Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Nyaris


__ADS_3

Maaf telat upnya gaess.... Minta bantuan like, komen, vote, dan hadiahnya gaesss....


Ayo dong! Semangatin Lhu-Lhu!


Lhu-Lhu sedang berusaha ikut lomba kategori wanita + merubah takdir di Noveltoon.... Mohon doanya gaess, lagi nunggu keputusan dari editor agar masuk daftar entri.



...Bismillahirahmanirahim. Ini karya Lhu-Lhu nantinya gaess. Mau dilanjutkan setelah masuk daftar entri. Mohon doanya.... ...


Pagi ini Wardah dan Eza sudah siap dengan barang-barang bawaan dan oleh-oleh kembali ke Jakarta. Penerbangan mereka bertepatan saat sore hari. Oke! Eza bisa mengajak Wardah jalan-jalan terlebih dahulu.


Eza sudah siap dengan setelan cassualnya. Ia sudah siap, tapi masih saja stay di depan cermin. Ntah apa yang dilihatnya.



"Ngapain sih Mas?" tanya Wardah heran.


"Ini ada jerawat rese!" gerutu Eza.


"Astaghfirullah, kirain ada apaan! Nggak nampak kok. Masih tetep ganteng suaminya akuu," jawab Wardah mendekati Eza.


"Udah ih! Jangan ngaca mulu... Nanti malam kita maskeran, biar cepet minggat jerawatnya," bujuk Wardah menangkup wajah Eza.


Diciumnya pipi kanan kiri Eza agar fokusnya beralih kepada dirinya. Bukan pada jerawat tak beradab itu. Jangan sampai jalan-jalannya tertunda gara-gara mood suaminya yang jelek. Eza tersenyum manis menanggapi Wardah.


"Ayo, kita berangkat..." ujar Eza.


Akhirnya mood-nya bisa dikendalikan. Digenggamnya jemari Wardah keluar dari villa. Sudah tersedia mobil super mefwaah di depan pintu masuk.



Wardah terheran-heran sudah ada mobil itu di depan villa. Setahunya hanya ada 3 mobil untuknya dan rekan-rekan yang lainnya.


Tanpa sepengetahuan Wardah, Eza meminta kepada Hito untuk menyiapkan mobil sesuai kehendaknya. Hito yang mendapatkan intruksi itu bingung setengah mati. Bingung hendak mencari kemana mobil dengan keinginan Eza. Mengingat jika sekarang ini mereka tengah berada di desa. Mana ada tempat penyewaan mobil seperti itu.


Caca ikut bingung yang kini bersama pacarnya. Beberapa kali ia menelepon kenalannya di kota tempat mereka liburan. Tapi itu semua nihil. Jalan satu-satunya kini adalah menelepon Bos besar. Siapa lagi kalau bukan Ayah Eza?

__ADS_1


"Oke! 30 menit lagi akan sampai di villa," ujar Ayah dari sebrang telepon.


Begitulah kira-kira cuplikan Kebingungan Caca dan Hito. Benar saja, dalam waktu kurang dari 30 menit sudah sampai mobil itu.


Eza keluar dengan mood yang kembali baik. Melihat pekerjaan sahabatnya dituntaskan dengan baik sontak Eza menepuk pundak Hito. Tanda jika dirinya puas. Eza yang melihat ada bodi guard sang Ayah lantas melirik ke Hito.


"Sudah kuduga, pasti akhirnya ngadu ke Ayah," celetuk Eza.


"Yang bener aja Lu minta mobil ginian disini," protes Hito.


"Udah sono pergi! Masih mending dikabulin sama si Bos! Kita tunggu di bandara nanti. Awas telat!" sambung Caca yang juga gedeg dengan Eza.


"Ayuk Ay!" ajak Eza menggenggam jemari Wardah.


Dibukakannya pintu itu untuk Wardah. Saatnya berliburrrr! Mereka menjadi pusat perhatian setiap irang saat ini. Tentu saja warga terkagum-kagum melihat mobil canggih itu. Didesa seperti ini bahkan tak ada mereka melihat sebelumnya.


Tujuan Eza yang pertama adalah pusat perbelanjaan oleh-oleh. Wardah belum membelikan untuk dua ponakan tercinta. Siapa lagi kalau buka Inayah dan Dinda? Wardah mengambil beberapa dress couple, sepatu, dan aksesoris unik lainnya. Sengaja memilih masing-masing dua, agar keduanya tak berebut nantinya.


Siap dengan banyak paper bag untuk dua krucil, kini Wardah dan Eza beralih ke kedai guci. Mama dan Bunda pasti senang jika melihat guci-guci yang berjejer dengan cantiknya.


"Pilih aja Ay, nanti biar dipacking," ujar Eza saat tahu jika istrinya bimbang.


