
Wardah tersenyum menanggapi mahasiswi itu. Spontan tangannya melambai menyapa mahasiswi itu. Ntah mengapa, ia begitu senang bertemu mahasiswi itu lagi. Ia pikir, tak perlu mengobrol dengan Arumi, cukup dengan Mahasiswi itu saja.
Wardah menarik tangan mahasiswi itu di antaranya dengan Arumi. Tentu saja membuat Eza, Arumi dan tak tertinggal mahasiswi itu kaget.
"Ada apa Kak?" tanya mahasiswi itu berbisik. Ia takut sebab menjadi pusat pandangan para dosen yang ikut bersamanya menyambut pembicara seminar.
"Kamu nanti harus menemani saya kalau suami saya lagi di panggung!" ujar Wardah.
"Siap Kak! Tapi saya izin dosen penanggung jawab seminar dulu ya," jawab mahasiswi itu pergi tanpa permisi.
"Ada apa Ay? Kamu kenal mahasiswi itu?" tanya Eza.
"Yang kemarin ketemu kita Mas," jawab Wardah.
Eza manggut-manggut mengerti. Sampai di ruangan seminar, mereka disambut oleh para mahasiswa yang sudah siap mengikuti seminar. Meja mereka ada di depan, mau tak mau mereka harus lewat di tengah-tengah para mahasiswa itu.
"Kak Wardah!"
"Kak Eza!"
"Kak Wardah!"
Panggilan dan sorakan saling bersahutan satu sama lainnya. Gawai sudah berjejer untuk mendokumentasikan kedatangan dua tokoh legendaris dari salah satu stasiun TV di Indonesia. Wardah tak menyangka ternyata banyak juga yang mengenalnya. Wardah tersenyum manis menyahuti para penggemarnya itu. Eza terus menggenggam tangan Wardah yang merangkul lengannya.
__ADS_1
"Kenapa lebih terkenal kamu sih Ay dari pada CEO-nya?" bisik Eza.
"Karena istrinya Mas cantiknya tak tertandingi oleh siapapun saat ini," jawab Wardah dengan PD-nya.
"Untung aku percaya sama kamu! Tapi Mas nggak suka," ujar Eza menggantung.
Wardah tampak bingung mendengar tuturan Eza. Nggak suka kenapa? Nggak suka kalau dirinya banyak penggemar? Lalu kenapa dirinya malah disuport untuk tampil di layar kaca?
"Kenapa nggak suka?" tanya Wardah akhirnya.
"Cowok-cowok banyak yang tahu kalau istri Mas cantik pakai banget! Apalagi itu, mahasiswa itu, berondong Ay! Kamu jangan mau kalau digodain," jawab Eza dengan gombalannya.
"Nggak ada yang berani! Pada takut sama Suami aku," sambung Wardah dengan senyuman yang tak luntur.
"Mas, geseran satu kursi dong! Sisain satu kursi di samping aku sama Mbak Arum," ujar Wardah.
"Buat apa Ay?" tanya Eza bingung.
"Buat mahasiswi yang tadi. Aku ada perlu sama dia," jawab Wardah.
Eza tak mempermasalahkannya, tapi ia merasa tak enak dengan Arumi yang duduk di samping istrinya. Sedangkan di samping Eza adalah Bapak petinggi universitas.
"Mbak Arumi, kira-kira keberatan nggak ya kalau kursi ini untuk adik saya?" tanya Wardah.
__ADS_1
"Ohh, Mbak Wardah punya adik di sini ta? Boleh-boleh Mbak, silakan," jawab Arumi terpaksa.
Ia harus menyimpan dalam-dalam topeng aslinya terhadap Wardah di hadapan Eza. Padahal dalam hati dirinya sudah memberikan sumpah serapah untuk Wardah. Tak berselang lama datanglah Mahasiswi yang Wardah maksud. Awalnya ia akan duduk di belakang Wardah saja, tapi Wardah terus memaksanya. Mau tak mau ia duduk di samping Wardah dan Arumi.
"Temen-temen aku pada iri aku duduk sama Kak Wardah, tahuu," adu mahasiswi itu.
"Kamunya ikhlas apa nggak nemenin Kakak?" tanya Wardah.
"Ya ikhlas pakai banget dong Kak," jawab Mahasiswi itu.
Sembari menunggu acara inti dimulai, Eza tampak berbincang dengan Bapak Rektor di sampingnya. Sedangkan Wardah berbincang dengan Mahasiswi di sampingnya. Terkadang juga meladeni mahasiswa yang duduk di belakangnya. Wardah memang seseorang yang cukup humble dengan orang baru. Itulah mengapa banyak orang yang senang berinteraksi dengannya. Sesekali Wardah juga menimbali Eza yang mengajaknya bergabung untuk berbincang.
Hingga tibalah saatnya acara inti. Eza, Arumi, dan satu pembicara lagi naik ke atas podium untuk menyajikan materi mereka masing-masing.
"Mas ke atas dulu ya, atau mau ikut juga?" tanya Eza sembari berpamitan.
"Aku di sini aja... Awas! Jangan deket-deket sama Nyai Blorong!" Ancam Wardah.
"Love you sayang," jawab Eza. tak lupa kecupan di kepala Wardah.
Tentu saja membuat para mahasiswi histeris menyaksikan hal itu. Kebetulan kecupan itu terekam di layar saat menyorot ke arah pasutri itu. Wardah tersenyum mendengar riuh teriakan dari para audiens. Sedangkan Wardah tampak merona malu.
...Bersambung ...
__ADS_1