Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Mak Lampir


__ADS_3

Jika biasanya Wardah akan menunggu di ruangannya sendiri, kini ia bisa bersantai ria di ruangan Eza. Menikmati ruangan yang dulunya sangat ia hindari. Wardah memilih berkutat dengan laptop Eza sembari menunggunya. Menonton netflix adalah pilihan terbaik. Sebenarnya ada kamar dengan peralatan lengkapnya di ruangan ini. Tapi kursi kuasa Eza tampak nyaman sepertinya.


"Seumur-umur, baru kali ini makek barang merek ini," celetuk Wardah melihat laptop berlogo apel separo.


Sontak ia melihat gawainya yang bertuliskan Oppo. Bukan dirinya tak mampu membeli, tapi ia cukup sayang dengan tabungan yang selama ini ia kumpulkan. Gawainya juga tak ketinggalan jaman kok. Ini termasuk kategori keluaran baru. Tak mau berkomentar lagi, Wardah melanjutkan tontonannya. Sayang sekali oppa-oppa ini harus dilewatkan.


"Siang Za!" seru seseorang memasuki ruangan. Lagi-lagi Wardah terusik. Seorang perempuan mengenakan pakaian kurang bahan. Diikuti Hito yang tergopoh-gopoh di belakangnya.


"Maaf Dek, ni orang nyerobot masuk aje!" ujar Hito pada Wardah yang masih kebingungan dengan situasi ini.


"Kan gua udah ngomong kalau Eza gak bisa diganggu! Dia lagi rapat!" ujar Hito pada perempuan itu.


"Dia siapa?" tanya perempuan itu.


"Istrinya Eza-lah! Siapa lagi?" jawab Hito.


Tanpa merasa bersalah perempuan itu duduk dengan santainya di sofa. Melihat ke arah Wardah yang masih stay di kursi Eza dengan wajah bingungnya. Hito meninggalkan dua perempuan itu untuk menerima telepon. Disini, Wardah semakin bingung hendak melakukan apa.


"Mbaknya mau minum apa? Biar saya buatkan sembari menunggu suami saya," ujar Wardah mendekati tamu suaminya.


"Apa aja!" jawabnya angkuh.


Wardah beranjak ke dapur khusus di ruangan Eza. Ternyata perempuan itu mengikutinya.


"Kamu tahu siapa aku?" tanyanya pada Wardah.


"Maaf Mbak, kita belum berkenalan," jawab Wardah dengan senyuman manisnya.


"Aku pacar Eza yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya! Dan ternyata sekarang sudah menikah diam-diam," ujarnya.


Deg! Eza tak pernah bilang jika dulu memiliki pacar. Apa maksudnya ini! Jemari Wardah tremor seketika.


"Kami nggak menikah diam-diam kok Mbak, bahkan pernikahan kami secara live ditonton masyarakat seluruh Indonesia," jawab Wardah mencoba tenang.


"Ini silahkan diminum," sambungnya memberikan jus jeruk untuk tamunya.


"Wardah! Ayo ikut!" Hito tiba-tiba datang mengajaknya.


"Siapa perempuan itu Mas?" tanya Wardah pada Hito.


"Dia teman dekat Eza di perkuliahan dulu. Kamu tanya sepuasnya sama Eza aja nanti, dia udah nunggu kamu di lobi," jawab Hito.


Keluar dari pintu lift tampaklah Eza di depannya. Raut wajah yang ntahlah! Wardah sendiri tak tahu. Ia tak senyum, tapi juga tak merengut. Ia bahkan tak berniat menjelaskan apapun untuk Wardah. Hanya menggenggam erat jemari Wardah menuju basement.


Oke! Wardah akan ikut mendiamkannya! Tak ada percakapan sama sekali bahkan hingga mereka meninggalkan kantor.


"Ay?" panggil Eza yang kini menggenggam jemari Wardah sembari mengemudikan mobilnya.


"Nanti aja jelasin di rumah. Lagi nggak mood dengerin dongeng," jawab Wardah.

__ADS_1


Eza kembali mengatupkan bibirnya. Tapi jemarinya tak melepaskan genggaman sama sekali. Benar-benar tak lucu! Bagaimana mungkin di hari pertama mereka di Jakarta harus ada tragedi kedatangan perempuan masa lalu?


"Assalamu'alaikum," sapa mereka memasuki mansion.


Wardah berulang kali melepaskan rangkulan yang Eza berikan. Berulang kali pula Eza kembali merangkul pundak Wardah. Akhirnya menyerah juga Wardah.


"Wa'alaikumussalam. Baru pulang? Istirahat dulu kalian, dari Bandung langsung ke kantor tadi," jawab Bunda menyambut anak dan menantunya.


"Iya Bunda,"


🌾🌾


"Ay?" panggil Eza menghampiri Wardah yang kini membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


Tak ada sahutan sama sekali. Eza ikut berbaring di sampingnya. Memeluk erat istrinya. Tak memberi celah untuk Wardah bergerak.


"Dia bukan pacar Mas dulu Ay... Mas-kan nggak pernah pacaran. Dulu memang pernah dekat sama dia, tapi nggak pacaran Ay... Bahkan sekarang Mas nggak punya nomornya dia," ujar Eza.


"Tapi dia bilang kalian pacaran," lirih Wardah tanpa membuka selimutnya.


"Nggak Ay... Mas nggak pernah pacaran Ay," jawab Eza.


