Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Telepon Misterius


__ADS_3

Maaf ya teman-teman, baru bisa up lagi.... Tempo hari Lhu-Lhu ada acara jadi lumayan sibuk ndak bisa nambah cerita, hehehe....


* * *


Pagi ini Wardah, Eza, dan Sakha sudah siap dengan penampilan terbaik sehari-hari mereka. Setelah libur dua hari, kini Wardah harus kembali ke kantor menggantikan rekannya yang libur bergantian. Di kantor Eza memang tak memberikan libur tetap untuk para karyawannya. Semua karyawan memiliki hari libur yang fleksibel. Tergantung dari jadwal penayangan dan peraturan tiap divisi masing-masing. Sebelum turun Wardah memberikan Sakha pada Eza. Tiba-tiba ia teringat dengan Kak Winda semalam. Apa kakaknya itu sudah baik-baik saja?


Tok Tok Tok!


Wardah mengetuk pelan pintu kamar Kak Winda. Tak berselang lama Kak Winda membukakan pintu. Senyum cerah menyambut Wardah, menandakan jika kakaknya itu sudah dalam kondisi hati yang baik. Wardah disambut dengan Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ternyata bocil itu ada di kamar Mama-nya. dengan girang Dinda memeluk Wardah dan meminta pada aunty-nya untuk membantunya bersiap ke sekolah. Dengan senang hati Wardah mendandani bocil itu. Wardah mengikat rambut Dinda dua bagian hingga terlihat sangat menggemaskan untuk anak itu. Tak lupa dengan memoleskan bedak dan menyemprotkan parfum agar lebih segar menandakan sudah mandi. Haha.


“Kakak sudah baik-baik saja-kan?” tanya Wardah saat Dinda sudah keluar untuk turun.

__ADS_1


“Kakak baik-baik saja Dek, kakak juga sudah menghubungi Mas Rio. Kakak nanti akan ke kantornya membawakan baju ganti dan sarapan,” jawab Kak Winda.


“Alhamdulillah, semoga dilancarkan semuanya ya kak,” ujar Wardah lagi.


Wardah dan Kak Wida turun ke bawah secara bersamaan. Ternyata sudah berkumpul di meja makan semuanya. Wardah membantu Kak Winda menyiapkan bekal untuk suaminya sebelum ikut duduk di meja makan.


***


Sakha mengoceh selama perjalanan. Ia tampak menirukan nyanyian yang tengah Ayah-nya putar. Memang tak jelas ocehannya, tapi sukses membuat Wardah dan Eza terpingkal-pingkal saat mendengarnya. Kehadiran Sakha memang membuat kehidupan Eza dan Wardah yang sudah berwarna semakin bertambah berwarna. Sebelum sampai di kantor Wardah mengjak Eza untuk mampir sebentar di sebuah minimarket untuk membeli sedikit bahan masakan. Dari pada makan di luar, Wardah berencana untuk memasak di ruangan Eza yang memang tersedia pantry kecil minimalis di sana.


Karena masih terlalu pagi jadi tak begitu ramai supermarket ini. Mereka tak perlu mengantri. Setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor.

__ADS_1


"Wiih, mau masak-masak nih kayaknya Dedek Sakha," sapa petugas keamanan saat keluarga kecil itu hendak masuk ke kantor.


"Iyaa Pak, mau main masak-masakan," jawab Wardah menirukan suara khas anak kecil.


Gelak tawa Bapak itu mendengar tuturan Wardah. Memasuki lobi, suasana kantor cukup ramai. Sudah banyak yang datang ternyata. Eza mengajak Wardah untuk menggunakan lift khusus agar tak berdesakan dengan yang lain. Kasihan juga pada Sakha jika berhimpitan.


Karena rencana masak memasaknya masih nanti siang, Wardah menata belanjaannya terlebih dahulu. Sakha ada di pangkuan Eza yang kini tengah mengecek email di laptopnya.


Tengah asik menata belanjaannya, Wardah sampai baru sadar jika suaminya tengah menelepon seseorang dari tadi.


"Iyaa, kamu pantau terus gerak-geriknya!" ujar Eza kemudian menutup teleponnya.

__ADS_1


"Telepon dari siapa Mas?" tanya Wardah menghampiri suami dan anaknya.


...Bersambung ...


__ADS_2