
Sayup-sayup pancaran Mentari mulai mengusik tidur wanita cantik itu. Eza yang tengah berbaring di sampingnya tentu saja sigap menutupi kilauan matahari yang membangunkan wanitanya itu dengan telapak tangannya. Meski masih kerap kali tak terhalau oleh ruas jarinya. Sudah satu jam Eza menikmati pemandangan indah di hadapannya. Ia sama sekali tak berkehendak untuk mengusiknya sama sekali.
Selepas menunaikan ibadah subuh tadi, sepasang suami istri itu memang berencana untuk kembali melelapkan mata sejenak. Tapi malah kebablasan hingga matahari bersinar sempurna. Sedangkan bocil mereka dari semalam memang tak berada di tempat. Anak itu seolah mengerti jika orang tuanya ingin bermesraan berdua. Sakha justru meminta untuk tidur dengan Mbah Uti-nya (Bunda Wardah).
Hari ini mereka sekeluarga akan kembali ke Jakarta. Tapi pasutri itu bahkan belum sama sekali bersiap. Barang-barang mereka masih tertata rapi di luar koper andalan. Puas sudah jalan-jalan bersamaa kali ini. Sudah saatnya kembali kepada rutinitas harian dan persiapan lima bulanan serta tiga bulanan Kak Aisyah dan Wardah. Rencana mereka tak akan muluk-muluk dengan benderang kemerlap serba-serbi kemewahan, mereka hanya akan syukuran sederhana di rumah. Meski kita takt ahu standar kesederhanaan bagi keluarga itu apa. Hahaha.
“Pagi hany…” sapa Eza saat Wardah membuka matanya. Ternyata usahanya tak membuahkan hasil untuk menghalau usikan pancaran di luar sana.
“Kayaknya ini udah nggak pagi lagi deh Mas,” jawab Wardah dengan suara khas bangun tidurnya.
Cup! Satu kecupan mendarat pada bib*r mungil itu untuk menyambut paginya. Eza kembali memeluk erat istrinya mengisi daya kekuatan sebagai sumber energi memulai aktivitas. Tapi langsung diurai oleh Wardah. wardah sadar betul jika ia harus segera bersiap membereskan perlengkapan. Bahkan ia juga tak membantu pada ibu untuk menyiapkan makan pagi setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Pasti yang lain juga sudah sarapan saat ini.
“Kok nggak bangunin aku sih Mas? Kan aku jadi nggak bantuin Bunda sama Mama masak,” keluh Wardah.
“Mana tega aku bangunin putri tidur nan cantik jelita ini saat pulas-pulasnya Ayy..” jawab Eza kembali mengecup istrinya.
“Sekarang kamu mandi dulu aja, biar Mas lihat di luar lagi pada ngapain,” ujar Eza.
__ADS_1
Wardah mengangguk patuh dan segera ke kamar mandi. Beruntung di villa ini menyediakan water hitter, jika tidak bisa beku badan saking dinginnya. Eza keluar sebentar menyapa orang-orang yang masih mengobrol di meja makan, walaupun makanan mereka sudah tak tersisa di piring.
“Ayah!!!” seru Sakha menghampiri Ayahnya.
“Nyenyak banget tidurnya Pak! Jam segini baru bangun,” celetuk Kak Winda.
“Wardah belum bangun Za?” tanya Bunda.
“Udah kok Bun, lagi mandi,” jawab Eza.
“Cepet mandi sana! ajak Wardah sarapan! Nanti biar Mama buatin susu untuk istri kamu,” ujar Mama.
Sampai di kamar, Eza membereskan perlengkapannya dan Wardah. ia tadi sudah melihat beberapa penghuni sudah menyetorkan koper masing-masing di ruang tengah. Eza juga menyiapkan pakaian Wardah yang hendak dipakai. Pakaian couple menjadi andalan bapak anak satu otw dua itu.
Keluar dari kamar mandi kamar sudah tertata rapi dan barang-barang sudah masuk ke dalam koper. Tersisa kantong untuk tempat baju kotor. Bahkan di meja rias sudah tak tersisa perlengkapan make up yang belum sempat is bereskan. Setelah tahu jika hamil, Wardah memang memutuskan untuk tak memakai produk make up dan skincare sama sekali. Rencananya sih ia akan menggunakan produk dokter nantinya, setelah kembali ke Jakarta. Agar aman tentunya.
“Ini bajunya Ay, aku mandi dulu,” ujar Eza.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu, dan selesai bersiap, dua sejoli itu segera keluar dengan Eza yang mendorong tiga koper sekaligus. Ternyata yang lain sudah bersantai ria menunggu waktunya untuk berangkat pulang.
“Sayang, ini makan yang banyak ya… Terus susunya ini di minum ya biar nggak lemes,” ujar Mama memberikan segelas susu.
Wardah sangat bersyukur tak ada gejala mual sama sekali. Itu mengapa ia sempat kaget saat tahu dirinya hamil. Hanya perut yang membuncit sebagai tandanya. Selama makan pun ia juga lahap seperti biasanya. Tapi berbeda dengan susu. Awalnya Wardah juga biasa saja. Hingga saat ini, perdana ia minum susu Ibu Hamil, mualnya tiba-tiba datang. Wardah bergegas ke kamar mandi diikuti Eza yang ikutan panik.
Makanan yang tadinya ia makan dengan enjoy pun keluar tak terkendali. Ntahlah, rasa mual ini begitu menyiksa. Setelah selesai Eza segera memapahnya untuk kembali duduk. Tapi saat melihat susu itu lagi, ia kembali mual. Akhirnya Mama menyingkirkan susu itu. Selera makannya pun ikut hilang dibawa rasa mual.
“Perlu panggil temannya David nggak Za? Biar Papa telepon,” ujar Mama.
“Nggak usah Ma, udah mendingan kok, Wardah makannya nanti aja ya Ma? Kalau di mobil,” jawab Wardah setelah kembali duduk.
Mama mengajak mereka untuk menunda kepulangan setelah melihat kondisi menantunya. Tapi Wardah menolaknya. Tetap ingin pulang. Jadilah Mama membawa bekal untuk makan Wardah di mobil. Wardah pun hanya nyemil buah untuk mengisi perutnya yang masih kosong. Sakha yang melihat Buna-nya duduk menikmati buah pun sontak ikut nimbrung. Rasanya sangat menggoda saat melihat Buna-nya makan. Di dalam mobil pun ibu dan anak itu masih setia nyemil buah.
“Ngak pengen makan nasi Ay?” tanya Eza.
“Lagi nggak pengen Mas… Enakan makan buah,” jawab Wardah.
__ADS_1
...Bersambung...