
Beruntungnya Wardah diperkenalkan Ning Shila kepada Uminya. Wardah malu sendiri karena diperkenalkan dengan kedok calon istri Mas Eza. Ternyata Abah juga sudah cerita dengan Umi.
“Ning, pengen foto sama Mbak Wadah,” ujar salah satu santriwati setelah Wardah berbincang dengan Umi. What! Ternyata mereka juga sudah tahu nama Wardah.
“Gimana Mbak?” tanya Ning Shila. Jujur saja Wardah bingung hendak menjawab apa. Masak Ning Shila menjadi tukang fotonya?
Tanpa meminta persetujuan Wardah para santr itu sudah mengelilingi Wardah dan mulai bergaya. Dasar anak-anak ini! Masak Ningnya disuruh memfotokan mereka. Wardah yang notabenya senang berfoto sontak ikut bergaya dengan para santri itu.
“Ning nanti kirim lewat IG ya,” ujar mereka.
“Iya-iya, sana ke aula, Abah sudah menunggu,” jawab Ning Shila.
Barulah mereka berbondong-bondong meninggalkan masjid santriwati. Sedangkan Ning Shila mengajak Wardah ke kelasnya mengajar. Ternyata Ning Shila memegang tanggung jawab di kelas tahfidz. Sama seperti dirinya dulu. Wardah seolah seperti nostalgia.
“Mbak Wardah, bantuin saya ya? Katanya Abah Mbak ini tahfidz juga,” ujar Ning Shila.
Wardah hanya tersenyum canggung. Abah sepertinya menanyakan asal usul Wardah melalui Abah Munif. Oke tak apa, anggap saja kali ini mengasah ilmunya kembali.
Ning Shila memperkenalkan Wardah terlebih dahulu kemudian barulah mereka memulai setoran murajaah mbak-mbak santri.
“Mbak, bulan depan ada acara temu alumni. Mbak Wardah kesini ndak?” tanya salah satu santri setelah setoran dengan Wardah.
“Lho, ngapain saya ke sini lagi Mbak? Hahaha, saya bukan alumni pesantren ini,” jawab Wardah.
“Katanya dari NU Tv yang akan mendokumentasikan. Siapa tahu Mbak Wardah nanti jadi reporternya,” ujarnya. Ternyata dugaan Wardah salah. Santri disini tahu kalau dirinya presenter. Beruntungnya mereka tak heboh seperrti mbak santri yang tadi. Mungkin karena yang saat ini berhadapan dengannya sudah dewasa-dewasa.
“Belum ada surat tugas juga, jadi belum tahu,” jawab Wardah.
...****************...
Selepas mengajar, Wardah dan Eza diaturi Abah untuk makan bersama di ndalem. Bagaimana perasaan Wardah kali ini? Ia gugup setengah mati. Walaupun biasanya ia diajak Abah Munif makan bersama, tapi kali ini berbeda.
Keluarga ndalem ada banyak ternyata. Tak berbeda dengan Wardah, Eza juga tak enak berada di tengah-tengah keluarga ndalem. Ia terus mencari cara agar dapat segera keluar. Melihat Wardah yang terus memberikan isyarat, membuatnya semakin pusing.
“Assalamu’alaikum, Ustadz Eza diaturi Ustadz Anshori di kantin pesantren,” ujar salah satu abdi ndalem.
“Ayo Mbak Wardah ikut, sepertinya rapat kumpulan alumni akan dimulai Cak An,” ujar Ning Shila.
“Hem? Iy-iyya Ning,” jawab Wardah terbata.
Syukurlah, Wardah dapat bernapas dengan lega sekarang. Akhirnya ia bisa keluar juga. Wait! Bukan Cuma mereka bertiga yang keluar, ternyata kakak dari Ning Shila juga ikut andil ternyata. Wardah sempat kesemsem tadinya, hahaha. Tenang netizen, meski begitu Eza tetap yang terganteng kok!
