
Seolah mengerti dengan ucapan orang tua barunya Baby Z mengoceh dengan semangatnya diladeni dengan Eza. Wardah yang baru saja keluar dari kamar mandi dibuat speechless oleh Eza yang berbicara abstrak pada anaknya itu. Bahkan Eza belum memberikan pakaian untuk si kecil. Padahal tadi ia bilang sudah belajar cara mengurus baby dari suhunya.
“Ya ampun, nanti Dedek kedinginan dong Mas kalau nggak dipakai-in baju,” ujar Wardah segera mengambil perlengkapan Baby Z yang sudah disiapkan Bunda di kamarnya.
“Masih asik ngobrol Ay, nggak kepikiran mau ngasih baju,” jawab Eza beralasan.
Wardah geleng-geleng kepala dibuatnya. Dengan telaten Wardah memberikan minyak telon, bedak, popok, hingga semuanya lengkap di tubuh si kecil. Tak lupa sentuhan bedak tabur tebal menjadi hiasan di wajah si kecil sebagai sentuhan terakhir. Terlihat sangat menggemaskan anak ini. Sesekali si kecil mengguling ke kanan kekiri, merangkak menghampiri Eza atau Wardah yang duduk di dekatnya.
“Gimana kalau sekarang kita tentuin panggilan Baby Z ke kita Ay?” tanya Eza.
“Boleh, panggilnya apa kira-kira Mas?”tanya balik Wardah.
“Aku pengen dipanggil Buna, bukan Bunda ya, tapi Buna. Lucu aja gitu dengernya kayaknya,” ujar Wardah.
__ADS_1
“Boleh, terus manggil aku apaan Ay?” tanya Eza dengan rengekannya.
“Emm, apa ya Mas,”
“Ayah aja deh Ay, aku pengen jadi ayah seperti Ayah kamu. Ayah yang sukses mendidik anak-anaknya,” ujar Eza dengan usulnya.
Wardah tersenyum mendengar tuturan suaminya. Itu panggilan yang juga diharapkan oleh Wardah. Oke! Panggilan mereka berdua fiks yaitu Ayah dan Buna. Baby Z mengoceh sedari tadi mengikuti arah perbincangan Ayah dan Buna-nya.
“Mandi sana gih Mas, udah sore juga,” ujar Wardah menyuruh Eza.
Merasa kasihan Wardah mengajak anaknya duduk di sebuah ayunan yang kebetulan ada di balkon kamar mereka. By the way balkon kamar Wardah dan Eza memang seluas itu sehingga mereka bisa leluasa mengeksplor. Wardah memberikan sebuah mainan yang aman untuk Baby Z untuk ia mainkan. Kebetulan Bunda dan Mama juga membelikan mainan juga untuk Baby Z. Tiba-tiba fokusnya teralihkan dengan reramaian di depan rumah.
Ulah siapa kalau bukan para wartawan? Mereka tengah heboh mengambil foto ataupun video untuk bahan berita di program tv mereka. Wardah sampai lupa jika rumah mereka masih dikelilingi para wartawan. Mereka saling berlomba-lomba mengambil foto Wardah yang tengah menggendong anaknya.
__ADS_1
“Kamu di sini ternyata Ay, aku cariin di dalam” ujar Eza menghampiri Wardah.
Betapa terkejudnya Wardah saat melihat Eza hanya memakai handuk dari perut ke bawah. Jelas-jelas ada banyak wartawan di bawah, bisa-bisanya ia henya mengenakan handuk. Tak rela Wardah jika tubuh gagah suaminya menjadi konsumsi publik.
"Mas Eza❗" teriak Wardah langsung menggendong kembali Baby Z dan menarik lengan Eza untuk mengikutinya ke dalam kamar kembali.
Eza yang mendengar teriakan Wardah sampai terkejut. Begitupun dengan Baby Z. Eza tak tahu melakukan kesalahan apa. Ia rasa tak melakukan kesalahan.
"Kenapa Ay?" tanya Eza lembut.
Diambilnya Baby Z dari gendongan Wardah, ia ingin menggendong kembali anak comel itu.
"Kenapa-kenapa! Di bawah banyak wartawan tahu! Awas aja kalau sampai ada artikel yang ngomongin soal kebugilan kamu!" sungut Wardah yang sudah menggebu-gebu.
__ADS_1
Eza mengintip dari balik jendela kaca kamarnya. Benar saja, masih banyak wartawan di luar sana. Tapi Eza juga tersenyum tipis mengingat kemarahan Sang istri. Itu berarti istrinya tengah takut jika ada yang tersepona pada dirinya setelah melihat tubuh kekarnya. Biarlah Eza dicap sebagai orang yang kepedean, tapi memang begitulah kenyataannya.