Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Dag Dig Dug


__ADS_3

Aditya meninggalkan pasangan yang masih bercek-cok mulut dalam lift. Untung ia sempat merampas keycard pada Caca. Wardah justru malah mendusel dengan santainya pada dada bidang Aditya. Berbahaya sekali dalam posisi seperti ini.


"Di kamar aja Dit, pindahannya di pending besok pagi," ujar Caca.


"Wardah belum sholat isya' lho," ujar Aditya.


"Amanlah tu, diakan belum makan malam. Pasti bangun sendiri nanti," jawab Caca dengan santainya.


Aditya membawa Wardah ke kamarnya. Meletakkan di tempat tidur dengan kehati-hatian ekstra.


"Jangan tidur sembarangan lagi ya? Jangan tertidur kecuali jika bersama saya," lirih Aditya.


Menyelimuti Wardah dan mengatur suhu ruangan agar nyaman. Barulah ia keluar. Caca dan Hito sudah sibuk memilih menu makanan di salah satu aplikasi online.


"Mau pesen apa Dit?" tanya Hito menyodorkan gawainya.


"Terserah kalian dah," jawab Aditya.


Ia beranjak dan duduk di sofa ruang tamu sekaligus ruang tv. Menyalakan siaran tv, meskipun itu tak sesuai dengan seleranya. Caca dan Hito yang awalnya di meja dapur, berpindah mengikuti Aditya. Kurang lebih menunggu satu jam,


Ting


Tong


Caca berlari membuka pintu dan mengambil pesanan mereka. Jika biasanya mereka makan di ruang makan, kini mereka makan di ruang tamu. Lesehan di depan tv.


.


.


.


Cklek!


"Caca! Aku lapeerrr," rengek Wardah yang tiba-tiba membuka pintu.

__ADS_1


Pandangannya terkunci pada manusia-manusia di hadapannya. Begitu pun lawan bicara Wardah, mereka tampak melongo melihat tampilannya. Hito masih menggigit balungan ayam. Dan Aditya memending suapan ke mulutnya.


"Astaghfirullah!" teriak Caca berlari menarik Wardah ke dalam kamar.


Pasalnya kini Wardah tak memakai jilbabnya. Rambutnya terikat asal memamerkan leher jenjangnya.


"Apa-apaan sih! Keluar nggak kira-kira," protes Caca.


"Aku nggak tahuuu," jawab Wardah lirih.


"Ya udah, ayo makan! Katanya laper," ajak Caca.


"Malu," lirihnya lagi.


"Mau puasa sampai pagi? Udah ayo! Khilaf tadi. Cepet pakai jilbab!" tegas Caca.


Wardah menata rambutnya dan segera memakai jilbabnya. Tak lupa mengganti pakaian kerjanya menggunakan sarung mbak santri dan kaos panjang. Wardah merangkul lengan Caca erat. Ia sangat maluuu! Rambutnya sudah terumbar pada dua lelaki bukan mahromnya. Ayah, maafkan Wardah yah...


"Udah, nggak papa, ayuuk!" ajak Caca.


Cklek!


"Jangan dilihatin terus Wardahnya. Tadi dia kira nggak ada laki-laki di sini," ujar Caca.


"Kamu cantik kayak tadi," celetuk Hito. Sukses membuat Caca dan Wardah memelototinya.


"Iya-iya maaf, ayo lanjutkan makan," ujar Hito lagi.


Wardah benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya di kolongan meja. Pasalnya Aditya terus memandanginya. Gemas dengan tatapan laki-laki di hadapannya, Wardah menendang betis Aditya yang kebetulan duduk bersila.


"Aduh!" keluh Aditya.


"Kenapa lu?" tanya Hito.


"Emm, itu, em, kegigit lidahnya," jawab Aditya.

__ADS_1


.


.


.


Selesai makan malam, kini Wardah dan Caca membereskan brangkas makan mereka. Wardah bertugas mencuci, dan Caca bertugas membereskan ruang yang mereka gunakan makan tadi.


"Jangan tiduran di sembarang tempat lagi Wardah," ujar Aditya berdiri di samping Wardah yang masih membasuh piring.


"Kapan saya tidur sembarangan?" tanya Wardah.


"Tadi, mending kalau mudah banguninnya," celetuk Wardah.


Blush! Wardah ingat. Ia tadi tidur di mobil Aditya.


"Yang mapah saya ke kamar siapa?" tanya Wardah lagi kali ini menghadap Aditya.


"Kamu kira orang akan tega memapah wanita tidur?" tanya balik Aditya.


"Lalu? Berarti... Saya digendong?" Wardah mulai penasaran. Aditya mengangguk mantab mengiyakan.


"Siapa yang gendong?" tanya Wardah semakin mendekat.


Lama sekali Aditya tak menjawab. Hinga,


"Menurut kamu? Huufft, nggak baik jantung saya jika terlalu dekat dengan kamu," jawab Aditya dan berlalu meninggalkan Wardah.


Wardah diam membisu di tempat. Siapa yang menggendongnya? Dan apa tadi? Jantungnya tak sehat jika berdekatan dengan Wardah? Apa dia mempunyai riwayat penyakit jantung? Tapi, dilain sisi hati Wardah terenyuh. Rasanya senang sekali ada yang mengatakan hal itu.


...Bersambung......


...Salam manis dari Aditya .


__ADS_1


...


__ADS_2