“Ning, kok saya takut jadi canggung ya nanti? Saya Cuma kenal sama Ning Shila dan Mas Eza saja,” lirih Wardah.
“Ndak papa, nanti sampean di samping saya terus saja, nggak akan ada yang gangguin, yakin deh!” jawab Ning Shila.
“Mas Eza kenapa ikut juga? jadi panitia juga ta?” tanya Wardah.
“Agensi kita yang akan mempublikasikan acara temu alumni sekaligus perayaan Maulid Nabi Ay,” jawab Eza.Wardah manggut-manggut menanggapi Eza.
Sampailah mereka di sebuah pendopo yang lumayan besar. Di sana sudah ada beberapa orang berkopiah dan bersarung. Ada pula 3 mbak-mbak santri di sana. Wardah merangkul lengan Ning Shila erat erat. Eza yang melihat itu tampak menyindir.
"Beruntungnya jadi Ning Shila, bisa digandeng Wardah. Saya yang pengen dirangkul saja harus nunggu sah," sukses membuat Ning Shila terkikik.
__ADS_1
Pandangan para Kang-Kang itu pun tak luput menuju ke Wardah semua. Tampaknya mereka mulai kepo dengan Wardah.
"Assalamu'alaikum," sapa kami yang baru datang.
"Waalaikumussalam," jawab mereka.
"Saudaranya Ning?” tanya Kang Toifin, terlihat dari name tagnya yang bertengger di sakunya.
"Iya, saudara seiman," jawab Ning Shila. Sukses membuat mereka mengerutkan kening.
Eza mengalihkan pembicaraan mereka. Agar kembali fokus pada pembahasan awal. Wardah duduk di samping Eza dan Ning Shila. Ia hanya diam membisu mendengarkan mereka berbincang. Sembari memainkan gawainya membalas chat Anisa.
Baby boys sahabatnya sangat comel. Ingin rasanya segera pulang untuk menimang baby itu. Apalagi melihat foto Anisa yang memeluk babies-nya. Coocweetnya foto ituuu.
"Ning, kenalinlah sama Ning yang itu..." bisik salah satu Kang Santri yang ikut rapat.
"Telat Kang, udah ada yang ngincer," jawab Ning Shila kemudian mengajak Wardah kembali ke kamarnya.
Kamar Ning Shila tak bersama dengan keluarga ndalem. Ning Shila memilih kamar yang ada di bangunan terpisah. Sembari mengawasi para santriwati yang ada di asrama. Karena memang Wardah tak membawa pakaian, jadilah Ning Shila meminjamkan pakaiannya.
Sarung dan baju kurung berwarna maroon menjadi pilihan Ning Shila. Benar-benar nostalgia di zaman pelajar pesantren.
"Mbak Wardah cangtib banget siiih," puji Ning Shila.
Ning Shila kembali mengajak Jalan-jalan Wardah, melanjutkan sesi jalan-jalan yang tertunda tadi. Kini tujuan mereka ke ruang kelas dirosah sekaligus taman pesantren yang terhubung sampai gerbang pesantren.
Tampak beberapa santri tampak berjalan terburu memasuki ruang kelasnya. Sepertinya memang ada yang memiliki jadwal sore. Kang-Kang santri tampak berjalan dengan menunduk, tampak comel-comel sekali.
"Kak!" panggil Alif. Sepertinya anak itu bagian dari santri yang memiliki jadwal sore. Tampak ia membawa kitab di genggamannya.
"Mau dirosah?" tanya Wardah.
"Iya, Kak, pengen nelpon Mama," rengek Alif.
"Nanti kita telepon. Sana masuk!" ujar Wardah. Barulah Alif masuk ke kelasnya.
"Ning, kita nggak papa ta berkeliaran di wilayah santri putra?" tanya Wardah.
