Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Dadakan


__ADS_3

Malamnya Wardah dan Eza juga sudah siap dengan seragam khas penyiaran mereka. Malam ini Wardah dan Eza tak perlu standby sampai pagi. Berhubung malam ini jadwalnya istighosah kubro dan manakib, Eza menyerahkan pada staf yang ditugaskan bersamanya. Besok pagi barulah mereka kembali lagi ke sini. Kasihan Sakha juga kalau ditinggal terlalu lama.


Wardah bermain sebentar dengan Sakha sebelum berangkat. Beruntung Sakha tak neko-neko rewelnya, dengan begitu Wardah bisa tenang meninggalkan sebentar. Keadaan cuaca di luar juga sepertinya tengah mendung, pasti akan kesusahan jika mengajak Sakha.


"Buna pamit dulu yaa, Abang Sakha di sini dulu sama Tante Ncus dan Bude Aisyah," ujar Wardah.


Kakak Ipar dan kakaknya memang menyusul ke Sidoarjo tadi sore. Membuat Wardah semakin tenang meninggalkan Sakha.


"Tenang aja, Sakha juga udah nggak takut kok sama Kakak dan Kak Yusuf," jawab Kak Aisyah menangkan adik iparnya itu.


Wardah mengangguk mengerti, selepas bermain ria, barulah ia, Eza dan Faiz berangkat menyusul rekan yang lain di sana.


"Nanti kakak nggak sampai pagi ya Iz, kasihan Sakha kalau ditinggal 24 jam. Kamu juga bisa tukeran shift sama yang lain kalau mau," ujar Wardah pada Faiz saat tengah berjalan menuju Glora.


"Iyaa kak, kayaknya aku pengen standby di sana deh kak. Udah lama nggak ikut acara sakral begini," jawab Faiz.


Wardah mengangguk mengerti, baru setengah perjalanan tiba-tiba hujan mulai mengguyur dengan derasnya. Eza mengajak Wardah dan Faiz untuk berteduh di salah satu stan depan stadion. Betapa terkejutnya Wardah saat di stand itu juga ada Ning Salma yang tadi ia temui.


Bukan hanya Ning Salma, tapi juga keluarganya yang merupakan tamu undangan. Eza yang juga sudah mengenal Ayahanda Ning Salma yang merupakan Kyai, langsung menyambut beliau dan rombongan. Ning Salma yang kembali bertemu dengan tentu saja kegirangan dan menunjukkan pada Umi-nya jika Wardah adalah orang yang ia maksud. Ternyata Ning Salma sudah bercerita banyak mengenai Wardah pada Umi-nya.

__ADS_1


"Jadi dulu mondoknya di pesantren Abah Fadhoil Nduk?" tanya Umi.


"Nggeh Umi, kulo alumni pesantrennya Abah Fadhoil," jawab Wardah dengan takzim.


"Salma dari tadi kegirangan pas ketemu kamu, kayak ketemu artis, lha kok ternyata artis beneran," sambung Umi dengan tawa renyahnya.


Wardah asik berbincang dengan para wanita, sedangkan Eza berbincang dengan Abi-nya Ning Salma dan rombongan laki-laki lainnya. Setelah hujan tinggal rintikan kecil, mereka bersama-sama masuk ke dalam Stadion melalui pintu khusus. Jika menggunakan pintu utama pasti akan berdesakan dengan warga sekitar.


Ning Salma dan keluarga menuju kursi undangan, sedangkan Eza dan Wardah menuju ke tempat stafnya berkumpul. Wardah segera bersiap untuk memulai liputan terkininya. Tidak sendiri, tapi ditemani oleh Sang Suami. Eza memang tanpa dugaan, awalnya ia ikut hanya untuk mengawasi sembari mengantarkan Wardah, sampai di sini ia justru mengajukan diri sebagai presenter bersama Wardah.


Eza mengenakan jas hujan untuk istrinya. karena memang masih gerimis. Setelah siap barulah mereka memulai liputan, meski sedari sore tadi kamera memang sudah standby menyala tanpa presenter.



Tentu saja Wardah senang sekali, bagaimana tidak, bersama Eza membuatnya bisa mengenal orang-orang luar biasa.


"Mau ya kak.... Aku pernah denger suara kakak, MasyaAllah bagus bangeet," ujar Ning Vida yang meminta pada Wardah untuk menemaninya melantunkan sholawat esok hari sebagai penampilan.


Wardah yang mendengar permintaan gadis itu tentu saja bingung hendak menyetujui atau tidak. Hal itu benar-benar diluar dugaan. Bagaimana mungkin ia disandingkan dengan gadis ayu ini?

__ADS_1


"Mau saja ya Nduk, biar Vida-nya ndak grogi kalau ada temannya... Nanti biar dikonfirmasikan ke panitia," sambung Ibunda Ning Vida.


Wardah semakin bingung. Ia ke sini hanya untuk sekedar meliput acara, malah diminta ikut andil dalam acara inti.


"Nggak usah terlalu bingung dengan pertimbangan-pertimbangan, kalau Mas setuju," ujar Eza mengelus lembut pundak Wardah.


Akhirnya Wardah menyetujui setelah Ning Vida kembali memintanya. Mereka berdua ternyata tampil esok hari bersama dengan para santri yang melantunkan nadhom-nadhom syi'ir. Mereka langsung berlatih setelah Wardah menyetujui. Mau tak mau Eza harus menunggu istrinya sembari berbincang dengan rekan yang lain. Di aula hotel tempat menginap Ning Vida mereka berlatih, dan ternyata hotel mereka sama.


Dunia benar-benar sempit, mereka selalu dipertemukan dengan cara yang luar biasa. Bukan hanya latihan berdua, ternyata di aula itu sudah ada sebagian santri yang ikut tampil. Wardah yang juga merupakan influence NU tentu banyak yang mengenal. Terutama para santri. Mereka berbondong-bondong meninta foto pada Wardah. Ning Vida dan rombongan yang lain sampai turun tangan mengamankan hal itu. jika digunakan untuk meet up penggemar tentu saja mereka tak jadi latihan. Apalagi ini penampilan dadakan untuk Wardah.


"Nanti kita foto bareng-bareng, sekarang kita latihan dulu Mbak-Mbak! Besok kita juga akan bertemu lagi. Besok malah banyak waktu kita bisa berbincang dengan Ning Wardah," ujar Ning Salma.


"Kulo mboten kalangan Ning, Ning Vida ngapunten," ujar Wardah mengklarifikasi ucapan Ning Vida.


"Njenegan lho sudah dianggap anak kaliyan Abah Fadhoil, jadi sudah masuk kategori," jawab Ning Vida dengan senyum lebar.


Setelah perdebatkan singkat itu akhirnya para santri menurut, mereka langsung kembali berlatih.


Eza yang membawa beberapa makanan untuk kakak iparnya pamit undur diri terlebih dahulu naik ke atas. Saat turun kembali ternyata Sakha belum tidur. Siang tadi anak itu sudah tidur lama, pantar saja sekarang masih segar. Kedatangan Sakha kembali membuat heboh warga dalam aula ini. Tentu saja mereka mengagumi sosok anak kicik yang imutnya luar biasa itu. Sakha yang digendong oleh Sang Ayah langsung memeluknya erat menyembunyikan wajahnya di leher Ayahnya. Kaget dengan para penggemarnya.

__ADS_1


"Sabar ya Nduk, ya begitu kalau ketemu penggemarnya. Kesalahan ini, kalau Mas Eza bawa Tole ke sini, hahaha," ujar Bu Nyai ibunda Neng Vida.


...Bersambung ...


__ADS_2