Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Otw


__ADS_3

Malam ini Eza tengah prepare barang-barang yang akan ia bawa mendaki. Wardah sebenarnya ingin membantu, tapi ia tak tahu harus membantu apa. Akhirnya Eza menugaskan istrinya untuk mengecek beberapa barang yang sempat ia list di catatan gawainya.


Setelah beberapa saat menyiapkan barang-barang, kini saatnya mereka membersihkan diri untuk tidur. Wardah menyiapkan sikat gigi dengan pastanya untuk sang suami dan dirinya. Eza yang awalnya paling malas membersihkan wajah dan menggosok gigi, setelah kehadiran Wardah ia lebih terurus.


Mereka berdua seolah sedang berlomba untuk membersihkan masing-masing gigi. Dengan usilnya Eza mencolekkan busa pasta giginya di pipi Wardah. Tawa Eza menggelegar seketika.


"Iihhh! Jorok ih!" protes Wardah segera membersihkan wajahnya.


"Dasar usil!" sambung Wardah memukul lengan Eza.


Bukannya berhenti, Eza kembali mengganggu Wardah. Memeluk Wardah dari belakang membatasi pergerakan Wardah. Sesekali Eza juga menggelitiki pinggang Wardah. Wardah yang termasuk orang yang sensitif dengan kegelian, berubah drastis menjadi ulat yang kepanasan.


"Jangan gitu! A A A A! MAS EZAAA! Ampuuunnn, ampuuunn, ahahahaha! Maass!" dengan histerisnya Wardah menahan geli.


Tentu saja menimbulkan efek ngos-ngosan setelahnya. Berulang kali Wardah memukul dan menendang Eza setelah mencuci wajahnya sebagai balasan.


"Ahaha, kdrt ini mah," ujar Eza.


"Salah siapa resek mulu jadi orang!" jawab Wardah.


Eza mengambil kursi dan duduk di depan wastafel. Meminta Wardah agar membersihkan wajahnya. Karena Eza memang belum mencuci mukanya. Dengan telaten Wardah memakaikan bando untuk mengamankan rambut Eza. Bando yang ia pilih sengaja warna pink. Ingin rasanya melihat Eza comel. Hahaha. Barulah ia duduk di pangkuan Eza dan mulai treatment wajah Eza.


Sudah membersihkan wajah mereka, seperti biasa Wardah mengenakan skincarenya. Tak lupa dengan Eza. Dengan nyamannya Eza berbaring di tempat tidur. Sedangkan Wardah meratakan satu per satu skincare ke wajah Eza.


"Jangan tidur dulu Mas," ujar Wardah mencubit pipi Eza.


"Nggak tidur ini Ay... Cuma merem aja keenakan dielus-elus kamu," jawab Eza.


"Cuma merem, nanti ketiduran beneran," sambung Wardah.


Sudah selesai dengan wajah Eza, kini saatnya mereka mengistirahatkan tubuh. Besok selepas subuh, mereka harus langsung menuju lokasi pendakian.

__ADS_1


"Ay, besokkan kita mendaki. Pasti Ayang juga udah tahukan gimana alam gunung itu. Bisa jadi kita bertemu dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain," ujar Eza dengan memeluk Wardah yang membelakanginya.


Wardah yang paham dengan maksud suaminya sontak memundurkan dirinya mepet dengan Eza. Diangkatnya jemari Eza untuk menutupi matanya.


"Nggak papa Ay... Nggak usah takut, kan ada Mas," ujar Eza mengeratkan pelukannya.


"Kita rame-ramekan Mas ngedakinya? Nggak sampai malamkan? Aku pengen ngedaki, tapi kok juga takut," tanya Wardah dengan menggenggam tangan Eza.


"Iya, kita rame-rame Ay... Yang penting kita nggak aneh-aneh di tempat yang bukan punya kita," jawab Eza.


Wardah memilih untuk menghadap ke Arah Eza. Sepertinya posisi ini lebih membuatnya tenang. Apalagi dengan menghirup aroma suaminya, menenangkannya juga.