"Ya ndak papa, saya juga jadi pengurus di sini, jadi ya sering Jalan-jalan untuk mengawasi kebersihan lingkungan sekitar," jawab Ning Shila. Wardah manggut-manggut mengerti.
Sampailah mereka di taman pesantren. Tampak ada beberapa santri yang hafalan atau sekedar lalaran di sekitar taman itu. Wardah pikir taman ini untuk seluruh santri, ternyata hanya untuk santri putra saja. Sedangkan santri putri ada di tempat yang berbeda. Wajar saja hanya ada santri putra saja di sekitar sini.
Sangat-sangat menakjubkan. Wardah terus mengikuti Ning Shila hingga sampai di pendopo yang tadi mereka gunakan untuk rapat. Sudah ada dua Kang-Kang di sana. Tapi Wardah belum melihat keberadaan Eza di sana. Ternyata mereka akan melaksanakan rapat lanjutan.
"Sebentar ya Mbak Wardah, saya ke ruang asatidz dulu, mau ngambil buku rancangan pengeluaran," ujar Ning Shila. Wardah tampak bingung, pasalnya hanya ia sendiri yang perempuan di sini. Ia tak kenal dengan Kang-Kang itu. Wardah menggeleng sembari menahan jemari Ning Shila.
__ADS_1
"Ndak papa, saya sebentar kok. Kang! Jangan diapa-apain ya!" ujar Ning Shila.
Mereka tampak mengacungkan jempol tanda setuju.
Krik! Krik!
Begitulah saat ini. Wardah tak tahu hendak berbuat apa.
"Mbak, sampean santri baru di sini? Atau saudaranya Ning Shila?" tanya salah satu Kang Santri.
"Ndak Kang, saya tamu saja," jawab Wardah.
Tak beberapa lama datanglah Eza dengan satu temannya lagi.
"Kok sendiri?" tanya Eza pada Wardah.
"Kamu nggak nampak kite?" tanya Kang Syukron yang tadi berbicara dengan Wardah.
"Aku tanya Wardah! Ning Shila kemana?" jawab Eza.
"Itu, Ning Shila masih ke kantor asatidz," jawab Wardah.
"Kalian sama-sama kenal?" tanya teman Eza.
"Kak Wardah!" panggil Alif. Sontak semua mengarahkan pandangannya pada Alif. Alif yang sadar segera meminta maaf dan membungkuk hormat. Pasalnya mereka yang ada di sana adalah Ustadz-Ustadznya.
Wardah mengajak Alif ke sebuah bangku yang agak sedikit jauh dari pendopo. Agar mereka tak mendengar perbincangan mereka tentunya.
"Udah makan tadi?" tanya Wardah.
"Udah Kak, lauk yang dibawain Bunda tahan lamakan Kak?" tanya Alif.
"Iya," jawab Wardah. Mulailah Wardah mengambil gawainya dan menekan nama Mama Sarah di sana.
Wardah berbincang sebentar dengan Mama kemudian barulah ia berikan pada Alif.
"Kenapa Ay?" tanya Eza yang menghampiri Wardah dan Alif.
"Mau kangen-kangenan sama Mama," bisik Wardah.
Eza ia dorong ke pendopo meninggalkan Alif agar tak terganggu. Wardah kembali mendengarkan mereka berbincang mengenai acara untuk temu alumni.
"Dari pihak Kang Eza, apa nggak ada rekomendasi MC? Yaaa, kalau presenterkan sudah benar-benar terlatih gitu," tanya Mbak-Mbak pada Eza.
"Ya sudah, untuk MC nanti dari saya saja insyaallah bisa. Sekaligus untuk presenter acara berita nantinya," jawab Eza.
...****************...
"Ada yang nanyain Mbak Wardah lho," ujar Ning Shila.
"Ning, kan njenengan sudah tahu saya sudah ada Mas Eza," jawab Wardah.
"Iya-iya, saya tahu... Saya juga sudah bilang begitu," ujar Ning Shila.
__ADS_1