
Selama siaran, Wardah tak memegang gawai sama sekali. Barulah setelah kembali ke ruangan divisi news ia membuka. Ia dikagetkan dengan panggilan tak terjawab berjumlah 14 dari Anisa. Sontak Wardah segera membuka apk Whatsaap. Panggilan tak terjawab dari Farhan, Anisa, Umi, dan Bundanya. Seperti buronan saja ia kali ini.
"Wardah, sepertinya aku mau lahiran hari ini, perutku udah mules-mules,"
"Daaah, ke siniii... Pliiiisss!"
Begitulah chatingan dari sahabatnya. Bukan hanya dari Anisa, Farhan, Umi juga. Bahkan Bunda juga sudah tahu. Ia menyesal tak membawa gawainya di studio kali ini.
Cklek!
Para penghuni ruangan terkejut mendengan pintu yang terbuka dengan paksa. Eza di sana. Kemudian ia berjalan ke meja Wardah dan,
"Ayo ke Jombang sekarang!" tegasnya sembari menggandeng lengan Wardah yang berlapiskan kain bajunya.
Wardah yang awalnya bingung hendak bagaimana, kini hanya mengikuti Eza. Tak lupa ia menyambar tasnya. Ia yakin benar rekan kerja dan pekerja yang lain menatap mereka dengan heran pula.
"Mas udah tahu kalau Anisa mau lahiran?" tanya Wardah ketika mereka sudah berada di lift.
"Iya, barusan Mas Farhan nelpon. Mereka telepon kamu tapi nggak diangkat. Bunda juga udah siapin barang-barang kita untuk keberangkatan," jawab Eza.
"Aduuuhhh, Aku nggak bawa hp dari tadi," lirih Wardah.
__ADS_1
"Ya udah nggak papa, kata Mas Farhan juga belum ada pembukaan untuk Mbak Anisa," jawab Eza sembari mengelus lembut kepala Wardah yang berbalut jilbab.
"Mas! Adek belum izin! Besok kalau belum pulang gimana?" kepanikan Wardah mulai lagi.
"Tenaang, jangan panik Ay. Biar Mas yang izinin,"
......................
Sampai di apartemen, Bunda sudah siap dengan tiga koper. Milik Wardah, Bunda, dan Alif. Sekaligus mengantarkan Alif ke pesantren. Eza menitipkan sandangannya di koper Alif. Karena memang Alif akan ke Jombang terlebih dahulu. Barang bawaan Alif yang tak banyak menjadikan alasan Eza untuk menggabungkan. Agar lebih simpel.
Liburan Alif memang tergolong lama. Karena ditambah izinnya karena belum mau ke pesantren. Dengan susah payah Mama Sarah membujuk agar segera berangkat. Akhirnya Papa dan Bunda juga ikut andil.
Sepertinya Wardah memang senang merangkul lengan orang saat berjalan. Lihat saja itu! Dengan posesifnya ia merangkul lengan Bunda tanpa melepaskan sedikit pun. Sedangkan Eza dan Alif bertugas membawa koper-koper. Untung saja hanya sampai tempat penitipan bagasi, jadi tak perlu susah-susah membawa lagi.
"Dek, duduk sama Eza gih! Bunda mau sama Alif," ujar Bunda kemudian berlalu.
Spontan Eza memberikan dua jempolnya kepada Bunda. Lucunya, Bunda membalas dengan kedipan mata sebelah untuk Eza. Wardah bengong sendiri melihatnya. Siapa yang mengajari sang Bunda seperti itu Masyaallah.
Tepat kali ini Eza yang mendapatkan tempat di samping jendela. Wardah menarik baju Eza mencegahnya untuk duduk. Ia memasang wajah muram pada Eza.
"Kenapa sih Dek? Mau duduk di situ?" tanya Eza. Wardah mengangguk dengan antusiasnya.
__ADS_1
"Ya udah sana," tak ada pilihan lain selain mengalah.
"Nggak ngantuk apa?" tanya Eza.
"Nggak," jawab Wardah. Ia masih asik memotret awan-awan cantik dari jendela sebelahnya.
Padahal Eza sudah mengantuk berat.
Bruk!
Kepala Eza sudah bertengger dengan nyamannya di pundak Wardah.
Dug! Dug! Dug!
Jantung Wardah berpacu dua kali lipat dari awalnya. Posisi ini membuat Wardah terdiam membisu tak berani berkutik. Wardah dapat melihat dengan jelas wajah tenang seolah tanpa beban itu.
Hati Wardah mengarahkan jemarinya untuk mengelus lembut pipi itu. Lihatlah! Sangat mulus dan bersih. Hanya bulu halus di bawah hidungnya. Yakinlah jika itu belum dicukur oleh sang empunya.
...Bersambung ...
...Maafkan Lhu-Lhu yang upnya sedikit. Lhu-Lhu lagi banyak tugas gaeesss ...
__ADS_1