"Masak udah pegang kalamnya Allah, masih takut sama makhluk ciptaan Allah yang lain," celetuk Eza.


"Hehehe, nggak tahu... Dulu di pesantren waktu ada kesurupan masal aja nguwat-nguwatin hati biar nggak ikut kosong pikirannya," lirih Wardah.


"Bismillah, kitakan di dunia ini hidup berdampingan. Bisa jadi di sini juga ada noh," celetuk Eza menakuti istrinya.


"Hahaha! Tenang, Mas jagain kamu kok. Tidur yuk!" jawab Eza sembari mengelus rambut Wardah agar segera tertidur.


"Jangan bobok dulu sebelum Aku bobok!" ancam Wardah.


"Iyaa," jawab Eza.


Mau tak mau Eza terus mengelus rambut Wardah. Padahal dirinya sudah mengantuk. Yang sebenarnya saat ini masih pukul sembilan. Wardah menarik baju Eza saat dirinya berhenti mengelus rambutnya. Oke! Eza harus menguatkan mata dan terus mengelus rambut Wardah sampai ia tidur.


Tak ada salahnya memang, jika Wardah tergolong *****. Sehingga Eza tak terlalu lama menahan matanya untuk begadang.


🌾🌾🌾


Tepat setelah subuhan, Eza dan Wardah meluncur ke lokasi pendakian. Tepat di pos 1 untuk mengajukan pendataan anggota pendaki. Wardah sebenarnya khawatir jika hanya dirinya yang perempuan, tapi tak disangka ternyata Caca, Hito, dan beberapa temannya terbang ke Jawa Timur.

__ADS_1


Wardah sontak berlari memeluk Caca. Bisa-bisanya Eza tak memberitahu jika Caca ikut. Mereka bertemu di post 1.


"Enak bener deh honeymoon. Jatah presenter gua yang ribet cari pengganti," celetuk Caca.


"Hehe, maaf besty," jawab Wardah.


"Gimana kado dari gua sama Anisa? Udah Lu pakai?" bisik Caca.


"Kepo!" jawab Wardah meninggalkan Caca.


Wardah memilih untuk mengikuti Eza yang mengecek barang-barangnya sekali lagi.


"Aku bawa yang mana Mas?" tanya Wardah.


"Nggak usah bawa apa-apa. Cantiknya Mas nggak boleh terlalu capek. Cantik, Kamu cukup gandeng Mas selama perjalanan," jawab Eza.


"Terus barang aku sama siapa?" tanya Wardah lagi.


"Sama Aku, tasnya Mas sama Tio," jawab Eza.


Setelah beberapa perdebatan panjangnya dengan Eza, akhirnya Wardah menerima keputusan suaminya. Mereka kini sudah mulai bersiap mendaki Gunung XXX. Wardah melihat sekeliling yang seluruhnya merupakan pepohonan.


Jika pagi seperti ini terlihat sangat indah nan asri. Tak jika malam nanti. Wardah tak mau membayangkan hal-hal yang mengerikan. Ia hanya ingin berusaha kuat mendaki dan bersenang-senang bersama Kang Suami. Wardah yang tak enakan karena tak membawa barang, akhirnya Eza memberikan sebuah tas ransel berisi sedikit bekal. Setidaknya ia terlihat membawa barang. Hahaha.


Diawal pendakian menuju pos 2, jalanan belum begitu berat. Karena memang tidak terlalu menanjak. Jemari Eza tak terlepas sama sekali dari jemari Wardah. Mengingat ini merupakan kali pertama istrinya mendaki, tak heran jika Eza cukup waspada. Apalagi jalur yang mereka lalui, berupa jurang di sisi kirinya.


Berulang kali pula Eza menawarkan kepada Wardah untuk ia gendong. Tapi sang empunya menolak. Tak jarang pula Caca mengomentari Eza mengenai perlakuannya. Menurutnya itu terlalu berlebihan. Caca sendiri melihat Wardah juga masih segar bugar. Apalagi ini baru menuju ke pos 2.


"Za! Nanti gua lakban mulut Lo. Setiap menit kok nanyain Wardah mulu," ujar Caca.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2