Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Barokah


__ADS_3

Lima belas menit lagi mereka akan sampai di tempat tujuan. Ya! Mereka telah selesai mengisi perut mereka. Meskipun sebenarnya sekarang ini tergolong masih pagi. Karena memang baru jam 9.


“Mas, apa nggak papa kalau Mas Eza ngajak Adek?” tanya Wardah ragu.


“Nggak papa Ay, sekaligus kita minta restu sama Abah,” jawab Eza yang membahasakan pimpinan pesantren dengan sebutan Abah.


“Malu Mas,” lirih Wardah.


“Syuuth, kan ada Mas,” jawab Eza menenangkan Wardah.


Lima belas menit berlalu, sampailah mereka di gerbang pintu masuk pesantren. Eza menunjukkan kartu identitas alumni pesantren kepada penjaga. Barulah mereka masuk.


Daebak! Pesantren ini sangat besar. Ini adalah kali pertama Wardah masuk ke dalam pesanten ini. Dulu ada terbesit ingin melanjutkan pendidikan di sini, tapi sang Bunda memintanya untuk tetap di pesantren awal.


Eza mengarahkan mobilnya di parkiran yang telah tersedia. Barulah mereka menuju rumah ndalem (rumah pimpinan pesantren) untuk menyowankan Alif.


“Mas, Abah mau salaman dengan perempuan ndak?” tanya Wardah sebelum mereka benar-benar sampai di ndalem.


“Insyaallah mau,” jawaban yang tak diharapkan Wardah. Dengan begini ia menjadi bingung ikut bersalaman atau tidak. Tapi dirinya juga ingin bersalaman dengan beliau. Ingin menimba barokahnya juga. Melihat bahwa ia baru pertama kali ini menginjakkan kaki disini. Tak apalah, ia akan mengikuti Eza bersalaman. Hitung-hitung ngalap barokah Kyai.


Wardah mencoba untuk menutupi kegugupannya. Ia benar-benar ragu utuk menemui Abah Kyai. Dengan ta’dzim (tunduk) Eza menyalami Abah Kyai di ikuti oleh Alif kemudian Wardah.


Alhamdulillah beliau mau menyalami Wardah. dengan tadzimnya Wardah mencium punggung dan telapan tangan Abah Kyai.


“Sudah puas liburannya Lif? Baru saja Mama kamu menelpon, tanya apa Kak Eza sudah mengantarkan atau belum,” tanya Abah Kyai. Posisi kami duduk di bawah dengan Abah di kursi sofa sederhana. Wardah duduk di tengah-tengah Eza dan Alif. Duduk bersimpuh dengan menunduk. Wardah benar-benar gugup.


“Insyaallah sudah siap belajar kembali Abah,” jawab Alif.


“Ini siapa Za? Masyaallah, cah ayu... Sepupu kamu? Mau mondok di sini ikut Alif?” tanya Abah menanyakan Wardah.


“Bukan Bah, begini... insyaallah dalam waktu dekat Eza mau menikah. Mohon doanya Abah,” ujar Eza.


“Masyaallah, kabar ini yang Abah tunggu-tunggu Za. Nggak jadi ngangkat jadi mantu Abah kalau gitu, hahaha,” jawab Abah dengan tawa bahagianya.


Bisa-bisanya Eza mau dijodohkan dengan anak beliau. Wardah menciut seketika.


“Kemarilah Cak Ayu,” panggil Abah pada Wardah.


Eza mengisyaratkan pada Wardah agar mendekat. Tentu saja Wardah segera mendekat pada Abah Kyai. Duduk bersimpuh di depan beliau. Kepala Wardah dielusnya dengan lembut. Terdengar beberapa bacaan doa Abah bacakan untuk Wardah.


Kalian tahu rasanya? Adem panas tak karuan. Senang bahagia tak terhingga. Saat-saat seperti ini yang sangat disenangi Wardah. ngalap barokah Kyai.

__ADS_1


“Siapa namanya?” tanya Abah.


“Wardah Alisha Khumairah,” jawab Wardah.


“Masyaallah, nama yang cantik seperti parasnya,” jawab Abah. Sontak Wardah tersipu malu mendengarnya.


“Mondok dimana Nduk?” tanya Abah.


“Pesantrennya Abah Munif bah,” jawab Wardah.


“Oalaah, Kyai Munif Jombang?” tanya Abah lagi. ternyata beliau kenal dengan Kyai Munif.


“Inggih,” lirih Wardah.


“Besok Abah mau ke sana. Kalian ndak usah pulang dulu ya? Sekalian sowan ke sana,” ujar Abah.


Sontak Eza gelagapan. Pasalnya ia sudah janji dengan Wrdah jika langsung pulang untuk menjenguk Anisa di rumah sakit. Tapi ia tak berani untuk menolak Abah.


