Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Siapa?


__ADS_3

Puas beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke posko selanjutnya. Jika tadi mereka berjalan di jalan setapak, mulai dari posko ini jalanan mulai lebar. Akan tetapi masih menanjak. Eza bersikeras menggendong Wardah. Meski Wardah sendiri sudah menolaknya.


Jadilah kini Eza menggendong ranselnya di depan, dan Wardah di belakang.


"Aku jalan aja Mas, nanti kalau Mas yang kecapaian gimana?" ujar Wardah.


"Gendong kamu kayak gini tu nggak kerasa Ay. Hahaha," jawab Eza.


Wardah sontak memukul pundak Eza. Bisa-bisanya Eza body shiming terhadap istrinya sendiri. Tak berselang lama mereka bertemu dengan beberapa penduduk desa yang menawarkan tumpangan dengan gerobak yang dibawa. Eza yang merasa kasihan sontak meminta Wardah untuk menggunakan jasa itu.


"Pak, saya berat ya?" tanya Wardah yang kini duduk di gerobak.


"Nggak Neng," jawab bapaknya.


"Kalau berat, sayanya jalan aja nggak papa Pak... Kasihan Bapaknya," ujar Wardah lagi.


"Lho! Jangan Neng. Saya ndak keberatan kok." jawab bapaknya.


"Kan udah dibilangin, nurut sama suami. Kita bantu bapaknya biar dapet rezeki," sambung Eza.


"Tenang aja Neng, Bapak kuat kok!" ujar bapaknya lagi.


Dari perbincangan itulah Wardah akhirnya diam menurut. Menikmati pemandangan indah posko 4 yang sudah terlihat tapi masih panjang perjalanannya. Eza masih tetep menggenggam jemari Wardah selama perjalanan.Kurang lebih 45 menit, sampailah mereka di posko 4. Sebuah danau berwarna biru yang sudah memanjakan mata Wardah.


"Terima kasih ya Pak," ujar Wardah kepada bapak yang membawanya tadi.


Wardah sontak berlari ke pinggir danau itu. Tunggu! Sepertinya itu lebih tepat jika disebut telaga. Telaga Biru. Begitulah yang tertulis di sebuah papan tadi. Wardah yang hendak mengambil air dicegah oleh Eza


"Jangan nyentuh air sembarangan. Ada aturannya di sini Ay," ujar Eza.

__ADS_1


Wardah menciut seketika. Ia takut jika sudah berhubungan dengan hal-hal mistis. Sontak Wardah memeluk lengan Eza.


"Kita briefing dulu aturan di tempat ini ya?" ajak Eza.


Wardah mengangguk menuruti Eza. Mereka berkumpul tepat di depan posko 4. Sudah ada beberapa petugas di posko ini yang akan menjelaskan apa saja yang boleh, dan yang tidak boleh dilakukan di tempat ini.


"Jangan sekali-kali mengambil air di telaga dengan tangan kosong. Keram nanti tangan kalian. Karena suhu air di telaga ini cukup ekstrim," ucap petugas sosialisasi.


Setelah mendengarkan penjelasan cukup lama, kini saatnya mereka mendirikan tenda masing-masing. Eza tampak cekatan memasang tenda untuknya dan Wardah. Wardah membantu Eza mengambilkan peralatan yang dibutuhkan. Beruntung Wardah dulu sempat mengikuti pramuka, jadi ia tak terlihat payah bangetlah. Hahaha.


Akhirnya selesai juga tenda mereka. Wardah merebahkan dirinya di dada Eza. Ia tak berjalan, tapi rasanya capek juga. Eza menutup tendanya kemudian kembali berbaring. Merubah posisi Wardah agar berbantalkan lengannya tak lupa memeluknya.


"Mas, padahal aku pengen main air di telaga itu," celetuk Wardah.


"Bisa beku kalau suhunya ekstrim kamunya," jawab Eza mengeratkan pelukannya.


Terdengar suara Eza sudah melemah karena capek. Wardah mendongak melihat suaminya. Ternyata sudah tertidur pulas. Wardah mendusel ke pelukan Eza untuk mencari kehangatan. Akhirnya ikut tertidur.


