
Ibil POV
Menyesal. Kini aku tengah berada di fase itu. Memang, tak baik memutuskan suatu masalah dalam keadaan marah ataupun terburu-buru.
"Sebenarnya mau kamu apa Bil? Sampai hati kamu korbankan wanita yang tak tahu duduk masalah kamu!" Ujar Bapak setelah kami sampai di rumah.
"Saya meminta waktu dua bulan untuk menata hati saya untuk Wardah Pak," Jawabku dengan lirih. Bahkan nyaris tak terdengar.
"Kemudian jika dua bulan itu kamu tidak mencintai Wardah, kamu mau mencampakkannya? Begitu? Ibuk ternyata selama ini salah mendidik kamu," Sambung Ibuk dengan mata sembabnya.
Aku hanya bisa menunduk di sini. Di hadapan Bapak dan Ibuk. Aku hanya ingin melupakan Anisa. Aku ingin move on, tapi kenapa jalannya menjadi seperti ini?
Ketika melihat Wardah di hari lamaran hingga hari pernikahan, awalnya aku yakin dapat melupakan Anisa dengan Kak Ical lebih cepat. Akan tetapi, ternyata sifat mereka berdua tak terlalu berbeda. Cukup banyak kesamaan dari keduanya. Hal itu membuatku semakin sakit ketika memandangi Wardah yang saat itu menjadi istriku sendiri.
Rasa sakit itu semakin besar saat ku tahu ternyata Anisa belajar mandiri dari Wardah. Mereka seolah manusia yang tercipta serupa. Sakit! Amat sangat sakit. Momen penolakan dan hari pernikahan Anisa dan Farhan selalu terngiang di pikiranku. Itulah mengapa aku tak siap jika akan menyentuh Wardah.
__ADS_1
Aku tahu tindakanku menyakiti Wardah. Tapi aku juga takut jika aku memaksakan diri menyentuhnya, akan semakin membuatnya lebih sakit. Karena bukan seorang Wardah yang kulihat, tapi Anisa.
...----------------...
Sedangkan di belahan bumi lainnya, di hari yang telah berganti, Wardah masih berada di dapur dengan Kak Ina.
"Sekarang, dedek hanya perlu berserah diri pada Allah... Bagaimana kedepannya minta pada Allah. Pikirkan baik-baik, tenangkan hati, dekati pemilik hati dedek, beliau lagi kangen itu sama dedek... Pengen dengerin curhatan dedek. Jangan segan-segan meminta nasehat atau pendapat dari orang terdekat dedek. Masih banyak yang sayang dan peduli dengan dedek," Kak Ina menasehati adiknya dengan telaten. Ia sangat sayang meski kedudukan Wardah disini sebagai iparnya.
"Pernikahan kamu juga gak banyak yang tahu dek, dulukan Bunda masih di rumah yang sama almarhum Ayah, jadi kamu disini aman. Gak usah khawatir dengan gunjingan. Okee! Dulu yang dikabarin juga cuma keluarga dekat karena saking mendadaknya, iyaa kan?" Sambung Kak Ina lagi. Wardah mengangguk mengiyakan. Benar juga, untung saja pernikahannya hanya lingkup keluarga dan dilakukan di pesantren.
Wardah begitu beruntung dikelilingi orang-orang yang begitu baik. Ia harus bangkit. Pikirkan rencana kedepannya. Tugasnya sekarang adalah membantu mengeluarkan hidangan pada tamu Bunda. Bunda sudah berjalan ke arah dapur. Sepertinya hendak memberikan intruksi.
"Siap Bos!" Seru Wardah dengan bersiap mengisi nampan bawaannya.
Dengan perlahan Wardah membawa makanan itu ke ruang tamu. Belum sampai ruang tamu saja sudah terdengar kemriyek (riuh) para ibu-ibu yang mengobrol saling membanggakan diri. Benar kata Kak Ina, pasti sangat membosankan mengikuti alur para ibu-ibu yang hobi ghibah itu hehehe. Tapi tampaknya tak semua seperti itu, sebagian dari mereka juga terdengar tengah curhat-curhat satu sama lain.
__ADS_1
Memasuki ruang tamu, ternyata ada juga yang asik selfi-selfi manja dengan gawai mereka. Hahaha.
Wardah meletakkan makanan itu di meja depan sofa dan meja yang sudah disusun di sisi lainnya. Diikuti Kak Ina di belakang Wardah.
"Ini siapa jeng?" Tanya salah satu teman Bunda.
"Anak saya Mbak, kalau ini menantu saya," Jawab Bunda yang menghampiri kedua anaknya.
Wardah dan Kak Ina pun tersenyum simpul.
"Imut banget si eneng. Masih sekolah? Dimana?" Tanya temannya lagi.
"Sudah lulus kuliah ini, masak iya masih sekolah," Jawab Bunda.
"Kirain masih sekolah lhoo,"
__ADS_1
"Iya, kirain masih SMA, hahaha" Sahut yang lainnya.
...Bersambung......