“Inggih Abah,” jawab Wardah spontan. Ia tahu benar Eza bingung, ia paham Eza tak bisa menolak Abah Kyai.


“Gimana Za? Kok cuma diam tok? Apa Wardah saja yang tinggal di sini?” tanya Abah lagi.


“Inggih Abah, siap!” jawab Eza akhirnya.


Yang paling membuat Wardah terharu adalah, Abah ingin menjadi wali nikah untuknya setelah tahu bahwa sang Ayah telah wafat. Bahkan Abah juga sempat berbincang dengan Bunda dan Kak Yusuf melalui telepon.


Anisa juga mendapatkan cipratan doanya Abah karena Bunda berada di rumah sakit. Si Kebar sudah lahiiiiirrr! Wardah rasanya ingin berterak mengucapkan syukur tapi menjaga image di depan Abah Kyai. Berbincang dengan Abah membuatnya lupa untuk mengecek gawai. Padahal Bunda sedar tadi meneleponnya.


Ia baru tahu kelahiran si kembar saat Abah meminta untuk berbicara dengan Bundanya.


“Shila? Nduk, ajak tamunya Abah ini istirahat.” Panggil Abah kepada anak perempuannya.


“Inggih Abah, monggo Mbak,” ajak Shila.


Wardah pamit undur diri mengikuti Shila keluar ndalem.


“Za, kamu cari tempat tidur sendiri. Anshori masih ngabdi di sini, kamu ke kamar dia aja nggak papa. Dia teman sekelas kamukan dulu? Abah mau siap-siap ngisi dirosah ba’da zuhur,” ujar Abah.


“Inggih Bah, saya ke kamarnya Kang An dulu,” jawab Eza kemudian pamit udur diri.


Bukannya istirahat, Wardah malah mengajak Ning Shila jalan-jalan berkeliling pesantren. Wardah memang tipe orang yang humble (gampang akrab) dengan orang yang baru ia kenal.

__ADS_1


“Mau kemana Ay?” tanya Eza yang tak sengaja bertemu Wardah.


Sontak Wardah memukul lengan Eza. Bisa-bisanya ia memanggilnya Ay di depan Ning Shila. Dasar! Tak tahu tempat.


“Jangan manggi itu di tengah umum juga kaliiik!” geram Wadah.


“Memangnya kenapa Mbak kok Mas Eza nggak boleh manggil Ay?” tanya Ning Shila kepo. Ternyata Ning satu ini cukup grapyak juga. hahaha. Wardah kira beliau pendiam.


“Hehehe, nggak papa Ning,” jawab Wardah bingung. Ternyata tak ada yang menyadari bahwa Ay itu adalah perwakilan dari kata “Sayang”.


Azan zuhur memberhentikan Wardah untuk berjalan-jalan di sekitar ndalem. Belum berhenti, tepatnya istirahat sejenak sholat.


Wardah masih penasaran dengan pesantren ini. Setiap mereka berjalan dan ada santri pasti mereka berhenti dan membiarkan kami berjalan terlebih dahulu. Wardah dihadapkan dalam kecanggungan situasi.


Ia seolah berada di posisi yang sama dengan Ning Shila. Padahal ia hanya siapa? Hahaha.


“Sebenarnya saya kurang nyaman kalau para santri seperti itu Mbak,” lirih Ning Shila.


“Saya paham Ning, tapi memang begitu adab dengan guru,” jawab Wardah dengan senyumannya.


“Nanti Mbak Wardah bantu saya ngajar ya?” ajak Ning Shila.


Wardah tercengang seketika. Sudah lima bulan ia berhenti dari rutinitas mengajarnya. Apakah ia harus mengikuti Ning Shila?


“Saya dengar Mbak Wardah sempat mengabdi di pesantren sambil membantu mengajar. Hehehe, maaf tadi nguping,” sambung Ning Shila.


“Inggih Ning,” jawab Wardah akhirnya. Ia tak punya nyali untuk menolak.


Wardah mengikuti para santri sholat berjamaah di masjid pesantren. Tent saja bersama Ning Shila. Tak jarang mereka yang sudah dekat dengan Ning Shla menanyakan siapa gerangan sosok Wardah itu.


Mendadak jadi artis Wardah. Sialnya ada santri yang tahu bahwa Wardah itu presenter.


“Kak! Kakak presenterr di NU Tv itukan? Iyakan Kak?” tanyanya spontan mendekati Wardah. sontak Wardah kebingungan hendak menjawab apa.


“Nanti ya Mbak kalau mau ngobrol, sekarang jamaah dulu,” ujar Ning Shila. Syukurlah, itu menyelamatkan Wardah.


“Ternyata sampean itu artis ta?” tanya Ning Shila.


“Bukan Ning. Saya hanya bekerja sebagai pembaca berita kok,” elak Wwardah.


“Sama aja itu Mbak...” jawab Ning Shila.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2