Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lengket


__ADS_3

Setengah hari ini Wardah gunakan untuk quality time di rumah. Sebelum siang nanti berkunjung ke rumah Anisa. Esok hari harus berangkat lagi ke Jogja menjemput Mama dan Papa. Tak lupa utuk first time bertemu dengan Mbak Dian kakak dari Eza.


Selesai menjemur pakaian, saatnya mengistirahatkan tubuh terlebih dahulu. Caca tampaknya masih sibuk membantu Bunda di dapur. Egois sekali rasanya jika tak membantu mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk turun ke bawah.


Suara celotehan Inayah sudah menghiasi rumah ini tiap pagi. Oh iya! Sekarangkan weekend, berarti anak itu tak ke sekolah hari ini.


Tumbenan pagi-pagi seperti ini Eza sudah rapat saja. Laptop dengan pakaian rapinya sudah terpandang dengan apik. Yang menjanggal di sini adalah posisi Inayah yang ada di pangkuan Eza. Dengan pertanyaan-pertanyaan absurdnya.


"Kak, Inayah gangguin Mas Eza tuh," ujar Wardah kepada Kak Yusuf yang duduk tak jauh dari dua insan yang cekikikan.


"Biarin napa, yang diganggu aja lempeng-lempeng aja," jawab Kak Yusuf dengan santainya.


"Nggak papa, rapatnya santai kok," timpal Eza.


Sudah macam bapak-bapak rumah tangga plus pebisnis yang dititipi anak olek Maknya. Jadilah kini Eza rapat sembari memangku Inayah yang kepo dengan orang-orang yang ada di frame.


"Lho! Mas Harisnya mana Kak?" tanya Wardah.


"Ada di ruang tamu, suaranya mantul kalau nyalain zoom berdekatan," jawab Kak Yusuf.


Wardah manggut-manggut menimpali Kakaknya yang kini tengah sibuk membaca koran. Tiba-tiba mengingatkannya pada sosok Ayah... Wardah menghampiri Bunda dan Caca yang sibuk menyiapkan makan pagi.


"Kamu buatkan kopi untuk para laki-laki itu Dek," ujar Bunda.


Tak ada kata lain kecuali menurut. Wardah membuatkan kopi tubruk dengan menyaring benih-benih hitamnya. Agar lebih mudah mereka meminumnya. Kasihan kalau mereka nanti harus tersedak atau harus menyingkirkan terlebih dahulu bubuk kopinya. Tak lupa ia membuatkan susu untuk keponakannya yang mendadak menjadi asisten Eza. Hahaha.


"Kak Ina dimana Bun?" tanya Wardah.


"Lagi di butik, kain untuk lamaran kamu baru aja datang katanya. Makanya mau di cek sama Kak Ina," jawab Bunda.


.


.

__ADS_1


Wardah menghampiri Haris terlebih dahulu karena jaraknya yang jauh yakni di ruang tamu. Ia tampak tengah mempresentasikan uneg-unegnya. Memberikan isyarat pada Wardah untuk ucapan terima kasih.


Barulah Wardah menghampiri Eza dan Kak Yusuf.


"Naya kok nggak hitam warnanya?" tanya Inayah melihat minumannya berwarna putih.


"Anak kicik harus banyak minum susu," jawab Wardah.


Dengan inisiatifnya, Inayah mengambilkan kopi Eza kemudian menyuapi Eza. Sontak Wardah ternganga melihatnya, sedangkan Kak Yusuf terkikik lucu melihat anaknya perhatian. Bisa-bisanya anak itu!


"Terima kasih anak manis," ujar Eza.


"Siapa itu Za?" tanya salah satu personil meeting Eza.


"Calon ponakan ipar Pak," jawab Eza dengan santainya.


Percayalah! Foto Eza meeting dengan ditemani Inayah viral seketika. Banyak sekali foto screenshots itu tersebar luas.


