Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Double date


__ADS_3

Hari ini Wardah sudah berada di sekolah dasar negeri yang ada di daerah apartemennya. Ia akan mendaftarkan Inayah di sini. Sekolah yang bersebelahan juga dengan Dinda. Bukan hanya bersebelahan, bahkan sekolah mereka satu wilayah.


Wardah hanya bersama Inayah kali ini. Yang lain sedang sibuk bersamaan. Baru kemarin Inayah sampai, ia sudah minta diantarkan ke sekolah. Diantar Eza tadinya, karena ada meeting jadilah Wardah hanya berdua.


Sampai di ruang kepala sekolah, Wardah sudah disambut dengan ramahnya. Lingkungan sekolah yang nyaman dan tentunya terjamin, membuat Kak Ina menyetujui rencana perpindahan sang anak. Wardah pikir sekolah ini seperti sekolah dasar pada umumnya, ternyata ada kajian keagamaan di sini. Semoga saja ponakannya betah.


Wardah diantar salah satu guru di sana untuk mengelilingi sekolah. Tiba-tiba seorang anak perempuan berlari dari arah depan menghampiri mereka. Siapa lagi kalau bukan Dinda. Dengan semangatnya ia berlari. Dibelakangnya seorang wanita memanggil-manggil nama Dinda. Sudah bis ditebak itu pasti gurunya. Wardah berjongkok menyambut pelukan Dinda.


"Kenapa kok lari-lari sayang?" tanya Wardah lembut.


"Dinda tadi lihat mobil Om Eja kelual gelbang itu. Makanya Dinda nyali," jawabnya.


"Maaf Mbak, tiba-tiba Dinda keluar tadi," ujar guru Dinda.


"Iua, ndak papa Bu," jawab Wardah.


"Ayo sekarang masuk kelas lagi... Aunty tunggu di taman depan kelasnya Dinda," sambungnya lagi.


"Danyan puang yaaa!" ancamnya. Wardah mengangguk setuju. Digandengnya tangan Inayah dan Dinda menuju kelasnya.


"Kalau mau keluar kelas harusnya izin dulu ke ibu guru... Jangan kabur Dinda," ujar Inayah. Dinda mengangguk patuh. Lucu sekali melihat interaksi mereka.


Wardah menemani Inayah bermain di taman sembari menunggu Dinda juga. Sebentar lagi anak itu selesai sekolah katanya.


"Besok langsung sekolahkan Dek?" tanya Wardah pada Inayah.


"Iya, tapi nanti Kakak jemput yaa? Nggak mau kalau nunggunya lama," jawabnya.


"Iyaa, nanti Kakak Aunty," jawab Wardah.


"Nggak mau manggil Aunty! Nggak suka!" tegasnya.


"Hahaha, terserah kamu aja dah," sambung Wardah.


Setengah jam mereka menunggu akhirnya bocil yang ditunggu-tunggu datang juga. Sepertinya tiada hari tanpa berlari. Seolah tiada kata berjalan di otaknya.


"Kenapa harus lari sih?" tanya Wardah setelah Dinda sampai.


"Ndak papa! Ayuk puang!" ajaknya.


"Sebentar ya, tunggu Om Eza dulu," jawab Wardah.


Dinda sebenarnya belum waktunya sekolah, tapi ia sudah merengek minta sekolah sejak usianya 3 tahun. Alhasil sang Mama menyekolahkannya meski cara bicaranya masih cedal. Tenang, sebentar lagi usianya menginjak 4 tahun kok.


"Gimana Mas? Belum selesai ya rapatnya?" tanya Wardah disela teleponnya.


"Otw keluar kantor ini Ay... Masih nunggu dibukakan jalan dari wartawan-wartawan, anak-anak rewel aa?" jawab Eza.


"Nggak sih, anak-anak juga masih main kok itu,"


"Ya udah, hati-hati di jalan. Aku tutup ya? Assalamu'alaikum,"


🌼🌼🌼


"Lama banget jemputnya!" marah Dinda saat Eza datang.


"Macet tadi bos. Ayo kita cari es krim," jawab Eza.

