Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Pulang


__ADS_3

"Mas! IG Dedek diserbu netizen nih!" protes Wardah ketika mereka turun dari bukit. Eza memang tak menandainya, tapi para netizen sudah berbondong-bondong mengiriminya foto itu melalui DM.


"Nggak usah direspon Ay, lagian netizen kepo banget, sok tahu. Padahal Mamas nggak ngetag Dedek," jawab Eza.


"Hiissh! Tapi itu nampak banget kalau Dedek," protes Wardah lagi.


.


.


.


Seminggu sudah mereka menghabiskan waktu berlibur ke Labuan Bajo. Saatnya kini kembali pada rutinitas awal. Wardah sudah bersiap dengan barang-barangnya untuk berangkat ke bandara.


Bunda hendak ikut ke Jakarta ujarnya kemarin hari. Wardah mati-matian menolak keinginan Bundanya, tapi Eza malah mendukung niatan Bunda. Wardah khawatir jiwa-jiwa aktif di sosmednya semakin merajarela jika di Jakarta.


Apalagi dengan saran Eza perihal Bunda yang menjadi manager Wardah. Gaswat ini!


"Bunda, nanti butiknya gimana kalau Bunda nggak ada?" tanya Wardah lagi. Siapa tahu Bunda berubah pikiran.


"Kenapa sih Dek? Gak suka ya kalau Bunda ikut? Bundakan pengen deket sama gadisnya Bunda... Lagian ada Kak Ina, tenang aja," jawab Bunda.


"Iya-iya, terserah Bunda ajah," jawab Wardah frustasi.


.


.


.


Oke! Kini mereka telah berada di bandara internasional Labuan Bajo. Satu penerbangan seolah penuh dengan penumpang rombongan Eza dan Farhan. Anisa bersikeras untuk berkunjung ke Jakarta terlebih dahulu, tapi Farhan dan Bundanya menolak. Mereka harus kontrol pasca perjalanan. Farhan juga ada pertemuan dengan rektor dari universitas lain untuk membahas kerjasama.


Seperti sebelumnya, barang-barang Wardah diambil alih oleh Eza. Begitu pula dengan Bunda, barang-barangnya juga dibawa olehnya. Sampai di bandara Sukarno Hatta, Anisa beserta keluarga berpisah untuk mengambil penerbangan keduanya.


"Kak Eza! Foto berdua dulu yuk!" ujar Husna.


"Boleh, ayo!" jawab Eza yang mulai tersenyum ke arah kamera untuk selfy.


Anisa memeluk Wardah erat karena akan kembali berpisah. Coba saja Farhan tak ada janji, pasti sekarang ia bisa berkunjung terlebih dahulu di Jakarta.


"Hati-hati ya, kabarin kalau udah sampai." ujar Wardah melerai pelukannya.

__ADS_1


"Hay kembar, sehat-sehat ya... Kita bertemu lagi bulan depan, Aunty bakalan gendong kalian," sambungnya sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya dengan perut buncit Anisa.


Kemudian berpamitan dengan Kak Yusuf dan istrinya. Karena Kak Ina juga harus mengurus butik Bunda, jadilah tak bisa ikut tinggal. Jangan lupakan keponakan gemoy Wardah, ia ingin ikut sang Oma tapi harus sekolah. Kasihaaan.


Husna yang dari tempo hari tampak murung, tak ada niatan sedikit pun untuk mengucapkan salam perpisahan untuk Wardah ataupun Eza. Ia hanya mengikuti Anisa di belakang.


.


.


.


"Kak Wardah ya?" tanya seorang pengunjung menghampiri Wardah.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya balik Wardah.


"Aaaa! Kak! Minta foto bareng dooong! Sama Kak Eza juga!" ujarnya heboh.


"Boleh ya Kak, pliisss," sambungnya lagi memohon.


"Sini Mama fotoin," ujar Mama mengambil gawai dua remaja yang meminta foto.


"Terima kasih ya Kak, makasih ya tante," ujar dua remaja itu kemudian pamit pergi.


"Sama-sama,"


Eza mengantarkan Bunda dan Wardah ke apartemen. Alif ikut bersama Wardah tentunya. Ia tak akan mendapatkan jatah jalan-jalan jika bersama Mama dan Papanya pasti. Sedangkan Mama dan Papa dijemput supir mereka.


...----------------...