"Malesin! Baru dua hari jadi istri Mas aja udah di datengin Mak Lampir!" gerutu Wardah membuka selimutnya.


"Ya gini kalau punya suami yang gantengnya kelewatan," celetuk Eza memeluk Wardah.


🌾🌾🌾


Tepat setelah makan malam kini para keluarga besar tengah berkumpul di ruang keluarga. Menonton serial tv favorit ibu-ibu. Sedangkan para laki-laki lebih asik dengan perbincangan mereka sendiri.


Sedangkan di kamarnya, Wardah baru saja menyelesaikan sesi beberes meja makan bersama pekerja yang lain. Eza sudah siap dengan setelan kasualnya. Kaos putih dengan dipadukan kemeja kotak-kotak dan celana jin keluar dari wardrobe.


"Ay, kok belum siap-siap?" tanya Eza yang melihat istrinya duduk bersantai di sofa kamar mereka.


"Males ah! Baru aja duduk lhoo aku Mas," gerutu Wardah.


"Ayo! Mas mau ngajak kamu ke suatu tempat," ujar Eza lagi.


Dengan langkah gontai Wardah berjalan ke wardrobe. Mengenakan jilbab simpelnya dan mengambil sweater rajut untuk menutupi baju tidurnya.


"Yakin mau pakai baju ini?" tanya Eza.


"Kenapa? Malu punya istri kyak aku? Ya udah sana pergi sama mantan pacar kamu yang **** itu!" protes Wardah.


"Aayy, jangan sensi dong... Kan Mas cuma tanya. Istrinya Mas cantik kok! Cantik bangeet! Ayo Ay berangkat," perempuan pms memang mengerikan. Fix no debat.


"Mau ke mana Za?" tanya Mama yang kebetulan melihat anak-anaknya melewati ruang keluarga.


"Mau keluar bentar Ma," jawab Eza.

__ADS_1


Pasalnya Mama sedikit tertegun melihat penampilan Eza dan Wardah yang cukup kontras. Eza dengan penampilan rapinya sedangkan Wardah mengenakan pakaian rumahan. Mama menggelengkan kepalanya heran.


Selama perjalanan Wardah sama sekali tak membuka percakapan. Ia hanya menjawab jika Eza bertanya. Jujur saja, ia cukup khawatir kali ini. Kemana Eza akan membawanya? Hingga tibalah mereka di sebuah hotel yang tak terlalu megah tapi cukup ramai. Mungkin karena terletak di pusat kota. Eza yang hendak turun ditahan oleh Wardah. Wardah memegang erat lengan baju Eza.


"Ngapain di sini?" lirih Wardah.


"Temennya Mas lagi grand opening untuk Cafe barunya Ay," jawab Eza.


Deg! Mata Wardah membulat seketika melihat penampilannya saat ini. Baju tidur dengan sendal jepit sungguh perpaduan yang sangat baik.


"Mas... Kamunya keren gitu, akunya rembes gini," lirih Wardah.


"Kan Mas udah tanya tadi sebelum berangkat..." jawab Eza lagi dengan super lembut.


"Lha Mas nggak ngomong mau ke tempat kyak gini. Tahu gitu aku dandan," protes Wardah.


Iya-iya. Eza melupakan satu hal. Perempuan memang maha benar. Eza melepaskan jemari Wardah kemudian turun dari mobilnya. Berpindah ke sebelah Wardah dengan membuka pintunya.


"Ayo kuta masuk dulu, nanti Mas pesenin baju kalau nggak Mas pinjam ke pacarnya Egi," ujar Eza.


Dengan ragu Wardah turun mengikuti Eza ke depan pintu masuk cafe. Bersembunyi di belakang Eza memang pas untuk saat ini.


"Hai Za! Akhirnya datang juga elu!" sapa Egi.


"Lho! Wardah, kenapa kok di belakang Eza gitu?" tanya Egi.


"Salah outfit dia. Pacar lo mana? Bantuin istri gua ganti outfit," jawab Eza.


Egi memanggil pacarnya yang sedang berbincang dengan teman-temannya.


"Wardah? Ayuk ikut aku," ajak pacar Egi.


Mereka memang sudah saling kenal saat resepsi pernikahan tempo lalu. Ia mengajak Wardah ke ruangannya melalui jalan samping. Bahkan ia sempat terkikik melihat penampilan Wardah.


"Kalau mau marahan lihat waktu dulu Dek," celetuk Mbak Vika yang sepertinya mengetahui permasalahannya.


"Hehehe, lagi nggak beruntung aja Mbak ini," jawab Wardah.


Mbak Vika memilihkan beberapa pakaian yang sengaja ia simpan di cafenya dan sang pacar. Wardah sempat tertegun, mereka masih berpacaran tapi mereka juga sangat kompak membangun bisnis. Keluar dari kamar mandi, bukannya Mbak Vika yang Wardah lihat lagi, kini sudah berganti Eza.


"Mbak Vika cuma punya dress ini yang panjang," ujar Wardah.


Vika memang bukan perempuan berhijab, jadi ia tak menyediakan dress panjang untuk kesehariannya. Untung saja tersisa satu dress hitam polos di lemari ini.


"Nggak papa, dipadukan sama sweater ini makin cantik," jawab Eza memasangkan sweaternya.


Padahal mereka sudah makan malam tadi, tapi di lokasi mereka tetap mencomot hidangan yang disediakan. Mumpung masih gratis. Hahaha.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2