Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Sesal


__ADS_3

Bagaimana sih perasaan kalian ketika melihat seorang mantan dihadapan kalian? Bukan hanya sekedar mantan pacar, ini mantan suami. Yang sehari-hari dulu bertemu setiap saat, kini dipertemukan lagi dengan perasaan yang berbeda.


Wardah segera kembali ke posisinya. Menghampiri Gus Hasan untuk kembali membuka acara khataman siang ini. Pertama Abi memberikan sambutan, selanjutnya Mbah Kakung, dan Ayah. Barulah di buka dengan doa oleh Abah Kyai.


"Kenapa Dah?" Tanya Gus Hasan.


"Kenapa? Nggak papa Gus, saya ndak kenapa-kenapa..." Jawab Wardah bingung dengan pertanyaan Gus Hasan.


"Ekspresi wajah kamu berubah setelah melihat Ibil," Jawab Gus Hasan.


"Ha! Iya Gus? Tampak banget ya?" Tanya Wardah panik.


"Hahaha, nggak nampak banget... Kamu masih benci sama dia? Sorot mata kamu seakan mau menabok dia," Canda Gus Hasan.


"Ndak Gus, ndak gitu..." Kilah Wardah.


"Hahaha, iya-iya aku percaya," Jawab Gus Hasan.


"Beneran nampak ya Gus?" Tanya Wardah masih penasaran.


"Nggak, aku cuma bercanda," Jawab Gus Hasan sembari mengelus kepala Wardah yang tertutup jilbab.


"Jangan dirusak," Rengek Wardah.


Setelah doa pembuka khotmil Quran, Wardah segera bergabung dengan santri-santri yang lain. Ia mendapatkan bagian juz 5 - 7 untuk dibaca nanti. Harus ekstra bersabar menunggu gilirannya.


Cak Ibil POV

__ADS_1


Wanita itu, wanita yang sudah ku-ukir dengan kebencian di hatinya. Untuk melihatku saja ia enggan. Keputusan untuk menceraikannya bukanlah milikku seutuhnya. Aku tak berniat untuk menceraikannya. Tapi aku juga tak tega melihat ibu dan bapak yang terlanjur malu dengan kelakuanku.


Bunda yang juga sudah memohon padaku agar segera kuceraikan. Aku sudah mencoba meminta kesempatan untuk membahagiakan Wardah, sepertinya memang tak ada kesempatan kedua.


Bahkan aku tak pernah mengajaknya bercanda seperti itu. (Pandangan Cak Ibil menelisik memperhatikan Gus Hasan yang mengelus kepala Wardah yang tertutup jilbab).


Suaranya yang mengalun merdu melantunkan ayat-ayat Al-Quran tanpa melihatnya. Tampak ia tengah menikmati tiap bacaannya dengan mata yang tertutup, sesekali terbuka memamerkan bulu mata lentiknya.


.


.


.


"Cak! Ngelamun aja!" Gus Hasan mengagetkan Cak Ibil. Sedangkan Cak Ibil hanya membalas dengan senyuman.


Gus Hasan memilih untuk duduk di samping Cak Ibil.


"Monggo dipinang Gus, hehehe" Jawab Cak Ibil dengan tawa canggungnya.


"Hahaha, doakan saja dia mau," Bisik Gus Hasan.


Deg! Perasaan ini kembali muncul. Perasaan saat pertama kali memasuki rumah kami berdua di pesantren dulu. Rasa hampa, sesak, tak tahu apalah itu.


Cak Ibil sesekali melihat ke arah Bunda Wardah yang kebetulan juga hadir. Tapi sayangnya selalu berpaling saat pandangan mereka saling bertemu.


Cak Ibil segera menghampiri Bunda Wardah di saat beliau keluar menuju teras samping.

__ADS_1


"Bunda! Assalamu'alikum," Sapa Cak Ibil.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Bunda dingin.


"Ada apa?" Tanya Bunda.


"Sayaa..."


"Jangan ganggu Wardah lagi!" Potong Bunda.


"Baik, mohon maaf sudah mengecewakan Bunda," Lirih Cak Ibil.


"Saya tahu kamu sudah menyesali semua perbuatan kamu, tapi maaf saya tidak bisa memberi kesempatan untuk kamu kembali." Sambung Bunda, kemudian berlalu.


Bunda Wardah tahu betul jika Ibil memperhatikan Wardah dan dirinya sedari tadi. Ia sengaja beranjak keluar ruangan. Ternyata benar dugaannya, mantan menantunya itu mengikutinya.


.


.


.


Wardah masih betah melantunkan ayat demi ayat Al-Quran dengan bil ghoib. Husna yang mendampinginya. Membenarkan jika ada bacaan yang salah.


Sedangkan si tuan rumah Anisa dan Farhan tampaknya sedang mengobrol dengan Umi dan Abah Kyai.


Malam harinya, tinggal acara santai-santai. Pembacaan doa khotmil Quran dan hiburan dari grup hadrah Riyadul Janah dari pesantren. Jika biasanya Anisa yang andil menjadi vokalis, kali ini Wardahlah yang maju.

__ADS_1


Wardah dan Faiz. Mereka berdualah vokalis inti malam ini. Faiz yang memang vokalis tetap, dan Wardah yang ikut andil di malam ini saja.


...Bersambung.... ...


__ADS_2