__ADS_1


"Ayo!" teriak Dinda meloncat kegendongan Eza. Karena ia memang tengah berjongkok di hadapan Dinda.


"Sogokannya berhasil ya Pak," sindir Wardah berjalan beriringan dengan Eza dan menggandeng Inayah. Tawa Eza menggelegar menanggapi Wardah.


Tak jauh dari sekolah ada sebuah pusat perbelanjaan. Inayah dan Dinda tak henti-hentinya bercerita. Mulai di jalan hingga kini berjalan menuju mall. Tak henti-hentinya topik pembicaraan mereka.


Perbincangan mereka berhenti saat Wardah menyodorkan menu-menu es krim. Membiarkan mereka memilih sesuai kehendaknya. Jika para bocil memilih es krim, berbeda dengan Wardah dan Eza yang milih boba.


"Celamat makan!" seru Dinda.


"Eiits! Doa dulu sayang," cegah Wardah.


Barulah mereka menikmati pesanan mereka masing-masing. Eza tak lepas melihat ke arah tabletnya. Sepertinya memang urusannya belum selesai. Menyadari Wardah yang memandangnya terus, Eza meringis sembari menyimpan tabletnya. Bukannya mencegah untuk bekerja, tapi Wardah memang tak suka jika waktu bersama digunakan untuk sibuk sendiri.


"Harusnya kalau masih sibuk nggak usah jemput, kan Dedek bisa pesan taksi online," ujar Wardah. Eza tersenyum sembari mengelus lembut kepala Wardah.


"Kan lagi pengen lihat cantiknya Mas," jawab Eza.


Sukses membuat Wardah tersipu. Ember mana ember? Wardah ingin menutupi rona merah di pipinya dengan barang itu saja.


"Mas, boleh coba boba yang itu nggak?" tanya Wardah.


Mereka memang memesan varian yang berbeda. Rasa kepo Wardah mulai bergejolak. Sepertinya yang diminum laki-laki di sampingnya lebih nikmat. Eza memberikan cup minumannya pada Wardah dengan senang hati.


Satu seruputan, dua seruputan, hingga ketiga kalinya Wardah menyeruput. Rasanya benar-benar enak. Perasaan Eza mulai tak enak kali ini. Sepertinya akan ada drama wanita sebentar lagi.


"Mas, tukeran ya? Enakan punya Mas Eza," rengek Wardah. Untung saja dua bocil di depan mereka tak paham dengan drama manusia dewasa di hadapannya. Benar dugaan Eza. Bukan Mbak Winda, bukan Mama, bahkan calon istrinya juga mengidap sindrom drama wanita. Seolah seluruh wanita seperti itu. Nggak tahu kalau para pembaca. Apakah seperti itu juga? Hahaha.


"Iya Ay, apa sih yang nggak buat kamu?" jawab Eza tak punya pilihan. Toh jika ia bilang tak mau, wanitanya akan merajuk.


Eza mengambil gawainya dan mulai membuka akun instagram. Siaran langsung menjadi pilihannya. Sudah lama rasanya ia tak live streaming.


Anehnya mereka mengikuti perintah Eza. Hahaha.


"Assalamu'alaikum gaes," sapa Wardah.


Daebak! Penonton Eza dalam sekejap mencapai 10.000. Sepertinya para netizen Indonesia memang kurang mendapatkan lowongan pekerjaan. Banyak yang rebahan menunggu idola mereka membuka layanan live instagram.


Eza sesekali menjawab pertanyaan para fansnya, dan sering kali mengoceh sendiri bersama Wardah atau dengan dua bocil dihadapannya.


"Ay, banyak banget yang bilang kamu cantik lho," ujar Eza.


"Aiissh! Mau buat akunya salting lagi? Maaf ya bos, nggak bisa," jawab Wardah dengan mantapnya.


"Hahaha, serius Ay..." sambung Eza.


"IG kamu di gembok ya Ay? Kok pada minta di buka itu," ujar Eza.


"Takut Mas, ntar diteror netizen," jawab Wardah.


