
Keluar dari ruangannya Wardah menghampiri Aditya.
"Wardah!" panggil Mas Angga sebelum Wardah benar-benar sampai di hadapan Aditya.
"Iya Mas?" tanya Wardah.
"Ini untuk kamu. Tadi kan berangkat subuh, pasti kamunya belum sarapan. Kebetulan tadi mampir di warung, kalian deh beli," ujar Mas Angga memberikan bingkisan. Bukan, tepatnya sebuah kotak nasi.
Keadaan sekarang sudah sangat kenyang, tapi hendak menolak tak enak. Ia menghabiskan kepiting buatan Aditya tadi. Tak ingin tersinggung, Wardah menerimanya dengan senyuman mengembang.
"Terima kasih ya Mas," jawab Wardah. Mas Angga mengangguk mengiyakan kemudian berlalu kembali ke ruangannya.
Interaksi keduanya tak lepas dari pandangan Aditya. Ia mencium bau-bau persaingan di sini. Sepertinya ia salah membiarkan Wardah berada di divisi ini. Angga yang ia anggap pendiam ternyata sudah menjadi laki-laki yang lebih berani.
Wardah berbalik menghampiri Aditya, dan mengikutinya menuju lift.
"Kamu belum kenyang?" tanya Aditya tiba-tiba.
"Ya udahlah Mas, walaupun suka makan ya punya rasa kenyang saya Mas," cibir Wardah.
"Lha itu?" tanya Aditya lagi sembari menunjuk bekal makanan yang diberi.
__ADS_1
"Dikasih Mas, kan nggak enak kalau nolak," jawab Wardah. Sebenarnya ia senang juga dikasih, kan nanti nggak perlu keluar piti untuk makan lagi.
Keluar dari lift seperti biasa, beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka berdua. Wardah sebenarnya terusik, tapi tak serisik saat pertama mereka jalan berdua. Beberapa kali Wardah melihat Aditya berbincang santai dengan rekan lainnya. Sepertinya laki-laki itu memang tergolong humble (gampang akrab) dengan orang-orang di sekitarnya. Sesekali karyawannya juga bercanda dengan atasannya itu. Bukan hanya karyawan divisi, tapi dari bagian OB juga tampak akrab dengan manusia satu ini.
“Mana makanan dari Angga tadi?” tanya Aditya ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
“Ini,” jawab Wardah mengangkat bingkisan berisi bekal makanan. Aditya mengambil bingkisan itu tiba-tiba.
“Eh! Mas itu mau di kemanain?” tanya Wardah bingung plus kaget.
“Syuut, diem dulu,” ujar Aditya.
Di jalankannya mobil kemudinya melewati pos penjagaan. Sejak kapan ada pos penjagaan? Perasaan dulu hanya di bagian pintu masuk saja yang ada petugas keamanan. Sepertinya Aditya sengaja menambah pusat keamanan di kantornya semenjak kejadian beberapa bulan lalu yang di alami Wardah. Sepasang pereman yang mengganggu Wardah di taman depan kantor.
“Pak! Ini ada makanan untuk Bapak makan siang. Langsung dimakan ya Pak,” ujar Aditya memberikan bingkisan yang diberikan Angga tadi. Wardah melongo dibuatnya. Bisa-bisanya jatah makan siang keduanya diberikan kepada orang lain. Ia tahu jika saat ini sudah sangat-sangat kenyang. Tapi siapa yang tahu jika nanti sewaktu-waktu perut dan cacing-cacingnya kembali meronta kembali. Dirinya itu sebelas dua belas dengan sahabatnya Anisa. Sama-sama suka makan.
“Terima kasih Mas Adit. Siap! Langsung saya eksekusi, hahaha!” jawab bapak satpam. Untung saja bapak satpam itu sendirian. Kalau berdua, masak mereka harus sepiring berdua. Hahaha.
“Kok dikasihin orang sih?” protes Wardah dengan muka cemberutnya. Nanti dikira dirinya tak menghargai pemberian orang lain.
“Kan kamu udah kenyang. Kasihan nanti mubazir,” jawab Aditya.
__ADS_1
“Nanti dikira aku nggak menghargai pemberian orang,” gerutu Wardah.
“Kamu nggak rela pemberian Angga dikasih ke orang lain?” tanya Aditya. Kenapa seperti percek-cokan sepasang kekasih yang cemburu sih?
“Ya bukan gitu Mas…”
“Saya cuma kasihan dengan Pak Mamat, biasanya dia belum makan atau bahkan tidak makan saat siang seperti ini. Makanya saya kasihkan ke beliau. Kamukan sudah kenyang, jadi saya pikir tak masalah jika saya berikan kepada beliau,” potong Aditya.
Wardah terdiam seketika. Benar juga perkataan bosnya itu. Lebih baik diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Tapi tetap saja, gagal sudah dapat makan gratis yang kedua kalinya. Ekspetasi Wardah awalnya, ia tak perlu mengeluarkan uang untuk makan malam. Ia hanya perlu memanaskan makanan itu. Kalau begini nanti ia harus mengeluarkan uang kembali. Dasar perhitungan!
“Nanti malam ikut saya makan malam,” ujar Aditya.
Pancaran cahaya ilahi muncul seketika dari Wardah! Senang? Tentu saja, ia bisa makan sepuasnya nanti. Wardah melihat laki-laki di sampingnya dengan seksama. Memastikan jika dirinya tak salah mendengar.
“Kenapa lihatinnya seperti itu? Kamu nggak mau? Ya udah nggak papa, saya akan cari teman yang lain kalau begitu,” celetuk Aditya.
Spontan Wardah melambaikan tangannya bersiap untuk tak setuju dengan rencana Aditya yang akan mengajak orang lain.
“Jangan! Jangan Mas! Iya saya mau kok! Serius!” ujar Wardah.
Aditya tersenyum simpul melihat tingkah wanita di sampingnya ini.
__ADS_1
...Bersambung... ...