Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Jakarta


__ADS_3

Setiap perpisahan memang sangat menyakitkan. Sekuat tenaga aku membendung air mata agar tak mbrebes mili. Anisa dan Bunda selalu saja memancingku untuk ikut menangis. Aku tak boleh menangis, jika tetap menangis, dapat dipastikan aku tak jadi berangkat. Aku harus kembali berpura-pura tegar lagi sepertinya.


Setelah berpelukan sebentar, aku segera masuk ke dalam karena jam memang sudah terlalu mepet. Bapak petugas sampai membantu membujuk bumil satu itu yang terus saja memelukku. Hahaha, lucu tapi juga sedih....


Kulihat kebelakang sejenak, Anisa masih menangis, untung saja ada Mas Farhan yang menenangkannya. Bunda, beliau terlihat mengelap sisa air matanya sembari melambaikan tangan padaku. Tunggu anakmu sikses Bun, dan membawa pulang calon menantu yang tak mengecewakanmu lagi. Eaaaakkkkk!!!


"Yang di bagasi ini saja dek?" Tanya petugas check in.


"Itu aja udah banyak banget Mas, masa mau saya tambahin lagi. Masnya mau bantuin saya ngangkut nanti?" Jawabku, barang segitu saja aku sudah susah payah membawanya. Untung saja tadi ada yang menawarkan batuan gratis.


"Hahaha, sendirian aja dek? SMA di Jakarta aa?" Tanya petugas itu lagi.


"Saya ini sudah lulus kuliah satu tahun yang lalu Mas," Jawabku geram, dari tadi panggilannya adek-adek terus.


"Ya Allah, saya kirain masih SMA mbaknya..." Ujar mas-mas penjaga itu tadi.


Aku segera ke ruang tunggu untuk menyudahi kebanyolan mas-mas petugas , untung saja ganteng. Selain itu, untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Pasalnya tidur hanya sebentar semalam, membayangkan akan memulai hidup baru rasanya sedikit menyedihkan.


Jika biasanya Aku sangat menikmati perjalanan udara, kali ini aku gunakan untuk tidur. Mumpung bisa tidur sodaraaaa.

__ADS_1


Satu jam sudah berada di ketinggian. Akhirnya mendarat juga di tanah ibu kota. Sudah lama sekali tak menginjakkan kaki di sini. Mana nunggu bagasi lama banget. Banyak lagi! Siapa sih yang masukin barang banyak gini? Padahal aku sendiri.


Dengan sedikit rekoso bin usaha yang cukup kuat, Aku mendorong troli bawaannya keluar bandara. Wardah sudah diberi kabar Caca jika ia tak bisa menjemput di bandara. Alhasil Aku harus memesan taxi untuk sampai di apartemen temannya itu.


Oke! Mulai sekarang harus membiasakan diri berkecimpung pada kemacetan Ibu Kota. Seperti siang ini, mana udara panas, berdebu, macet lagi. Hampir menghabisi waktu satu jam hingga kini Aku menginjakkan kaki di sebuah gedung mewah. Percuma saja ia sampai di sana, ia tak bisa masuk karena tak memiliki kartu akses.


"Assalamualaikum, kamu gimana sih zeyeng? Gimana masuknya? Akukan nggak punya kartu akses!" Ujarku dengan Caca di sebrang telepon.


"Wa'alaikumussalam, hehehe, iya maaf Nis! Aku lupa, bentar-bentar! Tut. tut. tut." Sambungan terputus.


Asem! Malah ditutup teleponnya. Masak aku harus ngemper di sini? Bisa diusir aku ini. Mana barang bawaannya banyak bener lagi. Udah jadi bahan tontonan diri ini. Duuuuh, ngeluh aja terus.


"Wa'alaikumussalam," Jawabku. Demi apa! Cowok ini tampan banget! Setelah formal dengan jas yang berbalut rapi. Emmmm, menggoda imanku saja.


"Mbak? Hallo!" Ujar Mas-mas itu.


"Eh! Iya? Ada apa ya Mas?" Tanyaku.


"Adek ini tamunya Hito ya?" Tanyanya.

__ADS_1


Sontak membuatku mengerutkan dahi merasa bingung. Hito siapa? Tanpa pikir panjang, aku membukan gawaiku dan segera menghubungi Caca.


"Ca!" Panggilku dengan menuntut.


"Hey! Jangan teriak peak! Aku udah minta tolong pacarku buat ngantar kamu ke kamar aku, udah datangkan dia?" Tanya Caca.


"Yang ini orangnya?" Tanyaku, karena memang Sambungan video call.


"Lho! Bapak! Hito nyuruh Bapak ta?" Tanya Caca pada laki-laki itu. Kelihatannya sih masih muda kinyis-kinyis, lha kok di panggil bapak.


"Iya! Hito telepon saya tadi," Jawab orang itu singkat.


"Kamu ikutin orang itu aja Dah! Dijamin aman," Ujar Caca yang kemudian mematikan teleponnya.


"Ayo" Ajaknya mendahuluiku.


Nggak ada niatan bantuin sama sekali apa ni orang! Oh no! Aku suudzon, ternyata dia mengambil troli dan meletakkan koper dan tas di atasnya. Ouuh! Coocweet, didorongin dong sama dia.


Aku mengikuti orang itu ke meja resepsionis, mengambil cardlock ternyata. Setelah itu kami menaiki lift, sepi! Hening! Macam kuburan ajah. Sesekali kepergok dia seakan melihat kepadaku. Eaaaakkkkk! PD sekali kamu Dah.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2