
tiga jam berlalu, membutuhkan waktu kisaran enam jam perjalanan dari kota kecilku menuju ke Tokyo. Di beberapa jam sebelumnya, aku sudah menyelesaikan gambar yang aku buat. Aku kurang puas dengan hasilnya karena hanya menggunakan pensil dan alat gambar Minim lainnya. Aku merapikan peralatan ku dan menaruhnya di sebelah kiri bagian dari dalam meja tepatnya dekat dengan jendela. Aku terdiam sejenak kebingungan. Aku sungguh kehabisan ide untuk mengisi waktu luang ku. Aku kembali terpaku memangku dagu sembari menatap keluar jendela.
Tidak terasa setengah jam berlalu, aku masih saja terdiam tercengang melihat keluar jendela dengan udara yang sejuk dan lembab. Langit yang kulihat sebelumnya sangatlah bersih dan cerah, kini telah menjadi mendung karena awan comulus mulai menyelimutinya Seperti gumpalan-gumpalan awan yang menyerupai brokoli. Tidak lama kemudian, langit siang yang cerah sebelumnya kini berubah menjadi samar seperti halnya langit di pagi hari nan subuh.
Dingin angin mulai terasa menusuk Indra peraba ku dan membuat aku menggigil sembari merinding sejenak. Aku langsung menutup pintu jendela, menariknya dari atas ke bawah lalu menguncinya rapat-rapat menggunakan tuas pengguna yang bentuknya dan besarnya hanya berbeda sedikit dari tangkai es krim dan panjangnya setara dengan paku 2 inci. Usai melakukan itu, lampu kereta langsung menyala dan memancarkan cahaya yang tidak cukup buruk untuk kesehatan mata dalam membaca.
Udara mulai semakin dingin, penumpang mulai mengeluarkan dan langsung mengena kan jaket dan sweater mereka. Untung aku sudah pakai sweater hari ini
Langit mulai menumpahkan airnya yang kian jatuh ke permukaan kerak bumi begitu lebat dan begitu deras disertai dengan sambaran petir dan Guntur yang bergemuruh dan cahaya kilat bagai membelah awan. Melihat fenomena itu sekaligus secara langsung aku menutup kaca jendela kereta menggunakan gorden yang ada semula tergantung dan kini tergerai lebar.
Dari kejauhan, tepatnya di ujung pintu gerbong penyambung antar gerbong satu dengan yang lain. Aku melihat seorang kondektor mendorong troli dengan berbagai makanan ringan dan ada didalamnya ala carte. Apa tugas kondektor itu berhenti di setiap barisan tempat duduk dan menawarkan apa makanan yang bawa. Hingga akhirnya dia tiba di tempatku dan menawarkan makanan yang terdapat dalam ala carte.
" Permisi Bu apa Ibu ingin memesan salah satunya?" ucap kondektur wanita itu sambil memegang kopi dan teh.
" Terima kasih penawarannya, tapi yang saya butuhkan sekarang hanya Pop Mie Instan Apakah ada?" ucapku sengaja terasa manis dan imut.
" Ada Ibu, mau yang mana? Ada yang rasa kari ayam ada yang rasa ayam bawang."
" Saya mau yang kari ayam saja Mbak." ucapku sambil mencari uang yang pas dengan harga pasaran Pop Mie Instan tersebut.
Tidak lama, aku menemukan uang yang pas. Aku melihat memperhatikan Pop Mie yang diletakkan oleh Mbak kondektor. Sudah dalam keadaan terisi air panas dan bumbu serta fork yang diletakkan di atas tutup agar menimpa tutup hingga rapat. Ih baiknya
Aku bangkit berdiri dari tempat dudukku dan menghampiri si mbak kondektor Ya sudah beranjak ke tempat meja yang lain.
" Mbak Ini uangnya" ucapku dengan suara kecil kepada Si Mbak petugas. Si mbak kondektur hanya diam " ini uang Pop Mie nya Mbak" ucapku tegas sekali lagi. Lalu si Mbaknya mulai membuka mulut dan berkata " Maaf Ibu, tapi ini semua yang ada di troli adalah fasilitas dari kereta." aku terdiam terkapar malu mendengar apa yang dikatakan oleh Mbak kondektor. Aku langsung mengambil jalan keluar, " Iya sudahlah kalau begitu ini untuk Mbaknya aja." ucapku sambil memasukkan uang tersebut ke dalam kantong seragam Mbak kondektor dan langsung berbalik badan Kembali ke tempat duduk.
Di tempat duduk Aku memikirkan satu hal, ketika aku berbalik badan, ada seorang pria dengan rambut hitam pekat dan kacamata hitam menggunakan jaket hitam dada terbuka hingga kaos hitam yang dia kenakan terlihat. Pria itu melirik ku. Aku tidak tahu apa Ya maksudnya apa dia ingin menertawakan ku atau Ada hal lain selain itu aku terus kepikiran tentang hal itu sambil aku memakan Pop Mie Instan ku.
Beberapa saat kemudian, kereta api yang aku tumpangi telah berhenti di stasiun utama Tokyo. Aku membuka gorden pada jendela lalu memastikan barang-barang agar tidak ada yang tertinggal. Hujan yang kereta api yang aku tumpangi temukan ternyata merata luas menyelimuti kota Tokyo. Usai membereskan barang-barang, aku mengantre menunggu berjalan keluar gerbong kereta.
Di luar, aku langsung mencari tempat duduk untuk menunggu jemputan. Suasana di Tokyo sangat ramai dan berisik. Suara suara itu masuk mendengung di telingaku. Sangat berbeda dengan kota kecil asalku. Ucapku dalam hati.
