
Perjalanan di mulai pada pukul 7:00 WIB. Membutuhkan waktu 4 setengah jam untuk sampai di Yogyakarta. Wardah sampai bingung hendak mengajak ngobrol apa lagi dengan Mas Eza. Takutnya nanti ngantuk kalau tidak di ajak ngobrol.
Hujan pun masih saja mengguyur. Awet sekali hujannya. Alhasil mereka tak dapat menambah kecepatan kemudi kendaraan. Licin gaess jalannya. Sepertinya besok-besok perlu gotong royong nyikat aspal tol deh.
"Masih kedinginan?" tanya Mas Eza pada Wardah yang masih berusaha menyembunyikan tangannya di sela-sela jaket.
"Hehehe, lumayan mas... Hujannya nggak berhenti-berhenti yaa," jawab Wardah.
"Sepertinya saya punya sarung tangan, sebentar..." gumam Eza sembari mencari di jok mobil. Dan akhirnya tertemukan.
"Pakai ajah," ujar Eza memberikan sarung tangan pada Wardah.
"Nggak usah Mas, dipakai Mas aja. Tangannya Mas aja juga udah putih gitu. Pasti kedinginan juga," jawab Wardah menolak. Tangan Eza tampak pucat akibat kedinginan. Tega sekali jika Wardah harus memakainya.
Eza memakai sarung tangan itu dan seketika meraih jemari Wardah untuk ia genggam. Sukses jemari mungil itu tenggelam pada genggamannya. Tangan sebelahnya masih tetap konsisten mengemudikan mobil.
"Eh!" kaget Wardah.
"Kan ada pelapisnya, nggak papa kali ya, hehehe. Biar adil Dah, aku nggak dingin lagi, kamu juga," celetuk Eza.
Wardah bingung hendak menjawab apa. Hangat, memang hangat. Sangat nyaman. Dengan kikuknya Wardah mengangguk patuh dan membiarkan jemarinya digenggam Eza.
__ADS_1
"Mas, kalau kasus yang sudah lama ditutup bisa dibuka lagi nggak ya?" tanya Wardah penasaran.
"Emmm, sepertinya bisa deh kalau ada bukti yang keluar lagi. Coba aja besok tanyakan ke Papa." jawab Eza.
Dulu Eza diminta Papa agar mengikuti jejaknya menjadi pengacara. Tapi sang anak lebih memilih untuk menjadi bisnisman. Sang Papa yang juga memiliki bisnis akhirnya menghandle semuanya dibantu sang anak.
"Kenapa? Punya kasus apa kamu?" tanya Eza.
"Hehehe, nggak ada Mas," jawab Wardah.
Sinar matahari yang sedari tadi ditunggu akhirnya muncul juga. Perjalanan masih berlangsung. Satu jam lagi mereka sampai di kota Yogyakarta. Perut mereka mulai berontak meminta untuk diisi. Wardah sudah merengek dari tadi menanyakan dimana rest areanya.
Akhirnya Eza memutar kendali menuju rest area terdekat untuk istirahat sejenak.
"Laper maass," rengek Wardah lagi.
Oke! Mengalah. Wardah mengambil keranjang yang dibawakan oleh Bunda tadi. Mereka tak keluar dari mobil. Untung saja Bunda membawakan bekal. Jadinya mereka tak perlu mengeluarkan biaya hidup mengisi perut.
Tampak Wardah membungkuskan nasi dengan beberapa lauk menggunakan kertas minyak.
"Sebentar ya Mas," ujar Wardah.
__ADS_1
Ia keluar dari mobil membawa 2 bungkusan nasi. Eza yang dari tadi melihatnya tampak bingung. Mau makan dimana pujaannya itu? Mana bawa dua bungkus lagi. Kuat amat makannya. Eza masih terus mengikuti arah pandangannya terhadap Wardah. Hingga ia menghampiri seorang bapak tua dengan ibu-ibu. Sepertinya mereka suami istri. Ia juga memberikan beberapa lembar uang untuk bapak tua itu.
Deg! Hati Eza tiba-tiba tersentuh melihat adegan itu. Dengan wajah yang berseri, Wardah kembali ke mobil. Eza malu sendiri melihat adegan itu.
"Bapak sama Ibu itu kenapa tadi?" tanya Eza basa-basi. Ia canggung sendiri dibuatnya.
"Laper kayaknya Mas, kasihan," jawab Wardah bersimpati.
Eza manggut-manggut menimpali. Akhirnya mereka tak jadi makan di rest area itu. Wardah memilih untuk makan sambil jalan saja.
"Mas Eza nggak laper?" tanya Wardah.
"Kehendak hati pengen makan Dah, tapi pengen cepet sampai juga. Gimana coba? Hahaha" celetuk Eza dengan tawa renyahnya.
"Aak!" Wardah menyodorkan sendok pada Eza hendak menyuapinya.
Eza tampak lola melihat Wardah. Benarkah Wardah akan menyuapinya?
"Aman, sendoknya baru kok! Bukan bekasnya saya," ujar Wardah. Ia pikir Eza tak mau disuapi karena satu sendok dengannya. Tapi pada dasarnya Eza tak masalah. Malah senang tak karuan. Itu artinya mereka berciuman secara tak langsung. Hahaha. Kan begitu teorinya film-film romantis. Hahahaha.
Eza segera melahap makanan itu sebelum Wardah berubah pikiran. Senyuman Eza mengembang seketika.
__ADS_1
"Eemmm, enak!" ujarnya.