Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Go


__ADS_3

Untuk mendapatkan izin dari Umi ternyata tak semudah membalikkan tangan. Umi terus saja menanyakan alasan atau ada perihal apa yang membuat sang anak angkatnya itu tiba-tiba meminta izin untuk pulang. wardah pun tak tahu akan menjawab apa. Ia saja tak tahu ada motif apa sebenarnya sang bunda tercinta memintanya pulang.


Akhirnya Umi menelepon Bunda untuk menanyakan secara langsung. Lumayan lama Wardah menunggu Umi berbincang di ruangan beliau. Sedangkan Wardah memilih untuk menunggu di dapur sekaligus membantu mbak-mbak santri memasak untuk ndalem yakni untuk Umi, Abi, dan Gus Hasan.


“Katanya Umi, sampean mau pulang ya Wardah?” Tanya Gus Hasan yang muncul dari kebun samping rumah ndalem.


“Inggih Gus, kok njenengan tahu? Kapan Umi ngomongnya? Perasaan dari tad sama kulo,” Tanya Wardah heran.


“Umi telponan di kebun samping. Sama Abah, gak sengaja dengerin. Hehehe.” Jawab Gus Ahmad yang tengah duduk di meja makan sambil mengambil gelas dan menuangkan air untuk minum.


Sadar tengah menjadi pusat perhatian mbak-mbak santri yang tengah masak, Wardah menyudahi obroannya dengan Gus Hasan. Mbak-mbak santri tak henti-hentinya memberikan sanjungan kepada belia. Maklumlah setiap gus walaupun tak memiliki ketampanan yang hakiki tapi masih saja memiliki aura tersendiri.


“Mbak, kalau sampean belum nikah, pasti Umi bakal jodohin Gus Hasan sama sampean,” Celetuk Amel salah satu mbak-mbak santri yang masak untuk keluarga ndalem.


“Ngomongnya hati-hati lho, jangan-jangan malah sama kamu lagi,” Jawab Wardah yang sukses membuat lawan bicaranya kelabakan salah tingkah.

__ADS_1


“Mbak nih,” Lirihnya yang mnyiratkan semburat merah di pipinya.


Wardah kini sudah berada di kebun pribadi Abah Kyai. Ada Umi, Abah, dan Gus Hasan yang tengah menyirami tanaman yang baru saja di tanam Abah tadi. Wardah kini duduk di sebuah pendopo mungil bersama Umi di sampingnya. Biasanya Cak Ibil ada di sini. Tapi ntah kenapa sejak pagi tadi mengajar, Wardah tak melihat batang hidungnya. Untung saja semalam setelah menelepon Umi, Cak Ibil langsung mengizinkan.


“Pulanglah nduk. Hati-hati... Salam untuk Bundamu yaa,” Ujar Umi sembari mengelus lembut tangan Wardah.


“Biar di antar Hasan sama Ibil yaa, kasihan kalau harus pakai bus. Pasti rame, inikan hari libur,” Sambung Umi.


“Ndak usah Mi, tanggug jawab Mas Aibil di pesantren ini juga ada. Wardah bisa menjaga diri kok Mi. Biasanya juga pulang sendiri sebelum nikah,” Jawab Wardah dengan hati-hati.


“Sama Mas Aibil saja Mi,” Lirih Wardah.


“Ibil lagi keluar cari setok kitab di Surabaya nduk, gak pamit sama kamu ta? oalah, Ibil-Ibil” Ujar Umi yang mengambil handphone nya. Sepertinya beliau mengetikan sesuatu di handphone itu.


Tiba-tiba Wardah mencegah Umi, digenggamnya tangan Umi agar berhenti mengetikkan sesuatu di gawainya.

__ADS_1


“Tidak usah di telepon Mas Ibilnya Umi, mungkin tadi Wardah masih di luar waktu Mas Ibil mau pamitan. Oh, ini ternyata Mas Ibil sms ke Wadah,” Ujar Wardah yan seolah-olah melihat ke gawainya.


“Ya sudah, sana siap-siap. Hasan! Siap-siap Lee! Antarkan Wardah ke stasiun!” Ujar Umi sedikit keras kepada anaknya yang masih menyiram tanaman.


“Nggeh Mi, sebentar lagi selesai nyiramnya. Habis itu langsung mandi.” Jawab Gus Hasan.


Wardah pamit undur diri untuk bersih-bersih mandi dan yang lainnya. Barang-barangnya sudah disiapkan sejak subuh tadi. Tak banyak yang ia bawa, hanya satu tas ransel untuk dua setel baju dan sisanya nanti ia akan meminta pada Gus Hasan untuk berhenti ke pusat oleh-oleh terlebih dahulu.


Jika melihat Wardah yang memakai tas ransel, orang-orang aka mengira bahwasanya ia seorang santri yang akan pergi liburan atau pulag kampung karena libur. Gadis mungil dengan membawa tas ransel yang dulu dikenakannya untuk sekolah dan kuliah masih sering digunakannya ketika akan pulang ke rumah Bunda dan kakaknya.


“Ganti tas yang lebih modis gitu lho Dah! Tasmu kok kayak punya anak-anak sekolah sih,” Celetuk Gus Hasan yang sudah nengkreng di belakang kemudi mobil ndalem.


“Manfaatkan yang ada Gus, ndak boleh boros. Ini lho dulu yag paling bagus pada masanya,” Jawab Wardah yang masuk ke mobil di samping Gus Hasan. Wardah mengajak Amel dan Rika untuk menemaninya. Sengaja memang, takutnya jika orang-orang berfikiran aneh-aneh jika ia hanya berduaan dengan Gus Hasan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2