Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Insyaallah menuju Sah


__ADS_3

Sembari menunggu sampai di persinggahan selanjutnya, tampak Anisa tengah berfoto ria bersama Farhan. Mengabadikan momen hamil besarnya menjelang sembilan bulan menuju lahiran. Oh iya! Mereka memesan fotografer juga agar hasil pemotretan lebih bagus dan estetik. Wkwkwk.


Manfaatkan view di tengah lautan dipadukan dengan lumba-lumba yang sesekali melompat kepermukaan menampakkan wujudnya. Berpose manis dengan Farhan di sampingnya. Terkadang juga di belakangnya. Mengikuti intruksi si potrografer.


Sedangkan Eza dan Wardah tampak mengeksplor sekeliling kapal mengelilingi tiap spot yang cocok untuk berfoto. Eza memang salah satu pengguna aktif instagram, tak heran jika ia hobi berfoto diri atau hanya sekedar potret pemandangan sekitar untuk kebutuhan kontennya.


”Di sini Mas, bagus deh! Sini Dedek fotoin,” celetuk Wardah dengan hebohnya. Didorongnya Eza dan mulai diarahkan untuk berpose. Sudah menandingi fotografer sebelah saja Wardah ini.




“Widiiih, gayanya! Sok cool,” ledek Wardah.


“Jangan salah Dek, gini-gini jadi idola banyak orang lhoo. Followers Mas ajak lebih banyak dari Dedek,” jawab Eza dengan sombongnya.


“Hillih! Bentar lagi juga banyakan Dedek. Kan dedek mau pansos ke Mamas,” jawab Wardah.


“Hahaha, hiiissh! Gemes pengen peluk tapi belum boleh,” gemas Eza hendak memeluk Wardah tapi tertahan. Wardah yang melihat reaksi Eza beringsut seketika.


“Sabar Mas, akunya merinding, takut kalau Mas gitu,” ujar Wardah.


“Hahaha, nggak-nggak Dek. Bentar lagi kita sampai di pulau, kita duduk di depan sana yak,” ajak Eza.


Wardah mengangguk dan mengikuti Eza menuju depan kapal. Tepat di moncong kapalnya. Duduk bersanding berdua dengan menekuk kakinya. Udara di sini bagus untuk merelakskan pikiran. Beberapa menit lagi mereka mendarat di pulau tujuan. Dari jarak jauh saja pesonanya sudah terpancar dengan indahnya.


.


.


.

__ADS_1


Sesampainya di pulau tujuan, mereka langsung menuju ke restoran yang tersedia. Berbeda dengan yang lainnya, Wardah dan Eza setelah makan siang memilih untuk berjalan-jalan di sekitar pantai.


"Pengen ke sana Mas,"ujar Wardah.


"Boleh, setelah sholat zuhur kita ke sana," jawab Eza.


Senyuman Wardah terbesit mendengarkan persetujuan Eza. Eza awalnya memang hendak mengajak Wardah mendaki bukit, karena sang empu sudah mengajukan diri, okelah! Ia tinggal berangkat sekarang.


"Mas, memangnya Mamas nggak terganggu dengan postingan orang-orang tentang kita?" tanya Wardah.


"Nggak sih, kecuali kalau mereka mulai memposting hal-hal yang tidak semestinya, baru itu ditindaklanjuti," jawab Eza dengan santainya.


"Ayo Mamas antar ke kamar, bersih-bersih, sholat, setelah itu kita berangkat ke bukit," ajak Eza.


Wardah mengangguk, dan kembalilah mereka ke kamar masing-masing.


Sampai di kamar, Wardah disambut oleh Bunda yang berdiri di balik pintu.


"Bagus, udah punya Eza, Bunda dilupain," jawab Bunda.


"Apa sih Bun? Hahaha, ada-ada ajah," Wardah tersipu mendengar tuturan Bunda.


Wardah menghambur memeluk Bunda erat.


"Ayah senang nggak ya Bun, melihat Wardah dengan Mas Eza?" tanya Wardah lirih.


Bunda menggandeng Wardah duduk di tempat tidur. Dengan senang hati Wardah berbaring di pangkuan Bunda. Memeluk perut Bunda. Sudah lama rasanya ia tak seperti ini.


"Ayah selalu sejalan dengan Bunda, kriteria Ayah sama dengan Bunda. Bunda yakin, Ayah akan sama bahagianya dengan kita sayang," ujar Bunda sembari mengelus lembut kepala anaknya.


"Bunda," lirih Wardah.

__ADS_1


"Iya sayang?" jawab Bunda.


"Dedek diajak Mas Eza ke bukit nanti," izin Wardah dengan mendongak ke arah Bunda.


"Iya Bunda izinkan, Bunda yakin Nak Eza akan menjaga anak Bunda dengan baik," jawab Bunda.


.


.


.


Disinilah Wardah sekarang. Sudah bersiap untuk mendaki salah satu bukit yang amat cantik di hadapannya. Dengan Eza yang membawa ransel gunung yang ntah apa itu isinya.


Eza harus sabar menunggu dan membantu Wardah untuk mendaki. Dengan penuh perjuangan akhirnya sampailah mereka di puncak.


"Mas!" panggil Wardah.


Ckrek! Diambillah foto Eza dari kamera gawainya. Tepat saat Eza menghadap ke arahnya sembari tersenyum. Wardah memang tak ikut ke tempat Eza duduk, terlalu terjal, ia tak cukup mental untuk ke arah sana.



Wardah memilih untuk duduk di sisi lain tempat Eza. Eza menghampirinya dan mengintruksikan untuk berpose.


Ckrek!


Auto Eza memposting fotonya dan di slide kedua foto Wardah yang diberi emotc 🌼. "Insyaallah menuju halal," captionnya. Eaak! Sak aee babang Eza.



...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2