
"Cling" Bunyi notifikasi handphone-ku di pagi hari.
Perlahan aku membuka mata ini menggerakkan tubuhku dengan berat dan menggapai handphone yang ada didekatku dengan tangan lalu samar melihat jam.
Aku termenung terpelongo sementara mengumpulkan jiwa jiwaku untuk sadar dari bangun ku. Mimpiku malam ini mengingatkanku tentang 1 tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo sungguh aku tak kuasa menahan air mata ditemani ingatan tentang berita kecelakaan orang tuaku ketika musim dingin.
Kini aku hidup berdua dengan saudara laki-lakiku yaitu Roy yang kini sedang kuliah kedokteran di Swiss.
Aku memaksa bangun jiwa ini dan terus melangkah untuk menjalani hidup andai kamu tahu bagaimana rasanya sungguh sangat tidak mudah. Namun berkat dukungan mereka yang sayang padaku aku bisa bertahan sampai di titik ini.
...****************...
Kau tahu mobilmu memasuki kawasan terlarang yang suuzan Tokyo barat, ketika setir pick up merah milik perusahaan yang sudah uzur terasa licin karena lembab titik semua siaran radio maupun TV pagi ini memberitahukan situasi yang rusak akibat hantaman tsunami.
Aku sedikit merinding ketika melewati sisa-sisa bangkai reptil dan bangkai hewan laut yang terdapat di pantai kemudian menahan nafas. Aku menutup rapat kaca pick-up dan menyalakan penyaring udara berharap angin sepoi-sepoi dapat datang membawa aroma ini pergi dariku.
Ada kabar gembira yang datangnya dari musim panas. Usai musim semi berlalu musim panas pun tiba dan kami di restoran mengadakan festival malam musim panas dengan diskon promo 40% dan jujur sejujur-jujurnya aku juga senang. "Semoga adalah cowok-cowok ganteng yang dapat mengisi hati datang malam ini."
__ADS_1
Kabar buruknya untuk saat ini pihak country atau lembaga penanganan darurat menghentikan penyemprotan nyamuk dan agas sungguh luar biasa sehingga bangsa-bangsa kecil itu sering datang berpesta pora menghisap darah penduduk lokal. Seekor bangsat kecil terbang kesana kemari dalam pikap ku, aku tidak bisa memukulnya karena aku terfokus untuk menyetir kendaraan yang aku bawa. Dan tiba-tiba saja bangsat kecil itu berani mengitari pergelangan kakiku yang tak tertutup pakaian, aku terpaksa berhenti dan menepi untuk membinasakannya. hanya dengan satu tepukan aku membuatnya wa bangsat kecil itu melayang.
Aku memperhatikan situasi jalan raya melalui spion depan, lalu bersiap-siap mengambil jalur melaju, tapi lengkingan klakson dan bisingnya raungan mesin membuatku batal bergeser dan kembali menepi ke pinggir-pinggir jalanan. awalnya semula isi perutku bergejolak ketika sepeda motor muncul entah dari mana aku hampir saja menyerempet motor itu. pengendara motor menatap menjajar mobilku dari belakang hingga ke depan, Aku menoleh padanya sambil mengangkat satu tangan sebagai isyarat meminta maaf.
kaca helm pengendara motor itu berwarna ungu dan biru gelap sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dibalik kaca itu. beberapa detik kemudian, pengendara motor itu mengangkat tangannya yang terbaru sarung tangan Hitam lalu menuju ke depan dengan mesin berisik kemeja putihnya berkibar-kibar seperti kain layar. motornya berplat kan California berarti dia turis atau mungkin.
Seketika handphone-ku berdering, aku terlambat masuk kerja di restaurant. Aku meniru kelakuan si pengendara motor tadi dan menginjak gas hingga kandas, berasumsi polisi akan kan mencegat pelancong yang mengebut di depanku, atau paling tidak hanya memberikan ku sanksi peringatan yang akan disampaikan dengan ramah karena aku adalah wanita lebih tepatnya seorang wanita.