🌼🌼🌼


Sampai di mansion, mereka sudah disuguhi oleh pemandangan Farhan yang masih mengenakan baju koko dengan sarung amburadulnya sembari menggendong sang anak. Ntah yang digendong itu si abang atau si adeknya. Sedangkan Anisa tampak leyeh-leyeh dengan baby yang sedang tertidur dengan pulas di sampingnya.



"Wuiiihhh! Enak bener lu Nis! Mas Farhan disuruh nidurin Si Upin, Elunya leyeh-leyeh," canda Wardah.


"Kerutan di dahinya Mas Farhan aja langsung kelihatan ngasuh anak lima hari,hahaha," jawab Eza.


"Ngawur! Masih ganteng gitu," jawab Anisa tak terima.


Wardah menghampiri Anisa sembari menoel-noel pipi cuby babynya. Pulas sekali anak ini tidur. Eza mengambil alih baby yang digendong Farhan. Baby twins mereka begitu imut untuk dianggurin.


Hanya mereka berdua ternyata di mansion ini. Yang lain sedang mempersiapkan untuk aqiqah minggu depan. Oh tidak! Husna tiba-tiba muncul. Ternyata dia ada di mansion juga.

__ADS_1


Wardah dan Eza menghabiskan waktu hingga menjelang maghrib. Tepatnya saat Bunda kembali ke mansion bersama yang lainnya.


...🌼🌼🌼...


Perjalanan di pagi hari setelah sholat subuh memang yang terbaik. Tak perlu mereka melawan kemacetan yang sangat panjang. Yang menjadi tantangannya kali ini adalah adanya Inayah yang ikut bersama mereka. Daebak! Mereka sekaligus diberi tugas momong oleh Kak Yusuf.


Bukan! Lebih tepatnya Inayah yang ngotot untuk orang ikut ke Jogja. Akhirnya jalur mbolos dari sekolah adalah jalan yang ia pilih. Semoga saja tidak rewel.


"Ingat ya, nggak boleh rewel ataupun nyusahin Aunty sama Om," pesan Kak Ina.


"Siap Ma!" jawab Inayah.


Perjalanan selama 4 jam tentunya sangat melelahkan nantinya. Apalagi dengan Inayah yang tak mau duduk sendiri. Dari awal memasuki mobil ia terus dipangku oleh Eza yang juga sedang mengemudi. Ada apa dengan anak itu, kenapa sangat lengket dengan Eza?


Jangan lupakan dengan ocehan-ocehannya. Jadilah di sini Wardah tak digubris oleh keduanya. Setiap kali Eza hendak berbincang dengan Wardah, Inayah selalu memotongnya dengan pertanyaan-pertanyaan absurd.


Tampak Inayah sudah mulai terkantuk-kantuk di pangkuan Eza. Tapi seolah enggan berpindah tempat di pangkuan Wardah.


"Sini dek, kamu udah ngantuk lho itu, nanti Om Eza susah nyetirnya," ujar Wardah.


Dengan malasnya Inayah berpindah di pangkuan Wardah. Menghadap ke arahnya mencari posisi ternyaman barulah ia mulai tertidur. Tak jarang pula Wardah terkikik merasa geli dengan gerak yang Inayah ciptakan. Jangan salah, Wardah sangat sensitif dengan sentuhan-sentuhan, ia akan merasa geli saat tubuhnya disentuh. Apalagi dengan posisi Inayah saat ini yang mendusel di dadanya.


"Kenapa Ay?" tanya Eza yang mendengar kikikan Wardah.


"Hahaha, geli Mas... Naya lho gerak terus kepalanya. Ini aku aja nahan-nahan," jawab Wardah.


"Hahaha, gimana besok Mas meluknya kalau gelian gitu," celetuk Eza.


"Haish! Mesum ih!" protes Wardah. Sontak satu pukulan mendarat di lengan Eza.


Pipinya sudah merona menahan malu. Bisa-bisanya mengungkit masalah peluk memeluk saat ini. Wkwkwk


...Bersambung...

__ADS_1


...Maafkan Lhu-Lhu yang upnya lama, Lhu-Lhu sedang ada kesibukan di realitanya. Hahaha...


__ADS_2