
...Gaess, mohon maaf Lhu-Lhu jarang up. Karena sedang mempersiapkan novel audisi. Alhamdulillah sudah masuk daftar entri. Mohon dukungannya. Lhu-Lhu sydah setor part 4-20.tinggal nunggu revisian, kemudian up. Kalau sudah acc semua, Lhu-Lhu akan rajin up lagi insyaallah... Love you semua......
***
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan sama sekali. Wardah tak berani memulai perbincangan. Takut jika salah bicara, malah memperkeruh suasana. Hanya elusan lembut dari Eza yang masih aktif di jemari Wardah.
"Ay? Ada yang mengganggu pikiran? Cerita Ay," ujar Eza akhirnya. Sedari tadi Eza memperhatikan Wardah yang melamun.
"Aku pengen bantu keluarga Mbak Siti Mas," lirih Wardah.
"Kita bicarakan dengan Papa nanti," jawab Eza mencium punggung tangan Wardah.
"Ay, maaf ya... Aku nggak jadi ngajak kamu ke pantai. Padahal niatnya Aku mau ngajak kamu ke pantai," ujar Eza dengan sesalnya.
"Nggak papa, masih ada hari esok," jawab Wardah dengan senyumnya.
Oke! Perjalanan mereka kini beralih menuju ke bandara. Berhubung jarak bandara yang cukup jauh, Eza meminta kepada supirnya mengambil alih kemudi. Tentu saja mengganti mobilnya juga. Bisa masuk angin menggunakan mobil ini sampai bandara.
Beruntung penerbangan mereka masih cukup lama, Eza mengajak Wardah untuk istirahat sejenak. Duduk di kursi pijat memang pilihan yang bagus. Wardah meminta kotak P3Knya kepada Caca saat mereka sampai di ruang tunggu vvip.
"Kok bisa gini Dah?" tanya Caca penasaran.
"Nanti aja ceritanya, aku minta dulu," jawab Wardah.
Dengan hati-hati Wardah membersihkan kembali luka Eza. Karena tadi memang hanya diobati sekedarnya. Eza kira lukanya tak besar, memang ia tak merasakan sakit dari tadi. Tapi saat ini terasa sudah sakitnya. Cukup kuat juga orang tadi melayangkan kayu.
"Pelan-pelan Ay," rengek Eza.
Wardah tak menghiraukan Eza, yang jelas ia ingin luka Eza segera teratasi. Dibalutnya hingga rapi, aman, terpercaya kesterilannya. Beruntung dulu ia pernah ikut PMI di perguruan tinggi. Jadi kurang lebihnya ia tahu cara merawat luka.
"Alhamdulillah, sudah deh," ujar Wardah membereskan peralatan P3K-nya.
"Sini deh Ay!" Ditariknya Wardah ke pangkuannya.
"Malu ih! Banyak orang," ujar Wardah mencoba melepaskan pelukan Eza dari belakang.
"Gemess tahu lihat Ayang," jawab Eza yang kini melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Sembari menunggu, Wardah dan Caca memilih untuk jalan-jalan di sekitar bandara. Kulineran adalah waktu yang pas. Wardah dan Caca memilih tempat duduk yang strategis. Tentu saja di pinggir dinding + jendela kaca. Sembari menikmati taman di balik kaca itu.
"Kak Wardah?" panggil seseorang menghampiri Wardah.
"Maaf, dengan siapa ya?" tanya Wardah lembut. Tak lupa senyumnya pula.
"Wah! Beneran Kakak ternyata. Aku followers Kakak sama Kak Eza!" semangatnya mulai membara bung. Wardah hanya tersenyum menanggapi. Wardah masih canggung jika bertemu dengan orang-orang baru.
"Kak, boleh minta foto?" tanya dua anak remaja itu.
"Boleh, tapi jangan heboh-heboh ya... Ntar kakaknya nggak jadi makan kalau banyak yang minta foto lagi," jawab Caca.
"Siap Kak!" sambung mereka. Mulailah ya Wak, mereka mengambil foto dengan berselfi ria.
"Kalian nggak minta foto sama saya juga?" tiba-tiba Eza muncul dengan suaranya yang tak bisa dipelankan.
Benar saja! Sontak orang-orang disekitar mereka bergerombol ikut meminta foto. Wardah memukul lengan suaminya. Sudah dipastikan dirinya dan Caca tak jadi menikmati makanan mereka.
