
Di sinilah Wardah sekarang. Di hadapan para karyawan divisi news. Wardah didampingingi Bu Raya. Panjang lebar bu Raya memperkenalkan Wardah. Sepertinya orang-orang di divisi ini baik-baik kalau di lihat.
"Mas Angga, tolong dibimbing ya..." Ujar Bu Raya sebelum meninggalkan ruangan.
"Insyaallah Mak," Jawab mas-mas yang bernama Angga itu.
Wardah tampak canggung berdiri sendiri di hadapan orang-orang di ruangan itu. Ia tak tahu harus bagaimana. Kenapa seperti santri baru yang di pajang iniiii!
"Sini!" Ujar Mas Angga. Ia menyediakan kursi di sampingnya. Sepertinya itu untuk Wardah.
Wardah duduk di kursi itu dan mulai memerhatikan Mas Angga yang membuka komputernya.
"Ini naskah berita. Di sini kita akan dituntut untuk mengedit naskah. Cari kata-kata yang rancu atau kurang tepat! Rubah dengan bahasa yang mudah dipahami para penikmat berita! Setelah beritanya pas, baru kita VO! Tahu VO? VO itu pengisi suara dalam tayangan berita. Sekarang kamu coba edit naskah yang sudah saya sediakan di folder hari ini! Kenapa saya langsung memberikan penugasan? Agar kamu langsung praktek! Nilai bahasa Indonesia kamu bagus kan? Coba kamu kerjakan sekarang! Satu jam!" Ujarnya panjang lebar.
Wardah tak yakin juga dapat memahami atau tidak. Yang ia tahu, Mas Angga ini seperti mantan suaminya dulu. Cuek! Jangan harap Wardah menaruh hatinya pada dia. Eh!
Wardah segera membuka filenya dan mulai mengerjakan. Satu jam untuk tiga berita? Gila apa ini mentor! Mana berani ia protes. Jelas baru masuk, masak mau protes-protes.
"Sabar ya Wardah, dia memang gitu, pendiam akut," Ujar perempuan di samping Wardah dengan berbisik.
Wardah hanya tersenyum kikuk dan tersenyum menimpali mbak itu. Wardah mulai fokus mengerjakan tugasnya.
Leher ini serasa patah saat ini. Bahkan aku baru menyelesaikan satu naskah. Masih ada dua naskah lagi! Ku lihat sekilas lelaki di sebelahku, sama sekali tak ada bunyinya. Dia hanya fokus menyorotkan matanya ke atah layar computer dengan tangan yang terus bermain di atas keyboard dan mouse. Fokus sekali orang itu. Itu mah kelewat fokus. Sepertinya dia titisan robot dari dunia suturistik (dunia serba modern).
“Cepat selesaikan tugas kamu!” Ujar Mas Angga tiba-tiba. Ternyata ia tahu jika dari tahu aku bergunjing ria dengan diriku sendiri tentang dia.
__ADS_1
“Siap Mas! Ini sudah mau selesai yang kedua kok, tinggal satu lagi.” Jawabku.
Ayo Wardah, segera selesaikan tugasmu. Ntah kenapa mengerjakan naskah ini begitu sulit. Mungkin karena memang ini kali pertama setelah keluar dari dunia pernahasaan seperti ini. Hahaha. Padahal dulu ia termasuk jago dalam bidang kebahasaan. Jangan salah, dulu ia pernah mengikuti olimpiade yang cukup banyak.
“Makan siang dulu dek, ditinggal dulu nggak papa. Cak Angga! Kasih waktu istirahat dulu to!” Ujar Mbak Rena salah satu karyawan divisi news juga.
“Istirahat aja dulu kamu kalau mau.” Ujar Mas Angga akhirnya.
“Iya Mas, saya bareng sama masnya ajah,” Jawab Wardah.
Kan nggak mungkin kalau anak didiknya makan duluan dan mentornya kerja sendiri. Meski sebenarnya sudah cukup lapar bagi Wardah.
“Ya sudah terserah kamu,” cueknya kelewatan ini orang.
"Coba saya koreksi!" Ujar Mas Angga setelah setengah jam berlalu.
"Iya Mas," Jawab Wardah yang sedikit mendekat pada Angga. Komputer satu dengan yang lainnya memang tersambung satu sama lain. Tiap karyawan di divisi dapat melihat dokumen satu sama lain.
Angga mulai membaca, dan.
"Judul kamu kurang menarik! Slug-nya juga diperbaiki! Lead-nya sudah lumayan. Untuk VO ini diperbaiki lagi. Hindari kalimat majemuk bertingkat! Jika di paragraf awal sudah membahas ini, di paragraf bawahnya tidak usah dicantumkan lagi! Jika seperti ini lebih terkesan muter-muter pembahasannya! Tanda bacanya sudah baik! Tapi perlu di perhatikan lagi! Paham?" Jelasnya panjang lebar.
Wardah manggut-manggut saja mendengarkan.
"Sana istirahat dulu! Nanti di lanjut lagi," Sambungnya yang kemudian beranjak keluar ruangan yang telah sepi ini.
__ADS_1
Wardah segera mematikan komputernya dan berlari mengikuti Mas Angga. Ia tak tahu hendak bersama siapa. Ia belum kenal semua. Caca ntah dimana.
Ternyata Mas Angga ke kantin. Langsung saja Wardah ngintilin di belakangnya.
"Adeknya Mas?" Tanya Ibu kantin.
"Siapa buk?" Tanya Mas Angga bingung. Dia clingak-clinguk hingga menemukan Wardah di belakangnya.
"Kamu ngapain ngikutin saya?" Tanyanya.
Wardah yang ditanya pun hanya cengar-cengir sendiri.
"Saya pesan sama kayak Mas Angga ya buk," Ujar Wardah tak menjawab Mas Angga.
Wardah masih saja mengikuti mentornya itu. Hingga kini mereka duduk berdua di bangku kantin.
"Kamu ngapain ngikutin saya terus?" Tanya Mas Angga.
"Aku nggak kenal siapa-siapa mas di sini. Tahunya sama mas aja," Jawab Wardah dengan mengedipkan kedua matanya sok imut.
"Kamu gak lihat? Banyak yang liatin kita?" Tanyanya lagi. Sontak Wardah mengedarkan pandangannya. Benar saja, beberapa pasang mata diam-diam, bahkan ada yang terang-terangan memperhatikan mereka.
"Biarin aja kali Mas, mereka nggak pernah lihat cewek imut kayak aku, makanya kagum," Jawab Wardah. Yang kini menikmati makanannya.
...Bersambung.... ...
__ADS_1