Tidak lama berjalan, aku akhirnya tiba di ruang jemputan dan langsung menghampiri kursi yang masih kosong. Aku duduk dan meletakkan kedua koper milikku di sebelahku. Aku mengecek handphone dan melihat ada panggilan masuk tidak terjawab dari Lina. Ingin menghubungi balik ternyata sudah di telfon terlebih dahulu. Aku langsung mengangkat.
__ADS_1
Halo !
Halo say, sudah sampai di stasiun Tokyo?
Sudah dong say, ini baru aja duduk di ruang tunggu jemputan.
Ok lah say. ini aku sedang menuju ke stasiun. Ditunggu ya...
Eh? sekarang? Bukannya lu masuk kerja hari ini?
Masuk sih masuk... Tapi kau lihat juga lah jam say.
Seperti apa yang di katakan Lina, aku langsung menatap ke arah jam. Sekarang sudah pukul 18:30
Oh iya ya, sudah jam pulang kerja ternyata.
Ya, begitulah. Ini aku udah dekat say di tunggu ya.
*Ok sip.
Tit...Tit*... (Sambungan terputus)
Aku memasukkan kembali Handphone kembali kedalam tas, duduk semari memandangi sekitar menunggu kedatangan Lina.
Kisaran seperempat jam kemudian, handphone ku bergetar sekali dan itu menandakan ada notifikasi masuk. Aku melihat nama Lina di layar handphone milikku yang menyalah dan
^^^"Udah. Dimana lu say? Gw udah di luar nih. Mobil putih Pajero ya say.^^^
^^^"^^^
"Ok tunggu bentar aku keluar"
^^^👍👍👍^^^
__ADS_1
Aku beranjak dari tempat duduk dan langsung keluar menyeret kedua koper yang aku bawa. Begitu aku keluar dari pintu lobby, mataku langsung tertuju pada mobil yang ciri-ciri nya sama seperti yang Lina katakan. Itu dia mobilnya. Aku harus cepat. Tiba tiba saja langkah kakiku terhentikan ketika melihat Lina keluar dari dalam mobil. Rambutnya tergerai bergelombang dengan poni yang di kesampingkan, menggunakan gaun hitam bercak hijau muda dan dengan garis kuning di ujung gaun yang hanya sebatas lutut yang di buat mengitari 360⁰ gaunnya dengan bawahan boots bertumit. "Akhirnya kita bertemu lagi." Ucap kami serentak berpelukan dan tertawa bersama.
......................
"Bagaimana keadaan di kampung? Apa si Jack masih saja tergila-gila padamu? bagai mana hubungan Audrey dan Vinton? Aku sungguh rindu mereka." Ucap Lina.
Aku menjawab semua pertanyaan yang Lina berikan sepanjang perjalanan menuju ke kontrakan.
Usai itu Lina curhat tentang awal mula dirinya bekerja di Tokyo, hingga keberadaannya saat ini. Aku sangat senang kalau harus menjadi pendengar yang baik untuk Lina. Dari dulu Lina memang tidak pernah berubah. Dia adalah gadis yang tangguh. Ucapku dalam hati sambil mendengarkan cerita hidup Lina.
Perjalan kami sangat senang namun lambat. Selain faktor cuaca hujan, faktor jam pulang kerja juga sangat berpengaruh di lalulintas. Namun setelah sejam lebih kami bercerita, tidak terasa sudah mau sampai di tempat tujuan.
"Apa benar ini tempatnya say?" Tanya ku setelah mendengar kata kita sudah sampai dan melihat rumah putih yang besar dengan pagar yang tinggi beserta lampu tiang yang membuatnya terlihat arogan.
"Ya, kita sudah sampai di rumahku." ucap Lina sambil membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil lalu membuka gerbang garasi dan kembali duduk di kursi stir. Aku hanya terdiam seribu bahasa, terpaku menatap rumah dan bersembah sujut dalam hati.
Lina memasukkan mobil kedalam garasi dan membukakan pintu bagasi.
"Mau sampai kapan melototi dari luar? apa ngak mau ikut masuk ke dalam?" ucap Lina sambil mematikan mesin mobil.
"Eh, maaf." ucapku sambil menyikapi barang bawaan.
Aku menurunkan koper milikku dari bagasi, sementara Lina menutup gerbang garasi. Usai itu Lina langsung membawaku masuk ke rumahnya dan aku berjalan mengikutinya dari belakang. Rumah Lina begitu mewah dan besar, sungguh sangat estetik.
"Dengarkan aku sebentar. Ini sofa dan TV untuk menyambut tamu, disebelah sana ada meja makan, lorong yang ada di dekat tangga itu untuk ke dapur, dapurnya sama kok seperti dapur biasa, ada satu kamar mandi, pintu slim itu untuk ke halaman belakang tempat menjemur pakaian. Kalau kamar, semuanya ada di lantai satu. Kamu boleh lilin yang mana aja yang kamu suka kecuali yang di sebelah kanan tangga. Itu adalah kamarku." Ucap Lina.
"Tapi say, seberapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk menginap di sini?" Tanyaku.
"Aku tidak perlu uangmu. Yang aku perlu hanya kehadiranmu. Cukup temani kesendirian ku di rumah besar ini." Ucap Lina dengan suara kecil sambil melangkah menuju ke kamarnya.
"Terimakasih*" Ucapku.
Lina melihat ke arahku dan memberikan senyuman. Usai itu aku langsung memilih kamar yang bersebrangan dengan kamar Lina yang ada di sebelah kiri tangga
__ADS_1