"Heey para netizen, kalian itu harusnya jangan nakutin calon istri saya, nggak baik itu. Kalau kalian neror kan jadi nggak bisa lihat postingan wajah cantiknya," ujar Eza pada para followersnya.


Plakk!


Satu pukulan mendarat di lengan Eza. Bisa-bisanya berbicara seperti itu.


"Ngomongnya muueesti ngasal lhoo!" ujar Wardah.

__ADS_1


"Hahaha, memang cantik kok!" jawab Eza.


Diambilnya gawai Eza. Wardah penasaran dengan komenan para penonton Eza. Bagaimana bisa calon suaminya begitu santai berbincang dengan orang-orang itu. Untung saja komenan mereka bagus-bagus. Bahkan rata-rata mereka baper melihat idolanya. Malu sendiri Wardah dibuatnya.


Eza membujuk dan memberikan wejangan untuk Wardah. Untuk apa lagi kalau bukan membuka privasi di akun instagramnya. Bukan apa-apa, dengan membuka gembok itu, ladang usaha akan mengalir dengan lancarnya.wkwkwk.


🌼🌼🌼


Tepat setelah maghrib, Eza mengajak Wardah keluar kembali. Tak sendiri, tapi bersama Dea, Caca, dan Hito.


"Kamu kalau mau ngajak temen, ajak aja De," ujar Eza. Kasihan saja jika nanti ia seolah menjadi obat nyamuk di antara dua pasangan itu.


Awalnya Dea tak mau, tapi akhirnya ia membawa satu teman perempuannya. Kini mereka sudah berada di Mall Plaza Indonesia. Hito yang bertugas membeli tiket, sedangkan Eza yang membeli cemilan pendamping ketika menonton di bioskop nanti.


"Ayuk Ay!" ajak Eza.


"Ya Mas ajah, Aku mah nunggu di sini," jawab Wardah yang masih duduk manis di kursi tunggu.


"Nggak-nggak!" kekeh Eza menarik lembut lengan baju Wardah. Mau tak mau Wardah mengikuti Eza berjalan membeli cemilan.


"Ayang yang pilih," ujar Eza setelah sampai.


Wardah memutar bola matanya jengah. Wardah memilih beberapa popcorn, boba, dan 🌭. Biarlah Eza yang membawanya. Di sisi lain, Dea tampak memandangi Eza dan Wardah dengan intens.


"Lo masih terobsesi sama Kakak sepupu Lo itu?" tanya temannya yang memerhatikan teman sekaligus sahabatnya itu.


"Gua gak rela Mas Eza sama janda itu," jawab Dea.


"Dia janda, tapi oke sih parasnya... Baik juga," ujar temannya.


"Kok malah belain tu cewek sih!" protes Dea.


"Udahlah De, elu cantik... Banyak cowok lain yang suka sama elu. Plis deh, lagian Mas Eza kamu itu sukanya sama Mbak Wardah," jawab temannya.


"Haiissh! Malesin dah!" mukanya tambah kucel seketika.


Menunggu selama lima belas menit akhirnya tibalah saatnya mereka menikmati film. Film action Bumi Manusia menjadi pilihan mereka. Film yang berlatar belakang sejarah di jaman Belanda itu menjadi film yang sangat ingin ditonton Eza dan Hito.


"Kirain mau nonton horor," celetuk Caca.


"Itu sih maunya kamu Ca," jawab Wardah.


"Ini nggak ada pembantaiannyakan Mas?" tanya Wardah was-was.


"Nggak tahu Ay, Mas-kan baru nonton juga, hahaha," jawab Eza.


Ketakutan Wardah benar adanya. Ia kira tak ada adegan kekerasan, ternyata tak sedikit adegan seperti itu. Hendak berlindung pada Eza pun tak mungkin. Sedangkan Caca dengan lihainya memeluk Hito.


"Maass," lirih Wardah.


Eza melepas jaketnya dan menyelimutkan pada Wardah dan menutupi wajah Wardah dengan jaket itu pula.


"Pengennya Mas peluk, tapi belum boleh," celetuk Eza.


"Makanya cepet halalin," jawab Wardah dengan sesekali menikmati film itu.


"Bentar lagi Ay,"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2