Tinggal tepi kota Tokyo bukanlah hal yang mudah dan juga bukan hal yang sulit. pada bulan Januari diperkirakan kependudukan kota Tokyo mencapai 13000000 jiwa dan untuk sekarang berita terbaru nya mencapai 19 sampai 25 juta jiwa.
Setibanya di restoran, aku mencoba memasang senyum dan mengangguk ketika dengan sopan menyimak sepotong nasihat bijak dari Bu Linda supervisor. Usai itu aku langsung bergegas untuk berdiri stand by di tempatku. Aku memilih lautan senyum manis kepada pastor Pao yang merupakan kan tamu langganan restoran Zi Long kami. sekilas mata pastor baik hati itu pura-pura menikmati es teh murni padahal sebenarnya es itu dicampur dengan alkohol dari botol kecil yang dia sembunyikan di saku jaketnya, serius.
"Nah, Dina, nenekmu akan gelisah di dalam kubur jika tahu peninggalan gadis terakhir milik keluargamu kondisinya saat ini sangatlah di sayangkan." ucapnya ketika aku mengantarkan segelas air putih ke mejanya.
Oh my God ternyata dia tidak membiarkanku lolos.
"Kau harus bisa menjaga kelestarian rumah itu titik mungkin rasanya berat karena baru tahun kemarin orang tua mau dipanggil yang maha kuasa."
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku mengutus Anthony ke sana, untuk memberimu sedikit bantuan."
"Anda baik sekali, pastor." Sesungguhnya, aku sungkan menolak tawaran itu. Rumah keluargaku merupakan peninggalan terakhir dari keluarga Batavia dan bangunkan itu memang hampir ambruk karena sudah bertahun-tahun dibangun dan masih utuh sampai sekarang. Benar aku membutuhkan bantuan, tapi bukan dengan imbalan yang diharapkan pastor atas kebaikan hatinya pada aku. Dari gerak-gerik matanya, Aku yakin dia berniat akan gagasan menjodohkan aku dengan Anthony.
"Kamu tahu, aku dengan senang hati akan membayar Anthony jika dia tidak keberatan mengamplas Dan mengecat rumahmu. " aku hanya diam dan memutar bola mata.
Pasto Pao membusungkan dadanya sedikit ke arahku dan mendekat. "begini, kau tidak pernah membayar. Anthony ku hanya seorang pria sejati yang ingin membantu wanita baik-baik, itu saja. apakah Anthony sudah memberitahu bahwa dia diterima di fakultas hukum di universitas Tokyo? "
... Aku mengangguk.
"Dia cerdas, hobinya berpergian kebanyak tempat dan mampu mendapatkan penghasilan dengan memanfaatkan otak dan otot yang sama baiknya dikendalikan olehnya. Akan ku suruh dia ke tempatmu minggu nanti."
Pastor mengatur pandangannya seolah menatapku melalui batang hidung padahal aku berdiri 3 kepala lebih tinggi daripada dia yang dalam posisi duduk.
Aku hanya tersenyum tipis lalu meletakkan gelas yang kupegang tepat di depan pasar pao. "Silakan minum air biasa pastor" kataku sambil melempar tatapan penuh arti pada es tehnya yang mengandung alkohol, kode-kode begitulah.
"Aku berharap bertemu denganmu saat misa minggu depan nanti. "ucapnya setelah meneguk air putih yang aku berikan.
__ADS_1
"Aku sudah hampir setahun lebih tidak gereja pastor. Jangan-jangan aku aku akan disambar petir ketika aku menginjakkan kaki dosaku di sana minggu nanti." Ucapku lalu berpaling pergi.
Usai itu aku langsung menyambut kedatangan tamu-tamu lain yang datang untuk makan siang di restoran Zi Long kami.