
Setelah drama kepembalutan, akhirnya Wardah selesai juga dengan itikaf di dalam kamar mandi. Hahaha. Wardah mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum memakai jilbabnya.
"Apaan tuh kayak corong gitu?" tanya Eza mengambil hair dryer Wardah.
"Itu hair dryer lhoo," jawab Wardah mengambil kembali miliknya.
"Sini Mas yang anuin. Gimana caranya?" tanya Eza.
Oke, mau tak mau Wardah mengajari Eza. Bukannya mempercepat, malah memperlambat pengerjaannya.
"Haiissh, tambah lama... Udah ditunggu sama tamunya Mas," ujar Wardah.
Bukannya memberikan kepada Wardah, Eza bersikeras membantunya. Mengeringkan rambut Wardah hingga benar-benar kering. Sembari menunggu Eza, Wardah memilih untuk memoleskan make up di wajahnya.
"Oke! Beres!" ujar Eza.
"Terima kasih suami," jawab Wardah mengecup pipi Eza sekilas. Sukses membuat Eza terbengong. Sedangkan Wardah terkikik sendiri melihat respon Eza sembari mengenakan jilbab.
Wardah mengambil gawai dan memotret dirinya.
"Perfect," monolognya.
"Ayuk Mas!" ajak Eza merangkul lengannya keluar kamar.
__ADS_1
Di aula ternyata masih ramai tamu undangan. Eza menemui rekan-rekannya yang kebanyakan datang di waktu sore atau bahkan selepas maghrib. Sengaja Eza dan Wardah mengenakan baju biasa, karena memang sebenarnya acara selesai sebelum maghrib tadi.
"Presiden jomblo akhirnya nikah juga, hahaha" goda teman Eza.
"Eza dulu diemnya masyaallah banget Mbak kalau ketemu cewek, waktu di pesantren," sambung yang lain. Wardah hanya tersenyum menimpali. Ia sendiri bingung harus bereaksi seperti apa.
Untung saja ada Anisa yang memanggilnya. Akhirnya Wardah pamit dan menghampiri Anisa, Farhan dan juga Caca.
"Mau gendong kembar," rengek Wardah mengambil alih kembar dari gendongan Anisa.
Malam semakin larut Anisa dan Farhan mengajak kedua anaknya ke kamar. Sudah waktunya tidur tentunya. Tinggallah Wardah dan Caca.
"Gimana ekspresi Eza tahu kalau kamu datang bulan?" tanya Caca kepo.
"Kasihan Ca, aku merasa bersalah, tapi di sisi lain juga seneng soalnya aku masih deg-degan kalau bareng Mas Eza," jawab Wardah.
"Dek, latihan buat perform kamu sama Eza besok yuk! Mana orangnya? Eh itu," ujar Mbak Winda sembari celingak-celinguk mencari Eza.
"Za! Ayok kita gladi buat perform besok," panggil Mbak Winda.
Disinilah mereka sekarang. Tempat isolasi untuk latihan mereka. Wardah, Eza, Mbak Winda, dan Kak Nuy sebagai pelatih. Sebelumnya Wardah dan Eza sudah diberikan instruksi untuk menghafalkan salah satu lagu untuk mereka nyanyikan besok. Berhubung mereka dipingit, jadilah hanya malam ini mereka latihan sekaligus gladi bersih.
"Hooam," sudah kesekian kalinya Wardah menguap karena mengantuk. Mungkin juga karena sudah terlalu lelah.
"Udah wes Mbak, modal yakin ajah besok lancar. Udah malam banget," ujar Eza yang merasa iba melihat sang istri lelah. Ia melihat jam tangannya, ternyata juga sudah lewat tengah malam.
__ADS_1
"Feel kalian lebih ditingkatkan lagi lhoo! Ya udah, Mbak pergi dulu, ayuk Nuy!" jawab Mbak Winda.
"Ngantuk ya?" tanya Eza setelah Kakaknya pergi.
Wardah mengangguk sembari menyenderkan kepalanya di pundak Eza. Tanpa persetujuan Wardah, Eza membopongnya ala bridal styl.
"Mas!" teriak Wardah kaget.
"Malu kalau ada yang lihat nanti," lirih Wardah.
"Nggak, udah pada tidur," jawab Eza.
Wardah mengalungkan tangannya di leher Eza. Menempatkan kepalanya di posisi ternyaman. Eza memandangi wajah damai Wardah sembari menunggu lift sampai di lantai kamar mereka. Wanita pujaan hatinya sejak pertama kali bertemu di Bali. Meski dulunya ia masih milik orang lain, tapi Eza benar-benar bahagia kini ia menjadi miliknya.
Ting!
Sampailah mereka di kamar. Eza meletakkan Wardah dengan penuh hati-hati. Memberi kecupan kemudian Eza melaksanakan sholat isya'. Di kamar mandi Eza mencuci mukanya. Membasuh berulang kali.
"Sabar Zaa, palingan juga cuma seminggu, selama 25 tahun juga kamu bisa nahan. Masak iya, nambah seminggu nggak bisa," gumam Eza.
Eza membantu Wardah melepas jilbab dan ikat rambutnya agar nyaman. Mengganti lampu utama menjadi lampu tidur juga ia lakukan. Barulah ia berbaring di samping Wardah. Menyibak rambut Wardah yang menutupi mata tertutupnya. Mengelus lembut alis Wardah dikala sang empunya hampir terusik.
"Bolehkan Ay, Mas meluk kamu?" monolog Eza sembari menggenggam jemari Wardah.
Wardah yang notabennya ***** (nempel molor) dan selalu tidur dengan memeluk boneka atau guling spontan menghadap ke arah Eza dan mendusel ke pelukannya. Dengan senang hati Eza malah menurunkan suhu AC agar lebih dingin lagi dan memeluk erat istrinya.
__ADS_1
🌾🌾🌾
...Bersambung ...