
Puas dengan wahana yang tak sedikit, Eza mengajak anak dan istrinya berjalan-jalan santai mengelilingi kulineran yang berjejer rapi di pinggiran jalan. Wardah tengah bingung mencarikan makanan yang cocok untuk Sakha. Pasti sulit menemukan makanan yang menurutnya aman dan cocok. Mana ada di tempat seperti ini makanan untu Sakha. Biasanya anak seusia Sakha senang kalau diberi sosis goreng. Tapi Wardah cukup posesif untuk masalah makanan si kecil. Minyak goreng dan peralatan yang digunakan oleh para pedagang belum tentu steril.
“Nggak papa-lah Ay, sesekali… kan nggak mungkin Si Abang mau nonton kita makan,” ujar Eza.
“Emm… Bentar Mas, kita jalan sebentar lagi ya, siapa tahu ada yang lebih pas lagi,” jawab Wardah.
Eza mengangguk menuruti istrinya. Padahal dulu waktu Wardah masih kecil hingga dewasa sering mengonsumsi makanan sembarang. Ntahlah, Wardah begitu ingin menjaga makanan yang dikonsumsi anaknya. Hingga beberapa Langkah, tertujulah Wardah pada seorang bapak-bapak yang menjual jasuke (jagung, susu, keju). Makanan yang menjadi favorit Wardah juga. Dan sepertinya makanan itu yang akan pilihkan untuk Sakha.
Setelah urusan jasuke selesai, barulah Wardah tenang untuk memilih kuliner untuknya dan Eza. Beruntung mereka sudah selesai sholat maghrib, jadi mereka bisa tenang menikmati jalan-jalan mereka. Ditangan Eza sudah penuh dengan kantong plastik berisi makanan-makanan yang menggugah selera. Kini gentian Wardah yang menggendong Sakha.
__ADS_1
Dewi fortuna tengah berpihak pada mereka sepertinya. Malam ini mereka seolah bebas berkeliaran tanpa aunty-aunty dan ibu-ibu yang sibuk meminta foto pada Wardah atau Sakha. Mereka bisa family time dengan leluasa.
Di pinggir sungai yang sudah dihias terdapat tikar-tikar yang membentang. Disewakan untuk para pengunjung yang hendak lesehan bersama. Eza menyewa salah satu tikar itu untuk mereka beristirahat sejenak sembari menikmati jajanan. Sakha sudah anteng menikmati jasuke yang sudah tak panas lagi itu di tangannya. Meski belepotan, membuat bocil itu semakin comell. Begitupun dengan Wardah dan Eza yang juga siap menikmati makanan yang mereka kumpulkan tadi. Ada jasuke, seafood, martabak, gorengan, salad, jus, es campur, dan masih banyak lagi. Mereka benar-benar kalap malam ini.
Wardah tak yakin jika Sakha hanya memakan jasuke itu saja. Jadilah Wardah menelepon Mama untuk meminta tolong mengirimkan makanan Sakha dari rumah menuju lokasi mereka. Bermodalkan aplikasi pengirim barang instan tentu itu memudahkannya.
Selang waktu kurang lebih dua puluh menit, Akang-akang ojol sudah memasuki pasar malam dan segera mengikuti rute posisi yang disebutkan Wardah. Tak berselang lama datanglah makanan Sakha yang saat di buka ternyata masih hangat. Tenang sudah jalan-jalan dadakan kali ini. Jarak rumah dan tempat mereka yang tak jauh membuat Wardah dan Eza tenang jika meminta tolong seperti tadi.
Selepas makan malam, mereka bertiga masih nyaman stay di karpet sewaan. Sakha sudah asik bermain dengan mainan yang baru saja dibelinya. Wardah kini sudah berbaring di samping Sakha dengan berbantalkan paha Eza. Di tempat mereka tak terlalu ramai seperti tadi. Membuat Wardah bisa enjoy menikmati gemerlap bintang sembari berbaring seperti ini. Jangan lupakan dengan deeptalk-nya dengan Eza yang cukup absurd tapi menyenangkan menurut ukuran mereka berdua.
__ADS_1
“Dua minggu lagi-kan Dinda sama Naya liburan semester Mas?” tanya Wardah.
“Kalau nggak salah sih iya. Gimana Kakak kamu, bisa ke Jakarta?” jawab Eza.
“Harus bisa sih itu, tenang aja, biar aku yang bujuk Kak Faisal,” sambung Wardah.
Tengah asik berbincang berdua pandangan Wardah tertuju pada seseorang yang tak jauh dari posisi mereka. Benar-benar sosok yang familiar sekali. Wardah menajamkan penglihatannya karena memang cukup remang. Gita! Benar itu Gita!
...Bersambung...
__ADS_1