Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Masih Liburan


__ADS_3

Selesai mendengarkan ocehan dua bocil yang merindukan mereka, Eza kini tengah memeluk dengan sayangnya Wardah yang duduk di pangkuannya. Deburan ombak yang tak terlalu besar tak mengganggu kenyamanan mereka sama sekali.


Ehm!


Fiona berdeham menyadarkan dua sejoli yang tak menggubris keberadaannya dengan Arumi. Wardah yang hendak beranjak ditahan oleh Eza. Padahal pipinya sudah merah merekah menahan malu sebab dilihat oleh dua orang di sampingnya.


"Kalian bisa keliling-keliling dulu sebelum kita pindah ke pulau selanjutnya," ujar Eza.


"Iya deh! Dari pada lihatin dua pasutri bucin, mending jalan-jalan," sindir Fiona.


"Fiona! Fotoin dulu dong!" ujar Eza memberikan gawainya pada Fiona.


Tanpa meminta persetujuannya, Eza sudah menarik Wardah agar berdiri menyender padanya dan Eza memeluk dari belakang. Fiona memutar bola matanya jengah, ternyata sikap pebisnis sukses yang menjadi idolanya se-freak ini.


Fiona mengambil beberapa foto dengan gaya berbeda, barulah Eza menyuruhnya jalan-jalan keliling pulau. Eza mengamankan barang bawaannya tadi di tempat penitipan, barulah ia menikmati keindahan pulau mungil ini bersama Wardah.

__ADS_1


Digenggamnya jemari Wardah untuk terus di sampingnya. Eza mengedarkan pandangannya mencari posisi Fiona dan Arumi. Karena bagaimanapun mereka juga tanggung jawabnya selama mengikutinya jalan-jalan. Eza menghubungi anak pemilik perahu agar mengamati dua perempuan itu, sedangkan dirinya pacaran berdua dengan istrinya.


Eza mengajak Wardah duduk di bawah pohon rindang di tepi pantai. Tempat pilihan Eza kali ini cukup sepi. Tak ada lalu lalang orang berjalan. Sengaja, agar dirinya bisa fokus berduaan dengan Wardah.


Grepp!


Eza memeluk erat tubuh Wardah yang duduk di depannya. Dengan senang hati Wardah menyender pada dada bidang suaminya.


"Kalau mau duduk liatin pantai kenapa harus mojok berdua di sini sih?" tanya Wardah sembari mengelus lembut tangan Eza yang memeluknya.


"Dasar bucin," ledek Wardah.


"Mas tu seneng banget bisa mesra-mesraan sama kamu," lirih Eza.


"Hahaha, biasanya juga berduaan terus di rumah, kalau nggak di kantor," jawab Wardah.

__ADS_1


"Beda dong Ay... Suasananya lebih istimewa kalau lagi liburan..." ujar Eza.


"Jujur yaa, Mas masih menikmati banget masa berdua kayak gini... Mas takut nanti cemburuan kalau udah ada dedek bayi," keluh Eza.


"Kok gitu sih? Mas nggak mau punya anak?" ngegas Wardah.


"Ya nggak gitu Ayy.... Pengen lah pastinya, tapi untuk saat ini Mas masih nyaman berduaan... Kalau dikasih secepatnya Alhamdulillah, kalau belum ya nggak apa-apa, tetap disyukuri," jelas Eza. Niatnya ingin menenangkan Wardah, tak henti-hentinya Eza menciumi pipi mulus Wardah.


"Emangnya Mas Eza nggak risih, terus ditanyain kapan punya anaknya?" lirih Wardah.


"Sayang, anak itu kehendak yang Maha Kuasa. Kita hanya perlu berusaha. Mas masih nyaman berdua gini sama kamu, tapi bukan berarti Mas nggak pengen punya anak sekarang.... Mas cuma sekedar pengen pacaran berdua gini aja dulu," ujar Eza.


"Allah tahu yang terbaik untuk hambanya Ayy," sambung Eza menciumi ubun-ubun Wardah.


Puas dengan curhatan satu sama lain, Eza mengajak Wardah berfoto di setiap spot menarik yang ada di pulau itu. Setelah puas berkeliling dan sholat Zuhur, Bapak pemilik perahu mengajak mereka melanjutkan perjalanan menuju pulau selanjutnya.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2