
Wardah masih menyesuaikan mimik wajahnya selama membaca lead berita. Tiba-tiba Eza datang ke ruangan. Tak seperti biasanya,
Fokus Wardah, fokus, harus fokus, tak boleh goyah. Wardah harus fokus pada kamera. Kemudian bernafas lega setelah selesai membaca lead.
"Sungguh sebuah penghormatan, seorang Pak Bos berkenan untuk naik ke ruang studio," goda Pak Hari tang keluar dari ruang operator.
"Mau lihat presenter dadakan Pak," jawab Eza santai. Wardah melepaskan peralatan yang ia pakai tadi dan menghampiri Eza dan Pak Hari.
"Kok tahu kalau saya yang jadi presenter? Jangan-jangan ini semua ulah kamu Mas!" geram Wardah.
"Maaf ya bu presenter, berulah bagaimana maksudnya? Saya punya tv di ruangan saya. Apalagi ini live, ya saya tahu lah," jawab Eza.
Benar juga. Wardah terdiam seketika. Tak tahu akan menjawab apa.
"Ndak papa Wardah, kamu cocok kok jadi presenter. Lihat saja nanti, pasti followers kamu bertambah," ujar Pak Hari.
.
.
.
Wardah pamit undur diri dari studio. Ia harus menghubungi Mbak Zira. Kenapa dari tadi terputus sambungannya. Wardah kini tengah duduk di ruangannya. Masih sepi, karena memang belum pada datang. Mas Angga pun tak ada, ntah kemana orang itu.
"Sarapan yuk!" ajak Eza yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Bentar Mas, saya masih mau meminta penjelasan dari Mbak Zira," jawab Wardah.
"Dia lagi ada keperluan mendadak dedek, tadi sudah izin ke saya langsung." jawab Eza berbohong.
"Kenapa nggak ngehubungin saya?" tanya Wardah.
Skak! Eza gelagapan.
"Yaa, ya, ya tadi katanya kamu susah dihubungin. Mungkin signal kamu jelek," jawab Eza.
"Hufft! Nanti Bunda pasti lihat dedek di tv," rengek Wardah.
"Ya nggak papa sih, kan malah bagus," ujar Eza heran.
"Pasti Bunda nanti bakal heboh Mas,"
__ADS_1
"Sudah-sudah, ayo sarapan. Mama sama Papa nungguin di rumah," ajak Eza.
Wardah berbinar seketika. Mendengar kata Papa, rasanya hatinya menghangat. Ia kangen dengan sosok itu. Wardah mengangguk dan segera menyambar tasnya.
Di jam 7 suasana kantor masih belum ramai. Hanya segelintir orang yang bertugas sangat pagi yang ada di sini.
"Wah! Tadi Mbak Wardah ya yang jadi presenter? Bagus banget mbak. Mbak, boleh minta IG-nya aa?" tanya Pak Satpam.
"Bapak mainan IG juga?" tanya Wardah.
"Ya iyalah Mbak, mengikuti zaman. Hahaha," jawab bapak Satpam.
"IG saya masih receh isinya Pak, baru sedikit," ujar Wardah.
"Kalau jadi selebgram nanti uangnya ngalir Mbak. Dapat edrosan," ujar pak Satpam.
"Hahaha, endorsment Pak," Wardah membenarkan.
Eza menarik lengan baju Wardah agar mengikutinya. Tak habis-habis nanti jika bercakap dengan bapak satpam itu.
"Permisi dulu ya Pak. IG-nya Wardah itu @Lhu-Lhu.id Pak," jawab Eza.
"Kamu mau di pegang jemari tangannya?" bisik Eza.
Wardah begidik ngeri dan bergegas masuk ke mobil Eza.Eza terkekeh melihat tingkah Wardah.
"Mas Farhan ngajak babymoon-an," ujar Eza ketika sudah melajukan mobilnya.
"Bebymoon? Hahaha, ya kali! Akukan belum hamil Mas, boro-boro hamil, nikah aja belum," jawab Wardah spontan.
"Ica mah ngulah aja dah. Rese kalau hamil," celetuk Wardah.
"Ayo nikah, biar bisa babymoon juga kita," goda Eza dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Khayal, jangan gitu Mas, nanti kalau saya nanggepinnya pakai hati gimana? Saya nggak mau sakit itu terulang lagi," lirih Wardah.
"Okelah, kapan pun dedek percaya sama Mas, bakalan Mas tunggu. Jadi gimana? Mau nggak ikut mereka liburan?" tanya Eza lagi.
"Belum saatnya liburan Mas, baru aja minggu kemarin saya izin, masa mau izin lagi?" jawab Wardah. Kehendak hati ingin liburan plus foya-foya terus, tapi tidak semudah itu ferguso.
"Itu bisa diatur dek, tenang aja," jawab Eza.
__ADS_1
"Kok!" ujaran Wardah dipotong tiba-tiba oleh Eza.
"Jangan larang Mas manggil kamu apa. Mas udah dapet izin dari Bunda kok."
"Ye, terserah situ dah. Jangan kalau di kantor tapi. Bunda sekongkolan ih," ancam Wardah.
"Siap bos!"
.
.
.
"Assalamualaikum," sapa Wardah dan Eza ketika memasuki mansion.
"Waalaikumussalam, ayo sayang, kita ke ruang makan. Sudah ditunggu Papa sama Alif," Mama Sarah menghampiri dan merangkul Wardah.
Ini ntah keluarga Eza yang keturunan tinggi atau memang Wardahnya yang pendek? Yang jelas, Wardah setinggi telinga Mama saat berjajar. Dan sebahu Eza saat di sampingnya.
"Emmm, Mama seneng banget lihat gadis mama ini memakai pemberian Mama," ujar Mama yang baru saja menyadari jika Wardah memakai baju pemberiannya.
"Terima kasih ya Ma," ujar Wardah.
Mama mengangguk dengan senyuman sumringahnya. Merangkul Wardah agar mengikutinya ke ruang makan. Di sana sudah ada Papa dan Alif yang juga menunggunya. Wardah menyalami Papa dan diikuti Alif yang menghampiri Wardah untuk salaman pula.
"Sehat Kak?" tanya Alif.
"Alhamdulillah, sehat," jawab Wardah yang kini duduk di samping Mama. Sedangkan Alif duduk di samping Eza.
"Dedek udah ganti posisi jadi presenter ya? Tadi Papa lihat kamu, Mama heboh sendiri," ujar Papa. Wardah tertegun mendengar Papa masih memanggilnya dedek.
"Hehehe, cuma gantiin temen yang kebetulan nggak bisa berangkat tadi Pa," jawab Wardah.
"Nggak bisa gitu, Za! Mulai besok, Dedek kasih posisi jadi presenter terus ya," sanggah Papa.
Wardah mengode Eza agar tak menyetujuinya,
"Siap Pa," jawab Eza dengan senangnya.
...Bersambung.... ...
__ADS_1