Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Tersipu


__ADS_3

"Love you sayang," jawab Eza. tak lupa kecupan di kepala Wardah.


Tentu saja membuat para mahasiswi histeris menyaksikan hal itu. Kebetulan kecupan itu terekam di layar saat menyorot ke arah pasutri itu. Wardah tersenyum mendengar riuh teriakan dari para audiens. Sedangkan Wardah tampak merona malu.


"Coocweet banget sih Om satu ini," Celetuk mahasiswi samping Wardah.


Sedangkan Wardah tampak mengawasi setiap gerakan Eza. Wardah semakin panas saat melihat Arumi tampak tersenyum dan mencoba berbincang dengan suaminya. Sebenarnya tak masalah jika berbincang saja, tapi Wardah sadar jika raut Arumi berbeda. Lebih terkesan menggoda.


"Btw, Kakak belum tahu nama aku tahuu," ujar mahasiswi itu. Tak ada respon apapun dari Wardah. Sontak mahasiswi itu menoel lengan Wardah agar tersadar dari lamunannya.


"Kenapa?" tanya Wardah.


"Aku percaya sama Pak Eza kok! Dia bakalan setia sama Kak Wardah... Tante yang di samping dia itu masih kalah jauh dari Kak Wardah tahuu," ujarnya.


"Emang iya? Kamu jujurkan?" tanya Wardah memastikan.


"Ya iyaa lah kak! Kalau aku sampai salah, aku yang akan maju buat nodong Pak Eza pakai tombak," jawabnya dengan semangat.


"Kakak nggak penasaran sama nama aku?" tanya mahasiswi itu mengulang pertanyaan awalnya.

__ADS_1


"Iyaa, siapa nama kamu dek?" tanya Wardah.


"Ehm! Perkenalkan nama aku Fiona kak," ujar Fiona menyodorkan tangannya.


Wardah membalas uluran tangan Fiona dengan senyumnya. Wardah berbincang dengan Fiona dan juga teman-teman Fiona yang duduk di belakangnya. Bukannya menyimak materi seminar, mereka justru malah kepo dengan sosok Wardah.


"Alhamdulillah siaran tv di stasiun yang saya pegang saat ini sudah berkembang pesat. Dan itu tentu saja tak lepas dari dukungan keluarga dan istri tercinta saya. Siapa di sini yang tidak kenal istri saya? Sebagian besar pasti kenal," ujar Eza.


"Sepertinya lain kali yang diundang istri saya saja ya, karena sepertinya semuanya lebih antusias atau lebih penasaran dengan istri saya, haha" ujar Eza melawak.


Wardah yang mendengar itu tentu saja diam seketika. Tak lagi berbincang dengan para mahasiswa yang ada di belakangnya.


"Kesalahan besar mengajak istri saya kemari. perasaan umur saya tidak terlalu tua, masak iya panggilan saya dan istri saya njomplang gitu," jawab Eza.


"Harus saya amankan istri saya supaya hanya saya yang bisa melihat kecantikannya," sambung Eza.


.Tentu saja hal itu membuat Wardah semakin tersipu malu. Kenapa suaminya bisa sebucin itu? Para audiens tertawa mendengar lawakan atau lebih tepatnya Utara suara hati Sang pemateri. Fiona menoel-noel Wardah yang ada di sampingnya.


Eza selesai dengan materi dan tanya jawabnya, kini bergantian dengan Arumi yang duduk di samping Eza. Jika Eza tadi diselingi dengan canda tawa yang menyangkut Wardah, berbeda dengan Arumi. Selama penyampaian materi suasana ruangan tampak serius. Tak ada canda tawa yang menyelingi.

__ADS_1


Wardah tampak tertegun sejenak melihat tampilan perempuan yang mengisi seminar bersama suaminya. Ia tampak tenang mempresentasikan materinya kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ia juga menjawabnya dengan tertata. Wardah sejenak introspeksi diri, apa ia bisa berdiri di depan orang banyak seperti itu?


Setelah tiga jam acara berlangsung, akhirnya selesai juga. Wardah ditantang untuk menyajikan sebuah lagu sebagai penutupan acara ini. Siapa yang tak tahu jika suaranya apik? Saat pernikahannya ia dan Eza pernah bernyanyi bersama, dan itu tranding topik pada saat itu.


Wardah yang tak mau menyanyi sendiri tentu saja mengajak Sang Suami. Eza sebenarnya tak PD dengan suaranya, terpaksa menuruti istrinya.


Wardah dan Eza sempat berjalan-jalan di sekitar kampus ditemani Fiona. Mereka juga membuka sesi penandatanganan untuk para fans-nya. Barulah setelah itu mereka kembali ke ruang istirahat. Ternyata di sana sudah disajikan makanan yang beragam. Makanan khas Sumatra Barat tentunya. Dari dulu Wardah benar-benar ingin mencoba rendang yang dibuat asli di kota ini. Dan sekarang terwujud.


Tiba-tiba Wardah teringat pada Faiz. Anak bujang itu juga penggemar makanan Padang. Wardah mengambil gawainya yang ada di tas. Memotretnya dan di-share pada Faiz.


Eza mengambilkan nasi dan juga lauk di piring istrinya. Hal itu tak luput dari penglihatan orang-orang yang ada di sana. Tak terkecuali Arumi. Benar-benar suami super idaman. Begitulah sebaiknya, Wardah juga membantu Sang suami.


"Tunggu Ay, dagingnya agak susah dipotong, sini Mas potongin dulu," ujar Eza mengambil alih piring Wardah. setelah dipotong barulah ia berikan kembali pada istrinya.


"Wardah?" panggil Arumi.


"Iyaa?" jawab Wardah.


"Seneng yaa punya suami seperti Mas Eza," celetuknya. Wardah tersenyum menimbali.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2