Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Pulang


__ADS_3

Selesai menyiapkan makanan untuk siang ini, Wardah izin keluar menemui Husna. Anisa baru saja meneleponnya untuk memberikan kabar untuk Husna. Umi barusan juga diberi tahu. Senangnya Masyaallah, tak henti-hentinya beliau mengucapkan syukur.


"Husna manggilnya Ustadzah atau Kakak nih?" tanya Husna yang kini sudah duduk di meja kantin bersama Wardah.


"Kakak aja, kan Kak Wardah udah nggak ngajar di sini," jawab Wardah dengan senyumannya.


"Kakak mau ngasih tahu kalau Kak Anisa sudah lahiran," sambungnya to the point.


Sontak Husna terbelalak. Kaget campur bahagia. Iapun memaksa Wardah agar menelepon Anisa ataupun Farhan. Tak tanggung-tanggung, ia sampai mengguncang-guncang tangan Wardah.


Padahal tanpa dipaksa pun Wardah akan tetap menelepon Anisa.


"Utututuuuu, comel bangeeeetttttt!" gemas Husna setelah melihat kedua keponakan barunya.


"Mau pulang Kaak!" rengek Husna.


"Kamu baru aja masuk pondok, masak mau pulang lagi?" tanya Anisa.


"Pengen lihat dedek gemeezz Kak," ujarnya lagi.


"Ngomong sama Bunda aja sendiri," sahut Farhan kemudian memberikan gawainya pada Bunda.


Dengan sabarnya Wardah menunggu Husna yang sedang bernegoisasi dengan Bundanya.


"Kakak ke ndalem dulu ya?" ujar Wardah. Husna manggut-manggut menanggapi.


Bosan juga menunggu bocah itu menelepon. Ia juga khawatir jika di ndalem membutuhkan kinerjanya. Wardah terkaget-kaget saat Eza tiba-tiba berdiri di depan pintu ndalem.


"Dari mana?" tanya Eza.


"Nemuin Husna, lagi teleponan sama Bundanya itu," jawab Wardah.


πŸ’›πŸ’›


"Assalamu'alaikum," sapa Husna di depan pintu masuk ndalem.


Untung saja Wardah sudah selesai makan, ia segera izin dengan Abah Munif untuk keluar menghampiri Husna. Sepertinya anak itu baru saja selesai menelepon.


"Udah?" tanya Wardah setelah duduk di pinggiran teras.


"Izinin buat pulang Kak," rengeknya.


"Nggak boleh izin pulang terus dek," ujar Wardah.


"Kaakkk," lirihnya.

__ADS_1


Bagaimana menasehati bocah ini? Wardah sendiri tak punya nyali untuk meminta izin pada Abah. Hingga Eza datang menghampiri mereka berdua.


"Mau pulang?" tanya Eza to the point. Sontak Husna mengangguk dengan semangatnya.


"Ya udah Ay, biar Mas yang izinin ke Abah," ujar Eza.


Ternyata tak sulit meminta izin untuk pulang pada Abah, tapi ada syarat yang harus Husna lakukan selama izin. Yakni tetap setoran hafalan selama di rumah. Kini kembali pada Wardah yang ditugasi sebagai pengawasnya.


Setelah izin, kini Wardah sudah berada di tengah-tengah kerumunan para santri. Tepatnya teman-teman seasrama dengan Husna. Wardah kini tengah duduk di teras asrama bersama para santriwati. Wardah sudah seperti selebgram yang membuka sesi tanya-jawab atau Q&A untuk para followersnya. Tak jarang pula mereka yang belum kenal Wardah, tampak heran melihatnya ketika berjalan di depan asrama. Dikira ada arisan mingguan mungkin. Hahaha.


Bukan hanya pertanyaan-pertanyaan tentunya, tapi juga keluh kesah serta ungkapan kerinduan untuk Wardah. Sudah hampir satu tahun ia tak mengajar di pesantren, tak heran jika para muridnya akan rindu. Rasanya sangat terenyuh hati ini melihat para muridnya sangat sayang dengannya. Walaupun dulu ia terkenal dengan pribadi yang tegas terhadap mereka.


"Coba dari dulu Ustadzah lembut kayak gini," celetuk salah satu dari mereka.


"Ya senang di kaliannya. Ntar malah mbolos ngaji terus kalau di kalemin," jawab Wardah Sontak mereka tertawa garing.


