Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Free


__ADS_3

Setelah malam berdua yang super duper romantis untuk pasutri ini, Seperti biasa, pagi ini Wardah tengah menyiapkan sarapan di dapur bersama Si Mbok dan Mbak Narsih asisten Si Mbok. Mama memberikan pekerja baru untuk membantu Si Mbok, karena memang pekerjaan dapur semakin banyak. Untuk Sakha kali ini Wardah memasakkan sayur sop iga. Itu juga request dari Eza. Selepas sholat subuh Eza meminta pada istrinya agar memasakkan sayur sop.


Tak berselang lama Bunda, dua bocil yang sudah siap dengan seragam mereka, Mama dan Papa sudah berkumpul di meja makan. Tinggal menunggu Kakak Eza dan Eza sendiri yang juga belum turun. Tengah meletakkan lauk terakhir di meja, yang ditunggu akhirnya turun juga. Eza sudah rapi dengan Sakha yang ada digendongannya. Keduanya tampak tersenyumm cerah pagi ini. Keduanya pun sudah sama-sama wangi. Sudah dipastikan Eza berseri karena akhirnya bisa berduaan dengan Wardah, kalau Sakha? Anak itu memang senang tersenyum. Membuat siapa saja akan gemas jika melihatnya.


Eza meletakkan Sakha di kursi khususnya. Biarlah anak itu memakan makanannya sendiri. Memang akan kacau, tapi Wardah sudah menyenakan celemek untuk melindungi Sakha dari tumpahan makanannya.


“Berarti hari ini kamu di rumah ya sayang?” tanya Mama pada Wardah.


“Iyaa Ma, bagiannya libur hari ini. Mungkin nanti siang ke kantornya Mas Eza buat nnganterin makan siang,” jawab Wardah.


“Kalau gitu nanti ikut Mama keluar sebentar ya?” tanya Mama.

__ADS_1


“Mau kemana sih Ma?” tanya Eza.


“Mama mau beli perlengkapan buat dibawa ke rumah tetangga yang mau hajatan. Siapa tahu Wardah bisa bantuin Mama pilih-pilih,” jawab Mama sembari menikmati makanannya.


Setelah selesai sarapan satu persatu sudah berangkat kerja masing-masing. Warda kini sudah menggendong Sakha untuk mengantarka Eza di teras rumah hendak berangkat. Eza menggendong Sakha sebentar untuk perpisahan sesaat mereka. Tak lupa dengan ciuman bertubi-tubinya pula. Barulah cipika cipiki dengan Wardah. Wardah mengajari Sakha untuk mencium tangan Ayahnya diikuti dirinya yang juga mencium tangan Eza.


“Aku tunggu di kantor nanti siang. Nanti kalau Mama ngajak keluarnya lama, kamu tinggal aja Ay,” ujar Eza.


“Ya Sudah, aku berangkat ya sayang-sayangku. Assalamu’alaikum,” pamit Eza.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Wardah.

__ADS_1


Ia menunggu Eza hingga menghilang dibalik gerbang utama. Wardah menyapa sebentar bapak-bapak yang bertugas penjagaan pagi hingga sore, barulah ia masuk ke rumah. Saat hendak naik ke kamarnya, sekilas terdengar sesenggukan dari teras samping. Wardah yang penasaran sontak keluar untuk mengeceknya.


“Mbak Winda?” lirih Wardah menghampiri kakaknya yang gelagapan segera mengelap air matanya.


“Ada apa Mbak?” tanya Wardah lirih dengan mengelus lembut Pundak Winda.


“Hey, Sakhaa…” Mbak Winda mencoba tersenyum menyapa Sakha yang ada digendongan Wardah.


“Nggak papa dek, hehe… Mbak ke kamar dulu ya,” pamit Mbak Winda yang langsung masuk ke rumah.


Kamar mereka yang sama-sama berada di lantai dua membuat Wardah mengikutinya dari belakang. Wardah tak berani menanyakan lagi. Mungkin Mbak Winda masih ingin sendiri. Mereka berpisah di pintu kamar Mbak Winda. Masuk ke kamar, Wardah masih kepikiran dengann Mbak Winda yang menangis. Kenapa? Ia tak pernah sekalipun melihat orang rumah ini menangis, ia pikir semuanya memang selalu happy.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2