"Ngapain ikut ke sini sih? Kan jadi berabe Mas!" protes Wardah.
"Tadi mau ikut minta foto kak Wardah, tapi masih ragu ini benar-benar Kak Wardah istrinya Kak Eza atau bukan," celetuk salah satu penggemar mereka.
"Kalau mau minta foto istri saya harus sama suaminya Buk, nggak boleh cuma istri saya sendiri," canda Eza merangkul pundak Wardah.
"Cantik banget istrinya Mas," ujar salah satu pengerumun lain.
"Iya dong! Istri saya gitu lhoo," jawab Eza.
Percayalah pipi Wardah sudah memerah kali ini. Dua jam mereka meladeni orang-orang yang meminta foto dan makan, akhirnya saatnya mereka terbang ke tempat asal.
🌾🌾🌾
Sampai di Jakarta, Mama, Papa, dan dua krucil sudah menunggu di penjemputan. Dinda dan Inayah berlari dengan girangnya memeluk Wardah yang baru saja muncul dari pintu keluar.
"Aunty lama banget pelginya! Dinda-kan tangen," ujat Dinda dengan logatnya yang khas.
"Hahaha, iya sayang... Om Eja tuh nyulik Aunty," jawab Wardah melirik Eza. Dinda langsung memukul Eza dengan bertubi-tubi.
__ADS_1
Sampai di rumah, Dinda dan Inayah sama sekali tak mau lepas dari Wardah. Dimana pun ada Wardah, di sanalah ada dua anak itu. Bahkan sekarang Eza yang hendak ikut istirahat tak boleh berada di samping Wardah. Wardah harus ada di tengah-tengah Inayah dan Dinda.
"Nggak beres nih! Kayaknya kita berdua harus segera pindah deh Ay," celetuk Eza.
"Ngalah sih sama anak kecil... Sini bobok di samping Dinda," jawab Wardah.
Oke! Kali ini saja Eza menuruti ponakannya itu. Jadilah mereka tidur bertiga siang ini. Baru terlelap satu jam, Eza harus pergi lagi. Urusan apa lagi kalau bukan kantor? Kali ini ia pergi bersama Papa. Dilihatnya Wardah masih tertidur, Eza tak ingin membangunkannya. Dikecupnya kening Wardah kemudian pergi.
Papa tak hanya mengajaknya untuk urusan kantor ternyata, tapi juga untuk membicarakan mengenai tragedi tadi pagi sebelum kepulangan Eza dan Wardah. Papa benar-benar sudah memastikan jika perempuan yang menyerang menantunya itu mengalami gangguan jiwa.Eza mengingat ujaran Wardah tadi,
"Kita bantu keluarga Mbak Siti Pa," ujar Eza.
"Bisa diatur, biar orang-orang Papa yang ngurus semuanya," jawab Papa.
"Berita pagi tadi sudah tersebar," sambung Papa.
"Eza tahu,"
Eza masih menyelesaikan pekerjaannya yang lain, sedangkan Papa sudah pindah lokasi ke kantornya yang lain. Tengah sibuk berkonsentrasi dengan laptopnya, tiba-tiba seorang perempuan datang dengan tanpa permisi.
"Zaa!" panggilnya.
"Ada perlu apa? Saya sedang sibuk," jawab Eza.
"Ayolah Za! Apa ini, kamu nggak menghargai aku, asal menikah aja! Padahal ada aku yang nungguin kamu," ujar wanita itu.
"Maaf, kita nggak pernah ada komitmen apapun Sel. Dan aku nggak asal menikahi Wardah, dia versi terbaik dari perempuan yang pernah aku temui. Maaf, aku harus pulang," Ujar Eza kemudian pergi.
"Kamu ngapain sih nikahin janda?" ujar Sela tiba-tiba. Eza berhenti seketika.
"Dia memang janda, tapi aku begitu beruntung mendapatkan dia. Satu lagi, aku lebih menyesal pernah dekat dengan kamu. Kamu yang nggak tahu apa-apa mending nggak usah ikut campur! Assalamu'alaikum," jawab Eza dengan amarahnya yang memuncak kemudian benar-benar pergi.
...Bersambung....
Mohon dukungannya gaessss.....
__ADS_1