Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Melemu


__ADS_3

Eza kini tengah berkunjung ke tempat temannya. Tidak sendiri, tapi dengan Wardah. Sakha? Anak itu tentu saja bersekolah. Teman Eza memiliki sebuah cafe, sekaligus merupakan pelacak handal. Ia memberikan gawainya agar dicek. Nomor telepon yang menghubungi nya beberapa waktu yang lalu tak terdaftar di gawainya. Bahkan riwayat panggilannya tak ada. Ia curiga jika gawainya telah diretas.


“Coba gua cek secepatnya. Kalau ada hasilnya, gua langsung kabarin,” ujar Dika, teman Eza.


“Iya, makasih ya Dik, gua tunggu kabar baiknya,” jawab Eza.


“Mas, aku ke indoapril sebentar ya,” ujar Wardah meminta izin.


“Aku antar ya?” tawar Eza.


“Nggak usah, sebentar aja kok. Cuma di seberang itu juga,” jawab Wardah.


Ia berpamitan kemudian beranjak keluar dari cafe. Tiba-tiba ia ingin membeli sebuah cemilan yang hanya ada di minimarket itu. Padahal di cafe juga menyediakan banyak sajian menu makanan dan minuman.


“Pantesan ada yang ngusik rumah tangga kalian, wong bini Elu cakepnya nggak ketulungan gitu,” celetuk teman Eza, setelah Wardah pergi.


“Gua colok ya mata Lu!” geram Eza.

__ADS_1


“Kalem Bro, Gua cuma bercandaa. Sebejat-bejatnya gua, nggak bakalan gua mengusik milik orang lain,” ujar teman Eza.


Wardah membeli beberapa makanan ringan. Tiba-tiba dirinya ingin onigiri. Enak rupanya menikmati makanan ini. Setelah membayar, Wardah tak langsung kembali ke cafe. Ia memilih untuk duduk di gazebo yang disediakan di depan indoapril.


Matanya berbinar saat pertama menggigit onigiri yang ia beli tadi. Padahal biasanya ia tak begitu menyukai makanan ini, tapi kenapa rasanya enak sekali ini?


Eza yang mulai merasa gusar gegara Wardah yang belum juga kembali dari tadi, langsung beranjak keluar untuk mencarinya.


"Protektif banget sih Za Lu? Bini Lu udah gede kalii," celetuk Dika.


"Harus itu, aku keluar dulu ya," jawab Eza dan segera beranjak.


"Tuhkann, lagi asik sendiri dianya," ujar Dika.


"Gua ke sana dulu," pamit Eza tak menghiraukan celotehan Dika.


"Sial! Eza menang banyak itu! Hahaha, semoga langgeng deh Lu, Za," gumam Dika.

__ADS_1


Dika memang tipikal laki-laki yang bar-bar, humble, dan bebas. Tak heran jika ujarannya terkadang nyeleneh. Mungkin memang akan terlihat risih bagi orang-orang introvert.


"Enak ya?" tanya Eza yang kini sudah ada di samping Wardah.


"Lhoo, Mas Eza kok di sini sih? Emangnya udah selesai diskusinya?" tanya Wardah.


"Udah, kirain kamu kesusahan karena nggak balik-balik dari tadi. Eh! Tahunya malah asik makan di sini," jawab Eza.


Wardah tersenyum lebar mendengarkan suaminya. Disuapinya Eza karena gemas. Bukan hanya gemas sebenarnya, tapi ia salah tingkah diperhatikan dari tadi oleh Eza.


"Beli es krim? Jangan sering-sering lho Ay.... Kemarin kata dokter nggak boleh banyak-banyak," ingatnya.


"Iyaa Mas.... Lagi pengen aja... Nanti juga aku kasih Mas Eza sisanya," jawab Wardah.


Benar saja, baru beberapa suapan, sudah diberikannya kepada Eza. Bukan hanya es krim, tapi juga makanan yang lain. Bukan hanya Wardah yang semakin membuncit, sepertinya Eza juga on the way membuncit juga. Hahaha.


Tak berselang lama, gawai Wardah berdering. Ternyata dari Gita. Tanpa basa basi, langsung saja Wardah mengangkatnya. Beberapa saat mereka berbincang. Eza hanya setia menunggu sembari menghabiskan beberapa makanan Wardah tadi.

__ADS_1


"Iyaa, minggu depan aja ya.... Kita langsung ketemuan di lokasi aja nanti," jawab Wardah di akhir pembicaraan.


......Bersambung ......


__ADS_2