Eza tertawa mendengar pertanyaan istrinya.


"Sekarang sudah banyak ekspedisi pengiriman barang Ay," jawab Eza.


"Iya juga yaa," gumam Wardah.


Dengan semangatnya Wardah memilih beberapa guci dan pajangan yang menurutnya comel. Terserah nanti mau ditaruh dimana oleh Mama, yang jelas ia ingin memberikan oleh-oleh lagi. Wardah dan Eza beralih yang tengah asik memilih barang terusik dengan teriakan orang-orang di belakang mereka.


"Awas Mbak! Awas Mas!"


"AAAAA!!!"


"AWAASSS!!!"


Dengan sigapnya Eza menarik Wardah ke dalam pelukannya dan menyingkir dari tempatnya tadi.

__ADS_1


PYAARRR!!!


Kepingan kaca berceceran dimana-mana. Seorang perempuan dengan pakaian dan penampilan acak-acakan baru saja hendak memukul Wardah menggunakan balok kayu di tangannya. Bukan hanya sampai disitu. Wanita itu kembali melanjutkan aksinya hendak memukul Wardah yang ada di pelukan Eza. Tangannya dengan sigap menahan kayu itu yang nyaris kembali mengenai Wardah.


Wardah menggenggam erat baju Eza. Ia benar-benar takut saat ini. Ia memang tak bisa melihat sang pelaku, karena Eza memeluknya erat. Tapi ia bisa merasakan ketegangan Eza dan kegaduhan di sekitarnya.


Beruntung segera datang pihak keamanan di pasar oleh-oleh ini. Ini tak bisa ditolerir. Bagaimana mungkin tiba-tiba ada penyerangan di tempat umum seperti ini?


"Mas, tangannya," lirih Wardah saat menyadari jika telapak tangannya berdarah.


"A'm Oke!" jawab Eza dengan senyuman manisnya.


Pemilik kedai benar-benar memohon maaf kepada Eza dan Wardah. Beliau sendiri tak tahu jika akan ada kejadian seperti ini. Ibu itu memberikan penjelasan jika pelaku tadi adalah seorang warga yang memiliki gangguan jiwa.


Wardah mengobati telapak tangan Eza sembari mendengarkan cerita ibu pemilik toko. Di sana juga ada ketua kemanan di pasar oleh-oleh. Eza tak mau diajak ke kantor pusat, jadilah mereka berdiskusi di kedai tempat lokasi. Di sana juga sudah ada pihak berwajib.


"Kalau wanita itu memiliki gangguan jiwa, kenapa harus istri saya yang dia serang?" tanya Eza merasa jika kejadian ini sungguh janggal.


"Sekali lagi kami dari pihak keluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Mbak dan Mas. Kami sudah mengamankan Siti, tapi ntah bagaimana dia bisa kabur karena kelalaian kami," ujar seorang bapak-bapak.


"Kenapa tidak dicoba untuk berobat Pak? Mbak Siti membutuhkan pendampingan," tanya Wardah yang tak tega mengetahui jika orang itu di kurung di kamar.


"Sudah Mbak, apa daya kami yang orang desa hanya menjadi buruh tani. Mana sanggup jika terus-terusan menempatkan Siti di RSJ. Warga desa juga sudah berbondong-bondong membantu, tapi ya tetap saja tidak bisa terus-terusan," jawab Bapak itu.


"Baik, saya rasa cukup sampai di sini saja. Saya sudah memaafkan tindakan itu. Saya dan istri pamit undur diri," pamit Eza sembari menggenggam jemari Wardah.


Eza menyelesaikan perbincangannya dengan pemilik kedai, kemudian mengajak Wardah pergi. Ia serahkan urusan itu kepada orang suruhan Papanya. Baru saja papanya menelepon dan meminta agar urusan itu diserahkan kepadanya.


"Mas, tangannya nggak Papa nyetir lagi? Atau kita minta sama Pak Samsul untuk nyetir?" tanya Wardah khawatir.


"Nggak papa Ay, A'm Oke," jawab Eza yang kini masih menggenggam jemari Wardah.


Sepanjang perjalanan tak ada percakapan sama sekali. Wardah tak berani memulai perbincangan. Takut jika salah bicara, malah memperkeruh suasana. Hanya elusan lembut dari Eza yang masih aktif di jemari Wardah.


"Ay? Ada yang mengganggu pikiran? Cerita Ay," ujar Eza akhirnya. Sedari tadi Eza memperhatikan Wardah yang melamun.


"Aku pengen bantu keluarga Mbak Siti Mas," lirih Wardah.

__ADS_1


"Kita bicarakan dengan Papa nanti," jawab Eza mencium punggung tangan Wardah.


...Bersambung...


__ADS_2