjalan. Gita jelas sekali dapat melihat temannya itu hidup dengan baik dan Bahagia sekarang. Ia tahu benar bagaimana kesedihan yang dahulu menyelimuti hari-hari Wardah. Tepatnya saat Ayahnya tiada. Gita benar-benar senang melihat temannya itu sudah menemukan laki-laki yang tepat. Mampu menjamin kebahagiaan untuk Wardah.


Gita sekilas mengamati laki-laki yang tengah berjalan dan menggenggam tangannya saat ini. Tatapan apa itu? Kenapa ia seolah melihat tatapan Fadhil seperti tatapan beberapa tahun silam terhadap Wardah? Tatapan mendamba yang sempat ia dapatkan juga satu tahun silam saat pertama kali bertemu setelah perpisahan lama.


Gita menggelengkan kepalanya menyingkirkan pikiran tak mendasarnya. Gita tahu jika dahulu pacarnya itu dan Wardah pernah saling mencintai. Tapi itu dulu, tak mungkin untuk waktu sekarang. Gita dapat merasakan ketulusan cinta antara Wardah dan suaminya. Begitupun dengan ketulusan Fadhil saat bersungguh-sungguh mengajaknya serius. Jadi tak mungkin akan ada permasalahan yang sempat ia pikirkan kini.


“Ada apa Bee?” tanya Fadhil pada Gita saat tahu pacarnya itu beberapa kali menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ha? Nggak papa kok, hehe,” jawab Gita dan langsung merangkul lengan Fadhil.


Dua pasangan itu berpisah di parkiran. Eza langsung membukakan pintu untuk Wardah. Karena harus menyetir jadilah Sakha bersama Wardah. Eza membantu Wardah memposisikan Sakha agar keduanya nyaman.


“Aku bener-bener nggak nyangka lho Mas kalau Gita ternyata sekarang sama Bang Fadhil,” ujar Wardah di sela perjalanan mereka.


“Kalian teman satu kelas ya?” tanya Eza.


“Stop Ay, jangan senyum gitu sama orang lain, aku nggak suka,” ujar Eza tiba-tiba dengan menggenggam jemari Wardah yang terbebas.

__ADS_1


“Hahaha, aneh kamu Mas, masak iya aku nyapa orang dengan muka flat?” jawab Wardah dengan tawanya.


“Ya udah iya boleh, tapi jangan senyum lebar ya,” sambung Eza lagi.


“Ya berarti nanti kalau akunya kelewatan, Mas kasih tahu ke aku ya,” jawab Wardah.


Wardah benar-benar tak habis pikir dengan tingkat kecemburuan suaminya itu. Padahal ia juga merasa senyumnya juga tak berlebihan. Susah memang kalau ditakdirkan menjadi salah satu Wanita cantik, manis, dan cute.


Mereka bertiga sampai di rumah sekitar pukul 09:30 malam. Memang tak terlalu malam bagi kita, tapi ini sudah terlalu malam untuk Sakha yang jadwalnya istirahat dari sehabis isya. Eza membukakan pintu untuk Wardah sekaligus mengambil alih Sakha untuk ia gendong. Memasuki rumah, sudah ada Bunda yang ternyata masih menunggu mereka pulang. Jika biasanya Sakha tidur di kamar orang tuanya, kini Eza memiliki ide absurd. Eza bertanya pada mertuanya apakah mala mini mau tidur bersama Sakha.

__ADS_1


Bunda yang tahu niat terselubung menantunya itu tentu saja menyetujui hal itu. Bunda paham betul jika anaknya juga ingin sesekali memiliki waktu berdua. Wardah awalnya ragu, tapi setelah ia pikirkan kembali sepertinya itu ide yang bagus. Jarang-jarang mereka bisa berduaan.


...Bersambung...


__ADS_2