Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
PW (Pweenak)


__ADS_3

Selesai dengan siarannya Wardah sudah disambut oleh Sakha yang berlari menghampirinya. Dengan senang hati Wardah menyambut memeluk dan menggendong. Eza dan Wardah berbincang sebentar kemudian Eza berpamitan untuk meeting. Awalnya Eza hendak mengajak Sakha tadi, tapi malah si kecil rewel saat baru saja masuk ke dalam ruangan. Jadilah Eza menunggu Wardah selesai.


“Nanti kalau udahan panggil aku di ruangan divisi news ya Mas… Aku sekalian mau nyelesaiin voice over buat tayangan malam nanti,” ujar Wardah.


“Siap Bos!” jawab Eza dengan lantangnya.


Tak lupa ia mengantarkan Wardah ke ruangannya terlebih dahulu sebelum turun menuju ruang rapat. Memasuki ruangannya Sakha sudah disambut oleh para Aunty, Om, dan Ibu-ibu rempong penggemar aktif Sakha. Oke! Dengan adanya mereka Wardah bisa mengerjakan pekerjaannya dengan cepat nanti.


Sakha bermain dengan aunty-aunty yang tengah menganggur. Tersisa seperempat pekerjaan Sakha sudah mulai bosan sepertinya. Ia terus menghampiri Buna-nya. wardah melihat jam tangannya, sepertinya si kecil mulai lapar. Jadilah Wardah memangku Shaka dan memberikannya buah apel untuk ia kes-kes. Mudah saja mengajak Sakha sebenarnya, beri saja ia buah, sudah tenang damai sejahtera menikmatinya.


Sakha asik menikmati buah di tangannya dengan melihat Wardah yang tengah sibuk mengetik di komputernya. Teman-teman Wardah sampai heran melihat Mama Muda itu bisa enjoy in work dengan anak yang anteng di pangkuannya. Bahkan selain menyunting teks berita, ia masih sempat voice over tanpa ada kebocoran suara Sakha sama sekali di dalam rekamannya.


“Daebak! Dari tadi main sama sini teriak-teriak heboh, giliran sama Buna-nya antengnya masyaallah,” celetuk Sisil.

__ADS_1


“Ini Namanya anak yang berbakti pada kedua orang tuanya… Dia tahu Buna-nya lagi cari uang buat dia,” jawab Wardah.


“Apaan! Tadi waktu sama Pak Eza aja ngereok juga,” sambung Sisil lagi.


“Pawangnya kan saya Mbak, hahaha,” jawab Wardah.


Tak terasa, jam makan siang sudah hampir datang. Siang ini yang awalnya Wardah akan kembali mengisi liputan, digantikan oleh presenter lain. Jadilah Wardah memilih untuk stay di ruangannya bersama Sakha yang masih pw (pweenak) di pangkuannya. Satu persatu karyawan keluar untuk mencari makan siang. Tinggallah Wardah dan Sakha yang masih setia menunggu Eza.


Syuut-Syuut!


“Enak bener duduk santai sambal makan buah,” celetuk Eza menghampiri anak dan istrinya.


“Nnak Yah,” ujar Sakha.

__ADS_1


“Enak ya? Ayah boleh minta?” tanya Eza yang kini berjongkok mensejajarkan dengan Sakha.


“Udah selesai meeting-nya Mas? Makan yuk! Aku laper,” ujar Wardah. Sedangkan Sakha sudah menyuapi Ayahnya buah yang ada di tangannya.


“Ayuk! Kita ke café depan kantor aja ya?” jawab Eza yang langsung menggendong Sakha.


Kantor tak ramai seperti pagi tadi. Mungkin karena memang masih jam makan siang, para karyawan keluar. Di dalam lift mereka tak sengaja bertemu dengan Faiz. Sendiri, ntahlah anak itu sering sekali mencari makan sendiri. Padahal ia bisa ikut makan siang bersama rekan kerjanya yang lain.


“Ngapain nggak bareng sama temen-temen kamu yang lain dek?” tanya Wardah.


“Aku tadi pulang dari kampus udah siangan kak, terus langsung nyelesaiin finishing desain buat program baru kak, makanya keluar cari makannya belakangan.” jawab Faiz.


“Tapi tugas kuliah kamu nggak keteteran kan? Ntar kamu malah bingung lagi bagi waktu buat di kantor sama kampus,” tanya Wardah lagi.

__ADS_1


Faiz memang ikut bekerja di kantor Eza sekaligus mengambil kuliah. Eza memberikan waktu fleksibel untuk jam kerja Faiz. Bukan bermaksud memberikan perlakuan khusus, Eza hanya ingin menanamkan kemandirian pada diri Faiz. Memberikan tanggung jawab untuk pekerjaan kantor dan juga tugas belajarnya di kampus.


...Bersambung...


__ADS_2