Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Up lagi nih!


__ADS_3

Kembali ke ruang rawat inap, Eza melihat Sang Istri ternyata sudah tersadar.


“Ay? Gimana? Masih pusing? Lemes? Apanya yang sakit Ay?” tanya Eza beruntun setelang bergegas menghampiri Wardah.


“Udah nggak papa Mas…” jawab Wardah dengan senyumnya


Wardah mengusap punggung tangan Eza yang menangkup wajahnya. Sungguh manis sekali. Tindakan-tindakan Eza padanya sungguh membuatnya sangat Bahagia. Rasa sayangnya bertambah sepersekian lipat.


“Kata dokter, nanti sore udah boleh pulang, tinggal nunggu infusnya habis,” ujar Eza.


Bunda sudah pamit untuk kembali ke rumah, Mama kewalahan mengurus dua anak sekaligus katanya. Jadilah Bunda pamit terlebih dahulu. Tinggallah Eza dan Wardah di sini. Dengan telaten Eza menyuapi istrinya karena memang belum memakan makanan berat sedari pagi. Tengah asik berbincang dan menyuapi tiba-tiba suara Guntur yang bersumber dari pencernaan Eza pun berulah. Pasalnya Eza tadi mengaku sudah makan, tapi perutnya terus meronta meminta asupan.

__ADS_1


“Bohongkan? Mas juga harus makan!” ujar Wardah mengambil alih sendok yang ada di tangan Eza.


Jadilah kini mereka makan sepiring berdua. Eza pun tak segan-segan meminta perawat untuk mengantarkan mereka makanan lagi. Eza sudah berbaring di samping Wardah sembari menonton serial drama Korea pilihannya. Sepertinya sudah lama sekali seorang Wardah tak menonton drama seperti ini. Wardah memang bukan orang yang terlalu mengagumi drama dari negara ini, Anisa-lah yang meracuninya untuk menonton Oppa-Oppa tampan ini.


“Padahal tampanan aku, ngapasih kamu milih nonton film itu?” celetuk Eza.


“PD banget jadi orang, hahaha… Iya-iya, suami aku emang yang paling tampan,” jawab Wardah semakin menipiskan jaraknya dengan Eza.


***


Eza yang baru saja selesai tentu saja terkaget-kaget melihat istrinya sudah dikerubuti orang-orang. Padahal ini tempat berobat, bisa-bisanya orang-orang itu mengerubuti istrinya. Eza bergegas menghampiri istrinya yang kesulitan untuk menolak orang-orang yang meminta untuk berfoto. Bukan karena sombong, tapi Sang Istri baru saja keluar ruang rawat masak iya harus meladeni orang-orang juga?

__ADS_1


“Permisi Bu Ibu, Kakak-kakak, istri saya baru sembuh, insyaallah kalua sudah benar-benar sehat kita meet-up bareng ya,” ujar Eza melerai kerumunan yang ada dibantu beberapa pihak keamanan rumah sakit.


“Ya Allah, maaf ya Mbak Wardah, saya ndak tahu kalau Mbak baru saja sembuh,” ujar salah satu penggemarnya.


“Iya bu ibu, maaf ya semuanya, untuk saat ini belum bisa bergabung,” sambung Wardah meminta maaf.


Beruntung Eza segera dating, jika tidak, Wardah sudah kewalahan tak enak hati untuk menolak kehendak mereka. Eza membimbing Wardah keluar lobi. Sudah ada Faiz di sana menunggu mereka berdua. Benar-benar sigap anak itu.


“Gimana kak keadaannya? Udah baikan benerankan?” tanya Faiz.


“Udah dek, udah sehat kok,” jawab Wardah dengan senyumnya.

__ADS_1


Perjalanan pulang kali ini cukup macet, mungkin karena berbarengan dengan orang-orang pulang kantor. Yang seharusnya sampai rumah siang, jadilah mereka pulang sore hari. Bahkan Eza yang awalnya berencana untuk ke kantor terlebih dahulu ia batalkan. Beruntung tak ada urusan yang mendesak.


Bersambung


__ADS_2