
Eza tercengang melihat Alif yang sibuk membantu Bunda memasak. Bahkan mereka berdua tak sadar jika putri dan Kakaknya sudah pulang.
"Fokus banget dah! Masak aja sampai nggak dengar ada yang ngucap salam," celetuk Wardah mendekati Bunda dan Alif.
"Lho! Udah pulang, belum mateng makanannya Dek," jawab Bunda.
"Tumbenan kamu Lif di dapur, Mama di dapur aja nggak pernah kamu samperin," ujar Alif duduk di meja makan.
"Proses belajar ini Kak," jawab Alif.
Wardah izin untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Setelah sampai di Jakarta ia hanya mengganti baju untuk siaran liputan siang.
Sedangkan Eza lebih memilih ikut membentu Bunda dan Alif.
“Papa ingin mengajak Bunda membahas acara lamaran resminya Bunda,” ujar Eza sembari memetik kangkung di hadapannya.
“Lho! Yang kemarin itu apa Nak? Kok lucu, hahaha,” tanya Bunda heran.
“yang kemarin itu belum resmi Bunda, Eza hanya memastikan kalau Dedek benar-benar sudah memiliki perasaan dengan Eza,” jawab Eza.
“Oalaah, ya Bunda serahkan semuanya sama kamu aja... Bunda nggak paham gimana tradisinya sekarang. Kirain ya sudah termasuk lamaran resmi kemarin itu, hahaha” jawab Bunda. Karena pada saat lamaran dengan Cak Ibil mereka hanya berkunjung atau silaturrahmi biasa di rumah sembari membahas tanggal pernikahan mereka.
“Kamu jadwalkan saja kapan Bunda bertemu Mama sama Papa kamu ya,” sambung Bunda.
“Siap Bun, nanti biar Eza yang ngantar Bunda ke rumah,” jawab Bunda
...*******...
Wardah keluar setelah menyelesaikan ritual bersih-bersihnya. Bunda geleng-geleng kepala melihat gadisnya itu. Pasalnya Wardah terlihat pucat dengan wajah tanpa riasasannya. Dipadukan dengan baju kaos kedodoran, celana kulot dan jilbab bergonya. Warna yang ia padukan juga sangat kontras tak nyambung sama sekali.
“Anak gadis itu dandan yang bener gitu lho Dek, nggak malu apa di sini ada Nak Eza?” celetuk Bunda.
__ADS_1
“Hehehe, biar tahu aja Mamasnya gimana Dedek yang sesungguhnya,” jawab Wardah yang kini duduk di samping Bunda.
“Jangan coba-coba kabur dari Wardah ya Za!” ancam Bunda,
“Bunda bercanda ya? Ya ndaklah Bun, hahaha” jawab Eza.
“Ambilin Eza sama Alif makan Dek,” perintah Bunda.
Wardah mengangguk dan mulai mengambilkan Eza dan Alif makanan. Selepas makan kini giliran Wardah yang membereskan meja makan. Bunda sudah izin ke kamar untuk istirahat. Alif memilih untuk menonton tv do sofa dan Eza membantu Wardah membereskan meja makan.
“Lusa kita ajak Bunda ke rumah ya, Mama mau ngajak Bunda jalan-jalan, biar nggak suntuk ditinggal kamu ke kantor,” ujar Eza sembari mengelap piring yang dicuci Wardah.
“Boleh, mau ngajak Bunda jalan-jalan juga pasti bisanya malam,” jawab Wardah.
Eza kembali ke apartemennya setelah menyelesaikan beres-beres dapur Wardah. Wardah memilih untuk ikut Alif menonton tv.
“Dek, Kakak tidur ya?” ujar Wardah pada Alif yang masih asik menonton pertandingan bulu tangkis.
“Iyaa,” jawabnya singkat.
“Baru aja pulang udah kesini lagi sih?” gumam Wardah.
Ia baru saja hendak memejamkan matanya dan terhalang oleh bel itu.
“Ada yang ketinggalan mungkin Kak,” ujar Alif tak mengalihkan pandangannya dari tv di hadapannya.
Dengan langkah gontai Wardah membuka pintunya. Sudah ada Caca yang melipat tangannya ke depan dengan wajah menantangnya. Ternyata tak sendiri, ia bersama Haris sang pacar. Bedanya Haris lebih memilih menunjukkan senyum manisnya dari pada mengikuti raut wajah pacarnya itu.
“Wa’alaikumussalam, jangan lupa ucapkan salah Caca,” ujar Wardah.
“Jangan gitu wajahnya Zeyeng, kan aku jadi takut... Ayo masuk! Aku jelasin semuanya. ” ajak Wardah merangkul lengan Caca mengajaknya masuk.
__ADS_1
“Lho! Kucrut! Kamu ngapain di sini?” tanya Haris yang terkaget-kaget melihat keberadaan Alif di sini.
“Abang sendiri ngapain ke sini?” tanya balik Alif.
“Wardahkan rekan kerja Abang, wajar dong kalau main ke sini,” jawab Haris yang duduk di samping Alif.
“Kak Wardah juga Kakak Alif sekarang! Jadi wajar dong Alif di sini,” balas Alif.
“Widiiih, Kakak! Hahaha, emagnya udah resmi?” ledek Haris.
“Bentar lagii juga resmi,” jawab Alif.
Sedangkan Caca menarik Wardah menuju kamarnya tapi terhenti di tengah ppintu melihat Bunda tang tidur dengan pulasnya di tempat tidur.
“Bunda ikut ke Jakarta juga?” bisik Caca takut membangunkan Bunda.
“Iya, kemarin nggak mau ikut Kak Yusuf pulang,” jawab Wardah.
Diajaknya Caca keluar menuju dapur. Duduklah mereka di meja makan.
“Tanyalah apa mau kamu tahu,” ujar Wardah.
“Kenapa nggak ajak aku waktu Eza mau ngelamar kamu?” tanya Caca.
“Haiish, aku juga nggak tahu kalau Mas Eza mau ngelamar aku Ca, aku juga baru tahu kalau di sana juga ada Bunda, Mama dan Papa juga,” jawab Wardah sekenanya.
“Dasar Eza! Bisa-bisanya nggak mau ngelibatin aku di dalamnya,” gerutu Caca.
“Mas Eza dibantu Anisa sama suaminya deh kayaknya,” ujar Wardah.
“Apa sih Ca? Kemarin baru lamarfan pribadi. Besok kalau lamaran resmi pasti libatin kamu kok! Tenang ajah! Kan yang paham dekorasi kamu,” ujar Eza yang tiba-tiba sudah ada di dapur.
__ADS_1
“Awas aja kalau nggak ajak aku lagi!” ancam Caca.
...Bersambung...