
"Astaghfirullah! Udah lari-lari, masih aja di ajak jalan sejauh ini," gerutu Wardah. Ternyata jarak tempuh mereka tadi cukup jauh sekali.
"Duduk sini dulu," ujar Aditya menunjuk bangku di trotoar. Kali ini suasananya cukup ramai. Tak seperti tadi.
Aditya duduk di samping Wardah mulai merogoh kantongnya mengambil gawai. Ternyata ia menelepon orang suruhannya untuk mengantarkan mobil. Alamat menunggu lagi ini mah. Untung mereka sudah salat maghrib numpang di alfamart tadi.
"Saya pindah di kos an mana Om?" tanya Wardah.
"Kok Om sih?" protes Aditya.
"Lha harus panggil apa? Aku tuh bingung!" jawab Wardah frustasi.
"Orang kantor biasa manggil Mas," jawab Aditya. Dasar anak ini, memang tak peka-peka dipancing dari tadi.
"Sampean kerja di kantor itu juga aa? Pantesan tadi dari belakang aku datangnya," gumam Wardah. Mengingat-ingat kejadian tadi.
"Namanya sampean siapa sih panjangnya?" tanya Wardah lagi.
"Kenapa? Kepo dah!" goda Aditya. Sontak Wardah memutar bola matanya jengah.
"Nama saya itu Naufal Altheza Adhitama. Kata Aditya itu sebutan dari Papa saya. Awalnya anak kantor memanggil saya dengan sebutan Adhitama, saya menolaknya. Dan Papa memberikan nama panggilan itu. meski sebenarnya saya lebih senang dengan nama saya yang asli." jelas Aditya.
"Kenapa nggak mau di panggil Adhitama? Kan itu bagus," tanya Wardah lagi. Kenapa seperti reporter saja anak ini.
"Nanti lagi saja dilanjut, ayo pulang." ajak Aditya. Mobilnya sudah datang ternyata.
Aditya memasuki jok belakang, di ikuti Wardah yang duduk di sampingnya. Awalnya ia ragu, tapi Aditya sudah menarik lengan bajunya terlebih dahulu.
Sebenarnya Aditya lebih nyaman jika menggunakan mobil sendiri. Gegara jarak tempuh yang jah, akhirnya ia menelepon supirnya. Tak tega melihat Wardah yang kecapaian untuk berjalan kesekian kalinya lagi.
__ADS_1
"Pertanyaan saya tadi?" lirih Wardah.
"Nanti saja," jawab Aditya.
Oke-oke! Wardah menurutinya. Wardah menikmati perjalanan malam ini. Ini kali pertama ia menyusuri jalanan Jakarta. Tak macet, alhamdulillah. Wardah bersenandung ria melantunkan sholawat-sholawat modern. Aditya begitu menikmati alunan merdu itu. Begitu pun pak supir.
Udara malam membuat mata ini berat. Tak terasa, menikmati jalanan, akhirnya Wardah tertidur. Aditya yang awalnya menikmati suara merdu Wardah, terheran sendiri, kemana suara itu tadi?
"Mbaknya tidur Den," ujar Pak Supir.
"Iya pak, padahal saya lagi menikmati suaranya tadi," jawab Aditya. Pak Supir mengangguk setuju.
Terlihat Wardah menyender pada kaca mobil, yang dapat dipastikan jika itu tak nyaman sekali. Sesekali ia juga terpentok kaca itu. Tentu saja Wardah tak terbangun. Kalian tahu sendiri bagaimana Wardah jika ia sudah pulas.
Aditya memindahkan Wardah agar bersender pada sofa mobil. Tapi Wardah malah menyender dengan nyamannya pada pundak Aditya.
Dug! Dug! Dug!
"Bapak jangan bilang macam-macam sama Papa ya!" tegas Aditya pada Pak Supir ketika memergoki Pak Udin mengulum senyum.
"Siap Den! Aman dengan saya," jawab Pak Supir.
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Hingga kini sampailah mereka pada pintu masuk apartemen. Aditya membangunkan Wardah berkali-kali, tapi itu semua nihil.
"Gendong aja Den," celetuk Pak Udin.
"Nggak mungkin Pak, dikira kurang ajar saya nanti," jawab Aditya.
Aditya merogoh jas-nya dan mengambil gawainya. Ia tampak menghubungi manusia di sebrang sana. Menunggu beberapa menit kemudian muncullah Caca keluar apartemen dan mendekati mobil Aditya. Tidak sendiri, ia bersama Hito.
__ADS_1
"Wuiih! Selangkah lebih maju lu Bro!" celetuk Hito.
"Susah kalau ni anak dah tidur. Ngebo! Bentar, gua minta izin Kakaknya Wardah dulu," ujar Caca. Ia mengetik sebuah nama dan menyambungkan dalam panggilan.
"Iya kak, tadi itu kami baru pulang kerja, eh! Wardahnya malah ketiduran. Kalau, Caca minta tolong temen Caca buat gendong Wardah gimana? Tenang Kak, temen Wardah orang baik-baik kok! Nggak macam-macam, seriuz deh! Oke kak! Makasiiih, waalaikumussalam," di tutuplah panggilan telepon itu.
"Gendong gih! Seret juga nggak papa," ujar Caca akhirnya.
"Sini aku gendong," celetuk Hito.
"Mau tak jewer ta?" ancam Caca.
"Hehehe, ampun bos!" lirih Hito cengengesan.
"Dit!" panggil Caca.
Jadilah kini Aditya yang turun tangan. Di gendongnya Wardah memasuki apartemen. Beberapa pasang mata melihat adegan ini. Tak dapat dipungkiri, Aditya memang sangat dikenal sepenjuru apartemen. Bagaimana tidak, dialah pemilik gedung ini. Menggantikan ayahnya.
"Berat nggak?" tanya Caca iseng.
"Kalau anaknya segini sih dapat dipastikan kalau nggak berat," bukannya Aditya yang jawab, malah Hito.
"Ooo! Berarti, kalau orangnya aku, berat?" protes Caca.
Suasana seperti ini yang paling dibenci Aditya. Pasangan di depannya selalu saja cekcok. Aditya menyenderkan punggungnya pada dinding lift. Diperhatikannya wajah damai Wardah yang menempel dengan nyamannya pada dada bidangnya.
"Kemana suaminya? Bukankah wanita ini sudah menikah?" batinnya. tiba-tiba Aditya teringat ucapan Wardah tempo dulu. Awal mula pertemuan mereka. Ingin rasanya ia tak mengakhiri saat-saat seperti ini. Tak dapat dipungkiri, jika ia tertarik dengan wanita dalam pelukannya ini.
"Kenapa di saat aku mulai tertarik, justru malah dengan wanita yang sudah bersuami?" batinnya terus bergejolak.
__ADS_1
...Bersambung.... ...
Gaess! Ayo dukung Lhu-lhu! Minta bantuan vote + like + komen + share doong....