"Ngajar di sini lagi aja Ustadzah," lirih mereka.


"Nggak bisalah! Kan Kak Wardah udah kerja jadi presenter," celetuk Husna yang keluar dari kamarnya sembari membawa tas ranselnya.


"Iya juga yaa," lirih Zizi teman Husna.


Wardah tersenyum tipis melihat raut murung mereka.


"Wa'alaikumussalam, sebentar Kak, ini Kak Wardahnya," jawab Husna karena memang masih dibawa olehnya.


"Kak Eza nelpon," ujar Husna memberikan gawai Wardah.


Wardah menjauh dari kerumunan murid-muridnya dulu. Sontak mereka menggerebek Husna menanyakan perihal nama yang disebut Husna tadi.


..."EZA"...


πŸ’›πŸ’›


Masih merasa kepo, sontak para murid Wardah berbaris di dekat ndalem menunggu Wardah keluar. Husna sudah menceritakan perihal laki-laki yang menelepon Wardah tadi. Dengan bermodalkan alasan mengantarkan Wardah kembali ke parkiran, padahal maksud lain mereka adalah untuk melihat pengganti dari Cak Ibil.


"Kalian serius mau nganterin Kak Wardah ke parkiran?" tanya Husna yang keluar terlebih dahulu dari ndalem.


"Kitakan juga pengen tahu calonnya Ustadzah," jawabnya.


"Ada apa ini?" tanya Umi yang keluar bersama Wardah dan Eza.


"Mau ikut nganterin Ustadzah Wardah ke parkiran Umi," jawab Dina sebagai ketuanya. Hahaha.


"Wallah, sudah kayak pejabat negara saja kamu Dah... Ya sudah, Umi ngantar sampai sini saja ya?" ujar Umi lagi.

__ADS_1


"Inggih Mi, Wardah sama Mas Eza pamit dulu. Assalamu'alaikum," jawab Wardah tak lupa mencium tangan Umi diikuti Eza.


"Ayuk kalau mau ikut!" ujar Wardah pada santrinya.


.


.


Wardah pikir akan krik-krik selama perjalanan ke parkiran, ternyata tidak. Eza tampak dengan enjoy mengajak mereka berbincang-bincang selama perjalanan.


"Kak Eza! Kok ganteng bangeeet siiiih," celetuk salah satu dari mereka.


Gelegar tawa dan toyoran di kepalanya dari temannya menjadi balasan dari celetukannya. Eza tertawa menanggapi, sembari geleng-geleng kepala heran. Cukup nyali ternyata anak itu memujinya di depan Wardah.


Wardah malah tersenyum tertahan melihat muridnya dulu. Anak itu memang terkenal dengan blak-blakan dalam mengutarakan pikirannya.


"Kalau nggak ganteng, Ustadzah Wardah nggak jadi naksir nanti," jawab Eza.


"Ciieeeee!" spontan mereka berseru.


Percayalah, pipi Wardah sudah memerah kini. Wardah memukul lengan Eza dengan kekuatannya. Malu! Tentu saja.


"Alaayy," protes Husna.


"Iri bilang bos!" jawab temannya. Bukannya Wardah yang menimpali, malah temannya. Sontak Husna masuk ke mobil meninggalkan teman-temannya.


"Ya sudah ya, Ustadzah pamit dulu... Assalamu'alaikum," pamit Wardah diikuti dengan pengikutnya mencium tangannya.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati ya Ustadzah, semoga perjalanannya lancar,"


"Jangan lupa undang kami kalau nikah Abang ganteng...." ujar Puja menggoda Eza.


"Hmmm, mulai menjadi sepertinya kalian yaa," geram Wardah. Sontak mereka tertawa.


"Tenang saja, nanti undangannya dititipin sama Abah Kyai," jawab Eza.


πŸ’›πŸ’›


Perjalanan kali ini hanya diwarnai dengan perbincangan Wardah dan Eza. Ntahlah, dari tadi Husna diam saja sembari memainkan gawai yang ia pinjam dari Wardah. Mau membuka IG katanya. Memang, scroll IG sangat menyenangkan.


Wardah yang awalnya hendak duduk bersama Husna pun ditolak mentah-mentah. Ia ingin berbaring alasannya. Jadilah Wardah duduk di depan mendampingi Eza.


...Bersambung...


Tenang gaess, Lhu-Lhu bakalan up lagiii

__ADS_1


__ADS_2