🌾🌾🌾


Caca tampak terbengong sesaat melihat Eza ada bersama Wardah. Pasalnya ia tadi melihat Eza ada bersama yang lainnya menyiapkan api unggun. Ia juga sempat mengajak Eza berbincang, tapi responnya cuek tak seperti biasanya. Karena itu Caca menyusul Wardah hendak melaporkan perlakuan Eza itu. Sekaligus mengajak Wardah memasak.


"Busyeet! Ni bocah malah enak-enakan kelonan di tenda! Yang lain sibuk ngurus api unggun," ujar Caca menepis pikirannya.


Eza yang terbangun sontak mengisyaratkan Caca agar memelankan suaranya. Caca memutar bola matanya jengah.


"Tunggu-tunggu! Tadi gua liat, elu lagi nyusun kayu bakar. Lha sekarang ada di sini," ujar Caca bingung sembari celingak-celinguk melihat ke arah anggota mereka yang menyiapkan api unggun. Dan di sana tak ada Eza.


"Nggak usah ngarang! Gua dari tadi tidur di sini sama bini gua," jawab Eza.

__ADS_1


Eza membenarkan posisi tidur Wardah. Menggantikan lengannya dengan jaketnya yang dilipat. Tapi sang empunya malah terbangun.


"Bangun we!" seru Caca menggoyangkan kaki Wardah.


"Pelan-pelan Ca! Jangan gitu dong!" cegah Eza.


"Ape Lu? Seneng gua dimarahin Eza?" tanya Caca yang melihat Wardah meringis melihatnya dan Eza.


Wardah tersenyum geli melihat Eza memarahi Caca. Membenahi jilbabnya sekaligus mengumpulkan nyawanya. Eza pamit pergi dulu ikut berkumpul dengan yang lain. Sedangkan Caca mengantarkan Wardah mencuci muka di tempat yang sudah disiapkan oleh anggota yang lain. Sebuah galon yang terisi penuh airnya. Setidaknya tidak begitu dingin dibandingkan dengan air yang masih di telaga.


Barulah Wardah mengikuti Caca ke tenda khusus dapur mereka. Menyiapkan makanan untuk malam nanti.


"Serius deh Dah, aku tadi lihat Eza bantu nyiapin api unggun. Tapi waktu manggil kamu, ternyata Eza ada sama kamu," ujar Caca sembari mengulek cabai.


"Iihhh! Kamu-kan tahu aku takut begituan, nggak usah cerita sama aku! Dari tadi, aku memang sama Mas Eza kok. Salah lihat mungkin kamunya," bantah Wardah.


Bisa-bisanya di tempat seperti ini Caca bercerita hal itu. Wardah merinding sendiri dibuatnya. Sontak Wardah celingak-celinguk melihat sekeliling. Cukup ramai tempat ini. Jadi tak perlu takut. Batinnya menenangkan diri. Meski sebenarnya di dalam hatinya terus melantunkan ayat-ayat Al-Quran.


🌾🌾🌾


Siap dengan masakannya, Wardah dan Caca segera membersihkan diri. Mereka harus segera melaksanakan sholat asar. Beruntung di telaga ini sudah tersedia kamar mandi. Jadi tak bingung hendak mandi atau tidak. Hahaha.


Selepas mandi, kini saatnya menikmati senja sore. Wardah dan Eza mulai beraksi dengan kamera mereka. Pemandangan secantik ini tak boleh terlewatkan. Sayang. Eman-eman kalau kata orang jawa. Berbagai pose mereka peragakan semua. Berhubung di kawasan ini tak ada sinyal, Eza tak bisa update status seperti biasanya. Ia hanya bisa menyimpan beberapa video dan foto untuk update-an setelah menemukan sinyal.


🌾🌾🌾


Hingga malam tiba, tepatnya setelah sholat maghrib, rombongan mereka mengaji bersama di tengah lapang. Sukses membuat para pendaki lain terheran-heran bahkan terkagum-kagum. Tak jarang, mereka juga mengabadikan kegiatan langka ini. Bukan hanya saat mengaji, saat sholat berjamaah saja para pendaki lain juga tampak heran.


Setelah sholat isya' barulah acara senang-senang mereka. Berbagai permainan, penampilan atau pertunjukan juga disajikan. Bersamaan dengan mereka yang mengelilingi api unggun.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2