Bunda langsung mengeksplor apartemen Wardah saat sampai. Senangnya tak kepalang. Istirahat sebentar, kemudian langsung mengecek kulkas anaknya untuk memasak. Nihil! Ternyata bahan masakannya habis.


"Alif, ikut Bunda yuk!" ajak Bunda.


"Ayuk Bun," dengan semangatnya Alif menyetujui tanpa bertanya kemana. Bunda harus membeli sayuran untuk memasak. Sengaja Bunda ajak Alif karena Bunda belum tahu dimana supermaketnya. Dan tentunya agar dibantu Alif nantinya.


Wardah memang ikut Eza ke kantor setelah sampai di apartemen. Eza harus mengecek kantornya, sedangkan Wardah harus melihat kerjaannya yang dihandle oleh Mas Angga rekan kerjanya.


......................


"Mas, Dedek malu... Nanti kalau orang kantor udah tahu tentang kita gimana?" lirih Wardah saat mereka sampai di lobi parkiran kantor.

__ADS_1


"Kenapa? Malu, punya calon suami Mamas?" tanya Eza sok sok marah.


"Ya ndak gitu Masss, Dedek ngerasa belum pantas aja bersanding dengan Mamas," lirih Wardah.


"Haiish, ngomong apa sih Ay? Dedek itu lebih dari pantas untuk Mamas, kita saling lengkapi satu sama lain, okee!" jawab Eza.


"Tenang saja, ada Mas di sini, ayo kita masuk," sambung Eza.


Benar dugaan Wardah, para karyawan tampak memandanginya secara intens. Tapi tak berani mengutarakannya. Mungkin mereka heran, bagaimana bisa seorang Eza lebih terluluhkan oleh sosok Wardah? Pikir Wardah. Eza langsung menuju ke ruang rapat setelah mengantarkan Wardah di ruang divisinya.


"Mas tinggal dulu ya? Nanti Mas susul di studio," pamit Eza mengelus lembut kepala Wardah yang berbalutkan jilbab.


Wardah mengangguk sembari tersenyum menanggapi Eza. Setelah memastikan Wardah masuk, barulah Eza beranjak.


"Nitip calonnya Eza ya Mbak, jangan sampai ada yang gangguin," ujar Eza pada Mbak Nana rekan kerja Wardah.


"Jadi yang diposting tante Sarah itu nggak hoax? Alhamdulillah dah, akhirnya berakhir sudah gosip kalau atasan Mbak gak normal," celetuk Mbak Nana.


"Jangan ngawur Mbak," protes Eza kemudian benar-benar pergi. Mbak Nana terkikik melihat tingkah bos yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.


"Calon Bu Bos kita akhirnya balik ke kantor juga. Kirain resign kamu Dah," celetuk Gina teman satu divisi Wardah juga. Wardah hanya tersenyum menanggapi temannya itu. Ia tahu jika Gina masuk pada daftar haters Wardah. Manusia garis terdepan yang mengagumi calon suaminya. Eeaaakkk!!!


"Mas Angga, ada kendala tidak waktu Wardah izin?" tanya Wardah duduk di samping Mas Angga.


"Alhamdulillah nggak ada sih, kamu langsung ke studio ajah, bentar lagi liputan siang," jawab Mas Angga.


Wardah patuh dan segera menyiapkan penampilannya beserta rundown yang akan ia isi nanti.


"Assalamu'alaikum Pak Eko," sapa Wardah pada salah satu penanggung jawab siaran di studio.


"Waalaikumsalam, udah selesai cutinya Dah? Enak yaa liburan bareng Pak Bos," jawab Pak Eko. Postingan Mama Sarah memang sangat dasyat. Sudah tersebar kemana-mana.


"Hehehe, mohon doanya nggeh Pak," jawab Wardah.


"Pasti itu! Tenang saja, sejauh ini pemberitaan tentang kamu dengan Eza masih terkontrol. Tidak ada yang menghawatirkan," Pak Eko tahu betul kehawatiran Wardah kali ini. Ia takut berita-berita tentangnya menjadi hot gosip. Mengingat Eza merupakan sosok yang amat sangat terpandang.


"Sudah ayo kita briefing, setengah jam lagi dimulai. Jangan kebanyakan ngelamun, tidak baik. Eza tahu apa yang harus dia lakukan Wardah, kamu tenang saja," ujar Pak Eko.


"Iya Pak, terima kasih," jawab Wardah dengan senyuman manisnya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2