
Maafkan atas menghilangnya Lhu-Lhu bagai ditelan bumi ya teman-teman.... Bismillah ini Lhu-Lhu bakalan sering up deh! Mohon dukungannya ya teman-teman semua... Love you....
Perjalanan pulang kali ini cukup macet, mungkin karena berbarengan dengan orang-orang pulang kantor. Yang seharusnya sampai rumah siang, jadilah mereka pulang sore hari. Bahkan Eza yang awalnya berencana untuk ke kantor terlebih dahulu ia batalkan. Beruntung tak ada urusan yang mendesak. Sampai di rumah dua bocil yang tadinya rewel sontak menyambut Wardah yang baru saja memasuki rumah. Dipeluknya Wardah dengan sangat erat seolah takut tak berjumpa kembali. Eza sampai menompang punggung istrinya agar tak terjungkal ke belakang saking kuatnya mereka berdua memeluk.
“Udah dulu yaa, Aunty biar istirahat dulu, kan kasihan Aunty-nya masih capek,” ujar Eza melerai drama dua bocil itu.
Dengan tak relanya mereka berdua melepaskan pelukan pada Wardah. Mereka bahkan mengekori Eza yang mengantarkan Wardah ke kamar. Belum selesai juga dua bocil itu ikut serta ke kamar Wardah dan Eza hanya untuk mengawasi lakon utama yang mereka rindukan itu. Wardah sampai terkekeh geli sendiri melihat kebucinan dua ponakannya itu.
“Mau mandi sekarang apa nanti Ay? Biar aku siapin,” tanya Eza.
“Mas Eza mandi dulu aja, aku mau ngobrol sama anak-anak dulu,” jawab Wardah.
__ADS_1
Niat hati ingin berduaan dengan Sang Istri jadi terhalang oleh dua bocil yang sudah duduk di sisi kanan kiri Wardah dengan rangkaian cerita mereka. Jadilah Eza membersihkan diri terlebih dahulu. Sampai di kamar mandi Eza masih sibuk dengan pikiran-pikirannya yang melintas. Bagaimana dirinya memulai perbincangan mengenai Pak Bagas? Eza masih takut hal itu membuat istrinya syok.
“Tumben lama mandinya? Biasanya lima menit juga kelar Mas?” celetuk Wardah saat Eza keluar dari kamar mandi.
“Lama ya Ay? Hehehe, habis boker tadi,” jawab Eza beralasan. Padahal dirinya tengah sibuk dengan pikiran over thingking-nya.
Dua bocil yang ada di kamar mereka sudah tak ada setelah Eza selesai mandi. Tinggallah Wardah yang tengah berberes memilah baju kotor selepas liburan mereka. Bahkan Wardah sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Eza di atas tempat tidur.
Jadilah kini Wardah menonton Eza yang tenngah memakai bajunya. Sudah seperti istri haus belaian saja kesannya. Hahaha.
Setelah berbincang ringan Wardah memilih untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Eza memilih untuk membereskan barang-barang bawaan liburan kemarin. Selesai mandi kamar sudah bersih kinclong dobersihkan Eza. Saking tak maunya Sang Istri berberes. Sembari menunggu maghrib, Eza dan Wardah memilih untuk duduk bersantai di balkon kamar mereka. Sembari melihat dua ponakan mereka bermain di halaman depan.
__ADS_1
“Mas, kapan aku bisa ketemu Om Bagas?” tanya Wardah yang kini menyenderkan kepalanya di dada Eza.
“Sesiapnya kamu aja Ay, yang penting kamu harus tetap tenang dang enjoy,” jawab Eza sembari membelai pipi Wardah.
“Aku mau kok secepatnya, ditemenin Mas ya,” lirih Wardah lagi.
“Pasti! Mas bakalan nemenin kamu,” jawab Eza.
Eza yang tadi bingung bagaimana mengawali perbincangan ini, akhirnya Wardahlah yang memulainya. Eza langsung membuat jadwal yang pas untuk mengatur pertemuan Wardah dengan Pak Bagas.
...Bersambung ...
__ADS_1