
Acara dua hari mulai dari persiapan hingga selesai begitu menyisakan kesan yang teramat mendalam. Semoga semuanya mendapatkan limpahan barokah dari para Masyayikh. Di hari puncak perayaan ini, Wardah dan Eza tak mengikuti hingga akhir. Mereka memilih untuk segera kembali ke Jombang setelah maghrib. Berbeda dengan Faiz, anak itu memilih untuk tetap tinggal dan berencana untuk kembali ke Jakarta bersama para staf yang lain.
Saat ini Wardah dan Eza sudah berada di stasiun Sidoarjo menanti keberangkatan mereka. Bukan hanya mereka, tentu saja dengan Kak Yusuf dan juga istrinya. Mereka harus packing untuk barang yang di bawa ke Jakarta. Di samping itu, Wardah juga harus bertemu Anisa terlebih dahulu sebelum pulang.
Eza mengajak Sakha untuk membeli es krim supaya tak bosan. Sepanjang keberadaannya suaminya itu selalu menjadi pusat perhatian para ciwi-ciwi. Apalagi melihat Eza yang tampak sangat perhatian dan telaten terhadap anaknya, bukannya membuat mereka berhenti mengagumi, justru semakin menjadi. Hot Daddy kata mereka. Tentu saja Wardah kalang kabut dibuatnya. Kesalahan besar melepas masker di tempat umum. Memang sepertinya di sini tak banyak yang mengenal mereka, tapi jika gantinya menjadi bahan pujian seperti itu Wardah juga tak rela. Siapa suruh punya suami paket komplit?
Wardah langsung mengikuti Eza dan Sakha yang masih sibuk memilih jenis es krim yang akan dibeli. Mengambil masker yang ada di kantong blazer-nya, dan langsung dikenakannya pada Eza. Kak Aisyah yang kebetulan melihat hal itu geleng-geleng kepala sendiri, gemas melihat keposesifan adik iparnya. Sedangkan Eza yang mendapatkan perlakuan itu bingung sendiri. Kenapa gerangan istrinya tiba-tiba memakaikan masker untuknya?
“Jangan berani-beraninya tebar pesona pakek wajah Mas yang jelek itu ya!” tegas Wardah.
Eza tersenyum tertahan setelah mengerti maksud perkataan istrinya. Tak menolak sedikitpun saat Sang istri memasangkan masker menutupi hidung dan mulutnya. Eza memberikan tasnya pada Wardah memintanya untuk membayar es krim yang sedang disiapkan. Tangannya menggendong Sakha, dan sisi lainnya merangkul Pundak Wardah. Wardah melirik sekilas kea rah ciwi-ciwi yang tadi mengagumi suaminya. Memastikan jika mereka menyaksikan keuwuan suaminya dan melihat dirinya yang merupakan istri satu-satunya seorang Eza.
__ADS_1
“Itu Mbak-Mbak yang duduk di depan kita tadi-kan? Gua yakin Mbak itu denger pembicaraan kita! Itu istrinya Oppa-Oppa itu?” obrolan mereka kembali memanas.
“Nggak heran sih itu istrinya, sama-sama cakep! Tapi kok kayak nggak asing sih sama wajahnya,”
Wardah menyerahkan lembaran uang tunai untuk membayar es krim. Alih-alih menggunakan blackcard, Wardah dan Eza justru lebih senang bepergian jika menggunakan uang cash. Blackcard hanya mereka gunakan untuk transaksi tertentu saja. Selesai membayar es krim, bertepatan dengan saatnya mereka masuk ke kereta. Melihat ada petugas angkat barang penumpang, Eza memilih untuk menggunakan jasa angkut itu. Hitung-hitung membantu pemasukan para Bapak-Bapak itu.
Saking perhatiannya, Eza masih setia merangkul pundak Wardah.
"Hati-hati," ujar Eza saat akan naik.
Eza terkikik mendengar tuturan Wardah. Ia bahkan tadi spontanitas mengucapkan hati-hati. Tangannya terulur pada tempat bagasi barang kereta agar tak terpentok Wardah saat akan duduk. Menikmati keindahan pemandangan malam selama perjalanan sembari menikmati es krim yang mereka beli tadi. Meski hanya terlihat gemerlap lampu yang terpancar dari rumah-rumah penduduk. Lebih banyak suguhan gelap gulita karena memang tak banyak lewat di daerah pemukiman. Lebih banyak lewat di kebun-kebun warga.
__ADS_1
Setelah enjoy di dalam kereta, Wardah juga memanfaatkan waktu untuk menyuapi Sakha. Ia juga menyiapkan makan malam untuk suaminya juga yang kebetulan Kak Aisyah tadi sempat masak sebelum berangkat ke stasiun. Duduk mereka yang satu berbanjar membuat ke-empatnya bisa berbincang bersama juga. Space depan tempat duduk yang luas membuat Eza bisa memanfaatkan stroller Sakha untuk duduk dan tempat tidur anak itu. Eza sesekali menyuapi Wardah agar tetap bisa makan bersama. Eza selalu tak tega jika harus melihat istrinya makan terpisah atau makan terakhir sendiri.
"Tadi Mas Eza ngobrol apa aja sama Cak Ibil?" tanya Wardah sembari menyiapkan susu untuk Sakha. Pengantar tidur lebih tepatnya.
"Emm banyak sih Ay... Ya ngobrol tentang kehidupan baru khas kalau lagi temu kangen alumni gitu," jawab Eza.
"Ternyata dia udah nikah juga lho Mas, kok nggak ngundang kita ya?" heran Wardah lagi.
Sesi pengghibahan pun dimulai dua sejoli itu. Untung saja Sakha sudah mengantuk, semoga saja tak fokus pada perbincangan kedua orang tuanya.
"Gara-gara jauh mungkin sayangku, kasihan sama kita," jawab Eza yang kini merebahkan kepala Wardah di pundaknya.
__ADS_1
"Dia tadi sempet curhat sama Mas. Dia minta maaf karena pernah mengganggu kamu dulu waktu dia nyusul ke Jakarta. Terus dia juga bilang kalau dia bakalan berusaha move on dari kamu secepatnya. Dia udah bertekad untuk menjalin hubungan keluarga yang sehat dengan istrinya yang sekarang," sambung Eza mengelus lembut pipi chubby istrinya.
Alhamdulillah, semoga saja ini menjadi awal yang baik untuk Cak Ibil dan istrinya.